Ilustrasi tulisan perubahan iklim. (pexels.com/Markus Spiske)
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal mengatakan perubahan iklim kini telah menjadi kenyataan yang dirasakan langsung negaranya. Ia menyerukan agar negara-negara kaya tidak hanya memberikan bantuan setelah bencana terjadi, tetapi juga menyediakan pembiayaan untuk membangun masyarakat yang lebih tangguh terhadap bencana.
"Apa yang ingin kami sampaikan kepada dunia adalah: isu-isu perubahan iklim ini bukan lagi sekadar teori. Ini menjadi kenyataan dan frekuensi bencana semacam ini kemungkinan akan terjadi lebih sering dalam beberapa tahun ke depan seiring dengan kenaikan suhu dan pencairan gletser," ujarnya dalam sebuah wawancara di misi tetap Nepal, selama pekan tingkat tinggi PBB, dilansir The Straits Times.
Khanal menambahkan, AS telah mengumumkan bantuan baru sebesar 31 juta dolar AS (Rp557 miliar) untuk pemulihan. Inggris juga menyatakan komitmen bantuan dan negara-negara G7 secara informal menjanjikan dukungan.
Nepal juga telah meminta 20 juta dolar AS (Rp358,9 miliar) dari Dana Kerugian dan Kerusakan PBB. Angka tersebut merupakan jumlah maksimum yang dapat diajukan, kendati dana tersebut masih jauh di bawah kebutuhan pemulihan dan rekonstruksi. Pemerintah Nepal memperkirakan total kerugian ekonomi akibat bencana itu mencapai 5 miliar dolar AS (Rp89,8 triliun).
Para ilmuwan dari World Weather Attribution (WWA) menggambarkan bencana tersebut sebagai krisis gabungan, di mana ketidakstabilan geologis lokal berinteraksi dengan dampak pemanasan jangka panjang yang menyebabkan penyusutan gletser dan pencairan permafrost.