Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Wapres AS Sebut Konflik di Iran Bukan Perang, Tolak Beri Batas Waktu

Wapres AS Sebut Konflik di Iran Bukan Perang, Tolak Beri Batas Waktu
Wakil Presiden AS, JD Vance (JD Vance, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Wapres AS JD Vance menyebut konflik dengan Iran bukan perang karena pertempuran aktif telah mereda, meski serangan masih berlangsung di sejumlah titik.
  • Vance menolak menetapkan waktu berakhirnya konflik, dengan alasan Iran harus berhenti menyerang kapal komersial di Selat Hormuz yang mengganggu pengiriman energi.
  • AS menyelidiki serangan di pesta pernikahan di Kuhestak yang dilaporkan menewaskan warga sipil; Vance membantah penargetan sipil dan meragukan narasi media pemerintah Iran.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance menyatakan konflik antara negaranya dengan Iran saat ini bukan merupakan sebuah perang. Pernyataan tersebut disampaikan Vance dalam sesi pengarahan pers di Gedung Putih pada Kamis (3/9/2026).

Ia menegaskan konfrontasi utama telah mereda meski kedua pihak masih saling bertukar serangan sepanjang pekan ini. Pernyataan itu mencuat ketika operasi militer yang telah berjalan selama enam bulan ini terus memicu polemik di dalam negeri AS menjelang pemilu sela November mendatang.

  1. 1. Vance klaim operasi militer utama AS telah berakhir

    USS Abraham Lincoln melakukan blokade di Laut Arab
    USS Abraham Lincoln melakukan blokade di Laut Arab (NAVCENT Public Affairs, Public domain, via Wikimedia Commons)

    Vance mengklaim sudah tidak ada pertempuran aktif antara pasukan AS dan militer Iran di lapangan. Menurutnya, aksi militer utama hanya berlangsung enam pekan setelah serangan pembuka AS dan Israel dilancarkan pada 28 Februari.

    "Saya tidak akan menyebut ini sebuah perang, saat ini tidak ada baku tembak aktif," kata Wakil Presiden AS JD Vance, dilansir France24.

    Namun, ia mengakui masih ada aksi saling serang di beberapa titik panas. Baru-baru ini, militer AS menyerang hampir 60 target militer di sepanjang pesisir Iran. Operasi tersebut ditujukan untuk melumpuhkan fasilitas radar, pertahanan udara, dan kemampuan Iran untuk memasang ranjau laut.

    Teheran kemudian membalas serangan tersebut dengan menembakkan rudal serta pesawat nirawak (drone) ke pangkalan militer AS di Kuwait. Militer Kuwait menyatakan sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat serangan tersebut.

  2. 2. Menolak memberi tanggal pasti kapan konflik akan berakhir

    ilustrasi serangan drone Shahed-136 buatan Iran
    ilustrasi serangan drone Shahed-136 buatan Iran (Khamenei.ir, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

    JD Vance juga enggan memberikan jadwal pasti terkait kapan pertempuran di Iran akan berhenti. Ia menilai berakhirnya pertikaian bergantung pada kesediaan Iran untuk berhenti menyerang kapal komersial di Selat Hormuz.

    "Pertanyaan kapan ini akan berakhir sama seperti menanyakan kapan pihak Iran akan berhenti menembaki kapal komersial," tutur Vance, dilansir ABC News.

    Blokade Iran terhadap Selat Hormuz telah mengganggu pengiriman minyak dan gas dari Timur Tengah. Kondisi ini telah menaikkan harga bahan bakar di AS sehingga menekan elektabilitas Presiden Donald Trump.

    Vance sendiri enggan untuk memberi tanggal pasti kapan harga bahan bakar akan turun kembali ke harga tiga dolar AS (sekitar Rp53 ribu) per galon. Namun, pemerintahan Trump mengklaim laju pengiriman energi lewat Selat Hormuz sudah mulai pulih mendekati volume sebelum perang.

  3. 3. Vance skeptis terhadap laporan serangan di pesta pernikahan di Iran

    bendera Iran
    bendera Iran (unsplash.com/mostafa meraji)

    Pemerintah AS kini tengah melakukan penyelidikan atas serangan udara yang menghantam sebuah pesta pernikahan di wilayah Kuhestak, Sirik. Insiden yang terjadi di pesisir selatan Iran tersebut memicu kecaman karena melukai dan menewaskan warga sipil.

    Otoritas Iran menuduh Washington telah melakukan kejahatan perang yang menewaskan sedikitnya lima warga sipil dan melukai sekitar 70 orang lainnya. Salah satu korban meninggal yang dilaporkan media setempat merupakan seorang perempuan berusia 22 tahun yang sempat dirawat intensif di rumah sakit.

    Vance menegaskan pihak militer AS tidak pernah sengaja mengarahkan serangan ke target masyarakat sipil. Ia juga mengaku skeptis terhadap berbagai laporan maupun narasi yang disiarkan oleh kantor berita pemerintah Iran mengenai peristiwa tersebut.

    "Media pemerintah Iran belum bisa menulis dengan baik tentang apa yang terjadi dalam konflik sejauh ini. Jadi, saya sangat skeptis terhadap hal ini," kata Vance, dilansir NYT.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More