Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Pria Iran yang Dibutakan Aparat saat Demo pada 2022 Kini Divonis Mati
bendera Iran (Aerra Carnicom, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)
  • Pengadilan Revolusi Teheran menjatuhkan vonis mati kepada Ali Zarei, 27, penyintas tembakan aparat yang membutakan mata kanannya saat protes Mahsa Amini pada 2022.
  • Zarei ditangkap agen Kementerian Intelijen setelah kembali dari Jerman pada 28 April; ia didakwa korupsi di muka bumi, propaganda anti-rezim, penyebaran kabar bohong, dan pelanggaran lainnya.
  • Vonis Zarei masih dalam tahap banding. Kelompok HAM mengecam penangkapan serta penggunaan hukuman mati yang meluas di Iran terhadap para penentang politik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pengadilan Revolusi Teheran menjatuhkan vonis hukuman mati terhadap Ali Zarei, seorang pria Iran berusia 27 tahun yang matanya dibutakan oleh tembakan aparat keamanan dalam gelombang unjuk rasa pada 2022. Putusan atas dakwaan perbuatan korupsi di muka bumi tersebut diberitahukan kepadanya pada 23 Agustus usai dia memutuskan pulang ke Iran dari Jerman.

Zarei sebelumnya mengungsi ke Jerman untuk menjalani perawatan medis akibat luka tembak pada mata kanannya saat memprotes kematian Mahsa Amini dalam gerakan Woman, Life, Freedom. Ia sempat menulis di Instagram saat itu bahwa ia telah "mengorbankan matanya demi kebebasan negaranya". Namun, agen Kementerian Intelijen Iran menangkap dia pada 28 April tak lama setelah tiba di Iran, sebelum akhirnya dijatuhi vonis hukuman gantung.

1. Dakwaan berat dan ancaman eksekusi mati di Penjara Qezel Hesar

ilustrasi pengadilan (pexels.com/KATRIN BOLOVTSOVA)

Menurut laporan kelompok hak asasi manusia HRANA yang dikutip Radio Free Europe/Radio Liberty, Zarei saat ini mendekam di Penjara Qezel Hesar di Karaj. Pengadilan Revolusi Teheran menyatakan dia bersalah atas dakwaan berat perbuatan korupsi di muka bumi. Putusan pengadilan tersebut mencakup tuduhan aktivitas politik ekstensif, menyebarkan laporan kerusakan palsu, menyebarkan kabar bohong, propaganda melawan rezim, mengganggu ketertiban, serta keluar-masuk wilayah Iran secara ilegal.

Pria asal Ardabil yang sempat bermukim di Teheran ini juga dilaporkan menghadapi sangkaan undang-undang kontroversial terkait spionase dan kerja sama dengan negara musuh. Kendati vonis mati telah diketok, keputusan pengadilan tersebut masih berada dalam tahap pengajuan banding. Di sisi lain, kantor mantan Putra Mahkota Iran Reza Pahlavi menyatakan bahwa seluruh tuduhan yang dialamatkan kepada Zarei sepenuhnya tidak berdasar.

2. Alasan kepulangan dan peringatan dari aktivis di pengasingan

ilustrasi pesawat terbang (pexels.com/Borja Lopez)

Keputusan Zarei untuk kembali ke tanah air mengejutkan rekan-rekannya di Jerman, mengingat risiko penangkapan yang dia hadapi. Jurnalis sekaligus aktivis Iran yang sempat tinggal bersamanya di Jerman, Parviz Yari, mengungkapkan bahwa dia pernah memperingatkan Zarei mengenai bahaya tersebut. "Dia menceritakannya kepadaku sebagai seorang teman dan penasihat. Tentu saja, aku menjelaskan situasinya kepadanya. Tanggapanku yang sedikit lebih keras sempat membuat dia berubah pikiran," kata Yari kepada Radio Farda.

Kendati demikian, Zarei akhirnya tetap memutuskan kembali ke Iran secara diam-diam tanpa memberi tahu rekannya. Yari menduga keputusan itu terpengaruh atmosfer kalangan oposisi monarki di pengasingan setelah unjuk rasa berdarah pada Januari lalu, yang memunculkan keyakinan bahwa perubahan politik di Iran sudah sangat dekat. "Kesan yang diciptakan gerakan tersebut di benak para aktivis di luar negeri adalah Republik Islam Iran seolah berada di ambang keruntuhan, ibarat kereta yang sudah meninggalkan stasiun dan orang-orang hanya perlu naik ke dalamnya," tutur Yari.

Selama di Jerman, Zarei sempat bekerja di restoran, berolahraga di pusat kebugaran, serta belajar bahasa Jerman. Namun, trauma mendalam akibat kekerasan aparat di Iran tetap membebani psikologinya di pengasingan. Zarei juga sempat berpidato dalam aksi demonstrasi di Munich pada Februari lalu dan menyerukan pernyataannya di hadapan 250 ribu orang, "Revolusi 1979 telah berakhir... hiduplah sang Shah".

3. Kecaman kelompok hak asasi manusia terhadap gelombang vonis mati

ilustrasi unjuk rasa (unsplash.com/James Eades)

Kelompok hak asasi manusia International Society for Human Rights menyampaikan bahwa Zarei datang ke Jerman guna menjalani perawatan medis setelah terluka parah akibat tembakan aparat pada 2022. Lembaga tersebut mengecam keras penangkapan Zarei yang kembali ke tanah air atas alasan pribadi. Dilansir Arab News, lembaga itu menegaskan penangkapan ini kembali membuktikan bahwa pemerintah Iran tidak segan menindak siapa pun, termasuk para penyintas kekerasan aparat mereka sendiri.

Organisasi Center for Human Rights in Iran (CHRI) turut menyoroti penerapan hukuman mati yang kian meluas di negara tersebut. CHRI menegaskan, "Rezim sekali lagi menggunakan hukuman mati dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam beberapa dekade terakhir sebagai alat balas dendam dan untuk menekan para penentang". Catatan kelompok hak asasi manusia menunjukkan puluhan eksekusi bermotif politik telah berlangsung tahun ini di tengah tindakan keras pemerintah Iran.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article