Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Prancis Tangkap Tersangka Pembakaran Balai Kota Bersejarah di Limoges

4 min read
Prancis Tangkap Tersangka Pembakaran Balai Kota Bersejarah di Limoges
Balai Kota Limoges, Prancis (Oooer, CC0, via Wikimedia Commons)
  • Prancis menangkap pria 40 tahun yang diduga membakar Balai Kota Limoges, bangunan bersejarah abad ke-19, saat kerusuhan dalam gelombang demonstrasi nasional.
  • Tersangka berstatus pantauan keamanan dan diduga terkait ekstrem kiri; kepolisian antiterorisme menyelidiki kasus, sementara jaksa mempertimbangkan klasifikasi serangan teror.
  • Kebakaran merusak parah balai kota; kerusuhan nasional memicu lebih dari 2.500 penangkapan, melukai sekitar seribu polisi, serta mendorong penerapan jam malam di sejumlah kota.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pasukan keamanan Prancis menangkap seorang pria yang diduga membakar balai kota bersejarah di Limoges, Prancis bagian tengah, pada Selasa (20/10/2026). Pria yang diyakini berafiliasi dengan gerakan ekstrem kiri itu diamankan setelah bangunan dari abad ke-19 tersebut terbakar hebat pada Sabtu. Insiden pembakaran ini terjadi di tengah kerusuhan yang mengiringi demonstrasi nasional terkait lonjakan biaya hidup dan buruknya fasilitas sekolah.

Kepolisian antiterorisme Prancis turut diterjunkan untuk menyelidiki dugaan pembakaran yang meruntuhkan bagian atap dan menara lonceng gedung tersebut. Kehancuran balai kota yang berdiri sejak 1883 ini menjadi simbol kerusuhan terparah selama gelombang unjuk rasa yang telah berlangsung empat pekan. Peristiwa tersebut juga mengingatkan warga Prancis pada tragedi kebakaran Katedral Notre-Dame di Paris pada April 2019.

  1. 1. Tersangka telah masuk daftar pantauan keamanan

    ilustrasi protes di Paris, Prancis.
    ilustrasi protes di Paris, Prancis. (unsplash.com/Hendrik Schuette)

    Kantor kejaksaan Limoges menyatakan bahwa tersangka berusia 40 tahun itu ditangkap oleh unit kepolisian khusus RAID di Kota Val d'Issoire. Pria tersebut sebelumnya telah masuk dalam daftar pantauan keamanan Prancis dengan klasifikasi subjek S yang menandakan potensi ancaman keamanan nasional. Ia juga tercatat pernah melakukan tindak kekerasan terhadap pejabat publik serta memiliki kaitan dengan kelompok ekstrem kiri.

    Sub-Direktorat Antiterorisme Prancis (SDAT) yang merupakan cabang dari kepolisian yudisial kini dilibatkan untuk mengusut kasus tersebut lebih lanjut. Menteri Kehakiman Prancis, Gerald Darmanin, menyampaikan pada Senin malam bahwa jaksa antiterorisme akan segera memutuskan status penyelidikan insiden itu sebagai dugaan serangan teror. Ia juga meminta jaksa bertindak tegas tanpa kompromi terhadap para perusuh yang menyerang aparat, menjarah toko, dan merusak fasilitas publik.

    "Jika mereka mengambil alih kasus ini, itu berarti tindakan tersebut adalah aksi terorisme. Hal ini mengimplikasikan bahwa individu tertentu dari kelompok ekstrem kiri dengan jelas mengorganisir penghancuran balai kota ini," ujar Darmanin, dilansir Euronews.

  2. 2. Balai kota rusak parah, wali kota kecam respons lambat aparat

    ilustrasi protes di Paris, Prancis.
    ilustrasi protes di Paris, Prancis. (unsplash.com/Norbu GYACHUNG)

    Bangunan Balai Kota Limoges yang ditetapkan sebagai monumen bersejarah pada 1975 mengalami kerusakan yang sangat parah akibat kebakaran tersebut. Kerusuhan pada Sabtu itu melibatkan sekitar 5 ribu pengunjuk rasa, termasuk 700 orang yang digambarkan otoritas setempat sebagai kelompok radikal dan brutal. Sehari setelah insiden pembakaran, sekitar 7 ribu warga turun ke jalan pada Minggu malam untuk menggelar aksi damai mengecam kekerasan tersebut.

    "Atapnya telah runtuh menimpa lantai bawah kecuali bagian sayap barat, dan dua pertiga bagian luar gedung telah lenyap. Ini adalah tindakan disengaja oleh para perusuh dan merupakan bencana bagi warisan sejarah," kata Maurice Barate, kepala prefektur setempat, dilansir Fox News.

    Wali Kota Limoges dari sayap kanan, Guillaume Guerin, mengecam respons kepolisian yang dinilai mundur saat menghadapi para perusuh. Ia menilai aparat kekurangan sumber daya dan menyebut negara telah gagal melindungi kota tersebut. Guerin mendesak pemerintah pusat untuk segera mengucurkan dana jutaan euro guna membangun kembali balai kota, sementara Perdana Menteri Sebastien Lecornu dijadwalkan mengunjungi Limoges pada Jumat (23/10/2026).

  3. 3. Kepolisian Prancis tangkap ribuan orang terkait kerusuhan

    Ilustrasi bendera Prancis
    Ilustrasi bendera Prancis. (unsplash.com/Rafael Garcin)

    Protes yang awalnya dipicu oleh tuntutan pelajar terkait kondisi sekolah sejak bulan lalu kini meluas setelah mendapat dukungan serikat pekerja. Ratusan ribu warga turun ke jalan memprotes kenaikan harga bahan bakar dan biaya hidup, tetapi aksi tersebut berujung pada pembakaran mobil serta penjarahan di Paris, Marseille, dan kota lainnya. Kamar Dagang dan Industri Prancis (CCI) mencatat lebih dari 2 ribu toko dan tempat usaha terdampak langsung oleh kerusuhan sepanjang akhir pekan.

    Otoritas Prancis melaporkan lebih dari 2.500 orang telah ditangkap dan lebih dari 120 orang di antaranya resmi ditahan menyusul kerusuhan tersebut. Bentrokan ini juga menyebabkan sekitar seribu personel kepolisian terluka dan seorang demonstran kehilangan tangannya akibat ledakan granat pengendali massa. Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nunez, sempat mengakui bahwa polisi kehilangan kendali di beberapa kota dan mengajukan pengunduran diri pada Senin, tetapi ditolak oleh Presiden Emmanuel Macron.

    Pemerintah akhirnya memberlakukan jam malam terarah sejak Senin di sejumlah titik pusat Kota Paris, seperti Place de la Republique dan Les Halles. Pembatasan pergerakan warga muda dan kerumunan massa juga diterapkan di Marseille, Bordeaux, Nice, Lyon, hingga Lille yang membuat situasi malam hari kembali tenang. Langkah pengamanan ini terus dievaluasi oleh kepala daerah setempat mengingat kelompok Rompi Kuning dan penyelenggara protes telah menyerukan demonstrasi gelombang kedua pada Sabtu mendatang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More