Ribuan Warga Prancis Gelar Aksi Solidaritas Korban Penembakan Rasis

- Ribuan warga Trappes menggelar aksi solidaritas mengenang Pengo Bossio Wangi yang tewas dalam penembakan bermotif rasis, serta tujuh korban luka termasuk anak perempuan 12 tahun.
- PNAT mendakwa Kevin T dengan terorisme setelah ia mengaku merencanakan serangan yang menyasar warga Muslim dan keturunan Afrika; polisi menyita senjata, bom rakitan, serta barang bukti lain.
- Penembakan ini memperuncing debat rasisme menjelang pemilihan presiden Prancis, dengan Macron mengkritik RN dan kubu partai tersebut membantah keterlibatan dalam aksi teror.
Jakarta, IDN Times - Ribuan orang berkumpul di Trappes, kawasan barat daya Paris, pada Jumat (30/10/2026) petang untuk mengenang para korban penembakan maut sepekan sebelumnya. Aksi kekerasan bermotif rasis tersebut menewaskan satu orang dan melukai tujuh orang lainnya setelah pelaku sengaja mengincar warga keturunan Afrika serta komunitas Muslim.
Tragedi ini memicu perdebatan sengit di panggung politik dan media terkait isu rasisme serta diskriminasi. Situasi di Prancis kian memanas di tengah keresahan masyarakat, beberapa bulan menjelang pemilihan presiden mendatang.
1. Aksi damai warga Trappes menolak kebencian rasial
Warga memadati kawasan Place des Mérisiers untuk mengenang Pengo Bossio Wangi (26), atlet bela diri campuran yang tewas ditembak di dekat Square Louis-Pergaud. Tembakan dari dalam mobil pelaku juga melukai tujuh orang, termasuk seorang anak perempuan berusia 12 tahun.
Pimpinan lembaga swadaya masyarakat lokal Aider, Imad, menegaskan bahwa aksi solidaritas ini mencerminkan persatuan warga dalam melawan ekstremisme. Dalam orasinya, Wali Kota Trappes Ali Rabeh turut memperingatkan bahaya penyebaran narasi kebencian di tengah masyarakat.
"Buka mata kita bersama. Pelaku tidak memilih korban secara acak, dan kebencian itu tidak muncul dengan sendirinya melainkan sengaja ditanamkan," ujar Ali Rabeh, dilansir Miami Herald.
2. Hasil penyidikan terhadap tersangka penembakan
Kejaksaan Antiterorisme Nasional (PNAT) mendakwa Kevin T (39) dengan pasal terorisme setelah ditangkap di kawasan Coignières. Tersangka mengaku telah merencanakan aksinya sejak September dengan memodifikasi senjata otomatis era Perang Dunia II, serta membawa atribut polisi palsu dan borgol.
"Tersangka mengakui secara sadar mengincar korban berlatar belakang Muslim atau keturunan Afrika di Trappes karena menganggap wilayah tersebut sebagai basis kelompok Islamis," ungkap jaksa antiterorisme Olivier Christen.
Saat menggeledah rumah tersangka di Plaisir, polisi menyita buku Mein Kampf karya Adolf Hitler, bom rakitan dengan pengatur waktu, serta stiker partai sayap kanan National Rally (RN). Kendati demikian, Kevin T berdalih bahwa dirinya bukan anggota partai politik mana pun.
3. Memanasnya tensi politik Prancis jelang pemilihan presiden
Peristiwa penembakan di Trappes kian memperuncing gesekan politik menjelang pemilihan presiden Prancis musim semi mendatang. Presiden Emmanuel Macron mengecam partai sayap kanan National Rally (RN) karena dinilai memperkeruh iklim sosial dengan memicu sentimen rasisme.
Sebaliknya, kubu RN membantah keterkaitan partainya dengan aksi teror tersebut. Melalui siaran televisi TF1, politisi RN Jean-Philippe Tanguy justru menuding balik kepemimpinan Macron selama sembilan tahun terakhir gagal meredam kebencian dan perpecahan sosial di masyarakat.
Kelompok masyarakat sipil dan pegiat antirasismus kini terus meningkatkan kewaspadaan, sementara aparat penegak hukum memastikan proses peradilan terhadap tersangka berjalan tuntas demi keadilan para korban.






















