Menurut sumber tadi, Trump dan jajarannya akan membentuk aliansi baru di Timur Tengah saat perang dengan Iran sudah benar-benar usai. Aliansi ini bertujuan untuk meningkatkan kekuatan dan dukungan dari negara-negara di Timur Tengah agar Washington bisa menekan Teheran. Pejabat tersebut menambahkan, Trump menyebut rencana ini sebagai strategi pascaperang.
Trump Mau Bentuk Aliansi Baru di Timur Tengah, Lawan Iran?

Trump dikabarkan membahas pembentukan aliansi pascaperang di Timur Tengah untuk memperkuat dukungan regional dan menekan Iran, namun rencana itu belum difinalisasi.
AS juga berencana mendorong negara-negara Timur Tengah menormalisasi hubungan dengan Israel; Trump yakin pemerintahan Israel berikutnya mendukung, sambil terus menggodok strategi tersebut.
Konflik AS-Iran belum benar-benar selesai setelah saling serang terakhir pada 2 September 2026; kedua pihak kini berhenti bertempur tetapi saling mengancam serangan lebih besar.
Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, dikabarkan akan membentuk aliansi baru di Timur Tengah untuk melawan Iran. Kabar tersebut disampaikan oleh Axios berdasarkan informasi dari seorang sumber internal Pemerintah AS pada Jumat (4/9/2026). Saat ini, Trump dikabarkan sedang melakukan diskusi intens bersama jajarannya untuk mewujudkan rencana itu.
1. Trump juga akan mendorong normalisasi hubungan dengan Israel

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (kiri), sedang melakukan pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kanan), di Ruang Oval, Gedung Putih, Washington D.C., pada Selasa (28/7/2026). (x.com/WhiteHouse) Setelah membentuk aliansi baru, Trump juga akan mendorong negara-negara Timur Tengah untuk menormalisasi hubungan diplomatiknya dengan Israel. Jika hal ini tercapai, Trump menilai Iran akan semakin kehilangan kekuatan di Timur Tengah. Namun, semua rencana tersebut saat ini masih dalam proses penyusunan dan belum difinalisasi.
“Mereka sedang menyusunnya, tetapi belum selesai. Idenya adalah untuk menghubungkan banyak hal di kawasan ini (Timur Tengah) dan bagaimana menciptakan keselarasan regional setelah perang. Masih belum jelas apakah semua sekutu AS di kawasan ini akan mendukungnya,” kata sumber AS, seperti dilansir Anadolu Agency.
2. Trump yakin pemerintahan baru Israel mendukung rencananya

potret bendera Israel (pexels.com/Oren Noam Gilor) Meski belum pasti didukung negara Timur Tengah, sumber AS tadi mengatakan bahwa Trump sangat yakin akan mendapatkan dukungan penuh dari pemerintahan baru Israel yang bakal dibentuk setelah pemilihan umum perdana menteri pada Oktober mendatang. Sebab, Tel Aviv pasti akan mendukung ide normalisasi hubungan diplomatik negara-negara Timur Tengah dengan mereka.
Namun, Trump tidak akan menunggu pembentukan pemerintahan baru Israel untuk mewujudkan rencananya. Sebab, Trump akan tetap menggodok rencana pembentukan aliansi baru di Timur Tengah dan upaya normalisasi hubungan dengan Israel sampai semuanya benar-benar matang dan siap diimplementasikan.
3. Perang AS dan Iran masih belum benar-benar usai

ilustrasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel (unsplash.com/Saifee Art) Perang antara AS dan Iran sendiri hingga saat ini masih belum benar-benar usai. Sebab, Washington dan Teheran kembali terlibat baku serang pada pekan lalu. Aksi saling serang terakhir kedua negara terjadi pada Rabu (2/9/2026) lalu. Kala itu, Iran menyerang pangkalan militer AS yang ada di negara-negara Teluk sebagai balasan atas serangan AS ke acara pernikahan di wilayah mereka.
Saat ini, perang sudah kembali berhenti. Kendati demikian, AS mengancam akan melakukan serangan yang lebih besar kepada Iran jika mereka kembali memulai perang. Di sisi lain, Iran juga mengancam akan menyerang AS dengan kekuatan yang lebih besar jika mereka menyerang.




















