Comscore Tracker

Magdalena Andersson: Perdana Menteri Baru Swedia

Sempat mengundurkan diri karena koalisinya runtuh

Jakarta, IDN Times - Swedia memiliki perdana menteri (PM) baru. Namanya, Magdalena Andersson. Dia berasal dari Partai Sosialis Demokrat dan menjadi perempuan pertama yang mendapatkan posisi pada jabatan tersebut.

Keterpilihan Andersson penuh gejolak. Ini karena partai koalisi yang dibangun oleh Sosial Demokrat runtuh. Dua partai koalisi tersebut adalah Partai Tengah dan Partai Hijau. 

Partai Tengah menolak proposal anggaran dari Andersson, sedangkan Partai Hijau memutuskan mundur dari pemerintahan. Kurang dari 12 jam setelah Andersson terpilih sebagai PM, dia memutuskan mundur. Tapi lima hari kemudian, ia terpilih kembali sebagai Perdana Menteri Swedia.

1. Jebolan universitas bergengsi yang mengenal pergerakan politik sejak sekolah menengah

Magdalena Andersson: Perdana Menteri Baru SwediaMagdalena Andersson (kiri) (Twitter.com/SwedishPM)

Nama aslinya Eva Magdalena Andersson. Dia lahir pada tanggal 23 Januari 1967. Perempuan yang kini berusia 54 tahun tersebut, pada dasarnya adalah seorang ekonom, sebelum akhirnya terjun ke dunia politik.

Andersson adalah putri tunggal dari Goran Andersson. Ia lulus SMA untuk belajar ilmu sosial dan lulus dengan hampir mendapatkan nilai tertinggi untuk semua kelasnya. Pada era ini, dirinya telah memasuki dunia pergerakan politik dengan bergabung Liga Pemuda Sosial Demokrat (SSU).

SSU adalah salah satu cabang dari partai Sosial Demokrat yang menjadi wadah bagi anak-anak muda. Dalam laman resminya, SSU mengklaim sebagai sebuah organisasi yang independen dengan visi dunia adalah di mana semua orang diberi kesempatan untuk mewujudkan impian terdalam mereka.

Setelah itu, dia masuk di Stockholm School of Economics, salah satu universitas bergengsi di Swedia. Dia lulus pada tahun 1992 dengan gelar master di bidang ekonomi. Pada masa mudanya, menurut Reuters, Andersson adalah seorang perenang elit.

2. Menjadi Menteri Keuangan yang kompeten

Magdalena Andersson: Perdana Menteri Baru SwediaMagdalena Andersson berjalan paling depan bersama kabinetnya. (Twitter.com/Sweden.se)

Jalur kehidupan Magdalena Andersson sepertinya sangat linier. Dia lulus sebagai seorang ekonom dan banyak berkarir di bidang yang sama. Dia pernah menjadi sekretaris negara di Kementrian Keuangan dan juga dinominasikan sebagai Direktur Utama Agen Pajak Swedia.

Dari mulai tahun 2012 sampai tahun 2014, merujuk pada lembar biografi resmi pemerintah Swedia, Andersson menjadi juru bicara kebijakan ekonomi untuk Partai Sosialis Demokrat. Sejak muda hingga memasuki politik nasional, sepertinya ideologi Andersson tetap sama, yakni di sosial demokrat.

Setelah dari posisi juru bicara partai, perempuan berusia 54 tahun itu kemudian menjabat sebagai Menteri Keuangan pada tahun 2014 sampai tahun 2021.

Tanggung jawabnya adalah mengelola dana pemerintah pusat, kebijakan fiskal, hubungan ekonomi internasional serta pajak. Selama menjabat posisi tersebut, Andersson yang memiliki dua anak itu, disebut sebagai seorang menteri yang piawai dan kompeten. Slogannya adalah "Swedia bisa berbuat lebih baik."

Baca Juga: 5 Tempat Wisata di Lund-Swedia yang Sayang untuk Dilewatkan

3. Magdalena Andersson mendapat julukan 'Buldoser'

Magdalena Andersson: Perdana Menteri Baru SwediaMagdalena Andersson berfoto bersama anggota kabinetnya (Twitter.com/SwedishPM)

Sebagai seorang politikus, yang juga ahli dalam ekonomi, Magdalena Andersson dikenal memiliki ciri khas. Dia disebut sebagai seorang perempuan yang blak-blakan dan lugas.

Menurut The Guardian, karena kepribadiannya itulah kemudian ia mendapat julukan sebagai 'buldoser.' Seorang editor politik bernama Anders Lindberg menilai bahwa Andersson adalah seorang sosial demokrat yang independen.

Linberg menggambarkan Andersson bahwa "dia memiliki sedikit cara berdebat Angela Merkel. Tidak sepenuhnya jelas apa yang ingin dia katakan sepanjang waktu, tetapi akhirnya memenangkan argumen karena tidak ada orang lain yang benar-benar dapat menjawab karena dia menguasai semua detail." 

Pada awal bulan November 2021 ini, Magdalena Andersson mendapatkan posisi tertinggi di partainya, yakni sebagai ketua Partai Sosial Demokrat.

4. Terpilih sebagai Perdana Menteri tapi mengundurkan diri beberapa jam kemudian

Pada tanggal 24 November 2021, Magdalena Andersson menuliskan sejarah untuk negaranya. Dia terpilih sebagai Perdana Menteri Swedia, sebuah jabatan yang belum pernah diraih oleh perempuan manapun di Swedia.

Parlemen Swedia, yang disebut Riksdag, memilih Andersson untuk mendapatkan jabatan tersebut. Sebanyak 349 anggota RIksdag, ada 174 orang yang menentangnya. Namun, 117 anggota mendukung dan 57 orang abstain.

Jika anggota Riksdag yang menentang lebih banyak dari total pendukung dan abstain, maka seseorang tidak bisa menduduki jabatan PM. Andersson memenangkan jabatan itu dengan kemenangan tipis, yakni hanya terpaut satu suara saja.

Tapi tak lebih dari 12 jam kemudian, dia memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan tersebut. Sebabnya, koalisis yang dibangun oleh partainya runtuh.

Partai Tengah menolak anggaran yang diajukan oleh Sang Perdana Menteri. Alasannya, karena anggaran itu disusun bersama dengan partai sayap kanan yang anti-imigran. Dan karena anggaran itu ditolak, partai koalisi lain, yakni Partai Hijau, memilih untuk mundur dari pemerintahan.

Dilansir BBC, Andersson mengatakan "ada praktik konstitusional bahwa pemerintah koalisi harus mengundurkan diri ketika satu partai mundur. Saya tidak ingin memimpin pemerintahan yang legitimasinya dipertanyakan."

5. Terpilih lagi sebagai Perdana Menteri Swedia

Swedia telah memberikan kesempatan bagi warga negara perempuan untuk memberikan suara dalam pemilu, selama seratus tahun. Namun negara yang masuk dalam grup Nordik tersebut, adalah satu-satunya negara yang belum pernah memiliki Perdana Menteri perempuan.

Terpilihnya Magdaleda Andersson adalah sebuah sejarah bagi Swedia, meski hal itu terjadi dengan guncangan politik. Dalam pemilihan kembali pada akhir November, lima hari usai dirinya mundur, perempuan yang mendapat julukan Buldoser itu kembali lagi terpilih sebagai PM.

Dalam pemilihan kedua itu, anggota Riksdag yang menentangnya berkurang satu orang, dari 174 suara menjadi 173 suara. Sementara yang memilihnya sebanyak 101 orang dan mereka yang abstain sebanyak 75 orang.

Koalisi Andersson yang runtuh, membuat perempuan yang terpilih kembali sebagai PM itu memiliki tekad kuat untuk memimpin pemerintahan Swedia dengan partai tunggal. Tapi banyak analis politik yang menyebut, itu akan sulit karena partainya hanya memiliki 100 kursi dari total 349 kursi di Riksdag.

Atmosfer politik Swedia terbilang sangat terfragmentasi dengan adanya guncangan politik saat pemilihan PM Magdalena Andersson. Dia sendiri terpilih sebagai PM sementara. Pendahulunya, Stefan Lofven, mengundurkan diri.

Anderson akan memimpin Swedia selama 10 bulan kedepan, sampai Swedia kembali melakukan pemilu. "Saya tidak melihat ini sebagai awal dari 10 bulan, saya melihat ini sebagai awal dari 10 tahun," ujar Andersson dikutip NPR.

6. Tiga masalah serius yang ingin diselesaikan pemerintahan Swedia

Magdalena Andersson: Perdana Menteri Baru SwediaSalah satu pemandangan sudut kota Stockholm, Swedia. (Unsplash.com/Ana Borquez)

Terpilihnya Magdalena Andersson kembali sebagai Perdana Menteri perempuan pertama di Swedia memang telah mengukir sejarah. Meski banyak para pengamat yang menilai, terjadi perpecahan politik yang serius di dalam Riksdag.

Dalam pidatonya di depan parlemen usai terpilih untuk yang kedua kalinya, Andersson dengan tegas mengatakan "pada tahun 1921, untuk pertama kalinya di Swedia, perempuan dan laki-laki dapat menggunakan hak pilih yang universal dan setara dalam pemilihan Riksdag.

Hak ini tidak bisa dianggap remeh. Itu harus diperkuat lagi dan lagi oleh setiap generasi berturut-turut."

Dia juga menjelaskan bahwa pemerintahannya mengajak untuk menyelesaikan tiga masalah kronis Swedia.

Dilansir dari laman resmi pemerintah Swedia, tiga masalah tersebut adalah tidak meninggalkan kebutuhan bisnis untuk mengurangi segregasi dan memerangi kriminalitas, mendorong revolusi industri hijau melalui investasi di seluruh negeri, dan terakhir mengambil kembali kendali atas sistem kesejahteraan agar setiap orang yang bekerja di dalamnya memiliki kondisi yang layak dan adil.

Baca Juga: RI-Swedia Punya Potensi Besar Tingkatkan Perdagangan

Pri Saja Photo Verified Writer Pri Saja

Petani

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya