Banjir Nepal: Hampir Tiga Pekan, 55 WN Malaysia Belum Dapat Dihubungi

- Sebanyak 55 warga Malaysia masih belum dapat dihubungi hampir tiga pekan setelah banjir dan longsor di Nepal serta China, dengan status mereka terus ditelusuri pemerintah.
- Keluarga korban belum menggelar upacara kematian karena belum ada informasi terverifikasi, sambil menghadapi kendala ekonomi, administrasi bank-asuransi, dan proses DNA yang diperkirakan memakan lima bulan.
- Meski misi lapangan SMART telah berakhir, Wisma Putra menegaskan pencarian berlanjut melalui koordinasi kedutaan Malaysia di Kathmandu dan Beijing dengan otoritas, rumah sakit, serta pihak terkait.
Jakarta, IDN Times - Sebanyak 55 warga negara Malaysia belum dapat dihubungi dan dinyatakan hilang hampir tiga pekan pascabencana banjir serta tanah longsor di Nepal dan China sejak Rabu (26/8/2026). Kementerian Luar Negeri Malaysia terus melanjutkan penelusuran status puluhan warganya tersebut melalui koordinasi diplomatik dengan otoritas setempat.
Keluarga dari para korban hingga kini memilih tidak menggelar upacara kematian demi menanti adanya keajaiban atas keselamatan kerabat mereka. Pihak keluarga masih membutuhkan kepastian informasi resmi mengenai kondisi serta keberadaan orang-orang terdekat mereka yang terdampak musibah tersebut.
1. Keluarga korban menolak menyerah dan menanti keajaiban

Gambar CCTV saat banjir bandang Nepal terjadi pada Agustus 2026. (Unknown author, Public Domain, via Wikimedia Commons) Keluarga dari 55 korban yang hilang menolak berputus asa dan belum menggelar ritual pemakaman bagi kerabat mereka. Juru bicara kelompok perwakilan keluarga Malaysia Solidarity: Families in Hope (Masfih), Subramaniam Murugaya, menyatakan sebagian keluarga meyakini para korban masih terjebak di suatu tempat atau mengalami luka parah. Dilansir The Star, sebagian keluarga lainnya saat ini menunggu untuk melihat jasad kerabat mereka demi mendapatkan kepastian.
Juru bicara Masfih lainnya, Manivannan Rethinam, menegaskan pihak keluarga tetap memegang harapan karena belum menerima informasi terverifikasi mengenai nasib anggota keluarga mereka. Manivannan menilai keluarga tidak boleh menyerah sebelum ada kepastian yang sahih dari pihak berwenang. "Kami berduka tanpa mengetahui apakah kami seharusnya berduka," ujar Manivannan dalam keterangannya.
2. Kendala finansial dan evaluasi tim penyelamat Malaysia

ilustrasi tim penyelamat (pexels.com/Ludwig Kwan) Tim bantuan dan penyelamat bencana Special Malaysia Disaster Assistance and Rescue Team (SMART) telah menyudahi operasinya dan tiba kembali di Malaysia pada Senin (14/9/2026) pukul 02.00 waktu setempat. Pihak keluarga menyayangkan kurangnya komunikasi resmi dan hanya mengetahui kepulangan SMART melalui laporan berita, tanpa penjelasan langsung dari Kementerian Luar Negeri Malaysia. Manivannan menyoroti tim penyelamat yang baru tiba di lokasi bencana pada hari ke-14 sehingga memicu tanda tanya terkait ketepatan waktu serta penentuan wilayah pencarian.
Selain duka yang belum berujung, keluarga yang kehilangan sosok pencari nafkah utama mulai mengalami kesulitan ekonomi. Subramaniam mengungkapkan bank tidak menerima surat keterangan karena Wisma Putra menyatakan korban berstatus hilang, bukan meninggal dunia. Sementara itu, perusahaan asuransi juga meminta informasi tentang korban yang hilang untuk menyetujui beberapa detail. Di sisi lain, pihak keluarga juga diberitahu bahwa proses pencocokan tes DNA di Nepal diperkirakan membutuhkan waktu hingga lima bulan ke depan.
3. Pemerintah pastikan proses pencarian terus berjalan

ilustrasi pemerintah (unsplash.com/Dámaris Azócar) Kementerian Luar Negeri Malaysia atau Wisma Putra menegaskan berakhirnya misi lapangan SMART bukan berarti pencarian dihentikan atau status korban telah berubah. Dilansir Free Malaysia Today, kementerian tersebut menyatakan, "Sebanyak 55 warga Malaysia tetap tercatat tidak dapat dihubungi selama proses terkait untuk menetapkan status setiap individu terus berlangsung". Selama bertugas di Nepal, tim SMART telah menyisir jalur darat serta melakukan pemantauan udara dengan drone pada wilayah yang diizinkan otoritas Nepal.
Sebagai bentuk kontribusi dalam penanganan bencana di Nepal, SMART sempat melatih petugas setempat dan menyerahkan sembilan unit drone kepada pemerintah Nepal melalui National Disaster Risk Reduction and Management Authority (NDRRMA). Penelusuran lanjutan kini dipercayakan kepada Kedutaan Besar Malaysia di Kathmandu untuk berkoordinasi dengan rumah sakit setempat, serta Kedutaan Besar Malaysia di Beijing untuk korban di China. Wisma Putra memastikan setiap perkembangan terverifikasi akan segera disampaikan langsung kepada keluarga terdekat sebelum diumumkan ke publik.





















