Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Selundupkan Cip AS ke China, 10 Warga Taiwan Resmi Didakwa
ilustrasi hukum (pixabay.com/vanna44)
  • Kejaksaan Taiwan mendakwa 10 warga atas dugaan menyelundupkan mikrocip militer AS ke China, dalam operasi yang disebut berlangsung sejak 2017.
  • Sindikat memalsukan dokumen atas nama NCSIST, menghapus label asal cip, lalu mengirim barang melalui Hong Kong ke pembeli akhir berupa pabrik militer China.
  • Cip tersebut digunakan untuk radar, pengacak sinyal, drone, dan peluru kendali; pemimpin komplotan terancam 10 tahun penjara, dengan keuntungan diperkirakan 360 juta dolar Taiwan baru.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kejaksaan Taiwan pada Rabu (7/10/2026), resmi mendakwa sepuluh warganya atas dugaan penyelundupan mikrocip militer buatan Amerika Serikat ke China. Sindikat tersebut dituduh bersekongkol mengakali pembatasan ekspor demi menyalurkan komponen strategis secara ilegal.

Pengalihan teknologi bernilai tinggi ini dinilai dapat mengancam stabilitas kawasan di tengah ketegangan geopolitik kedua pihak. Otoritas penegak hukum di Taipei menegaskan perkara ini mendapat penanganan serius guna mencegah kebocoran teknologi pertahanan lebih lanjut.

1. Pemalsuan dokumen pengadaan atas nama lembaga riset pertahanan NCSIST

Sindikat ini diketahui telah beroperasi sejak 2017 untuk mengelabui distributor resmi semikonduktor di Taiwan. Para pelaku memalsukan dokumen pengadaan barang dengan mengatasnamakan lembaga riset pertahanan resmi pemerintah, National Chung-Shan Institute of Science and Technology (NCSIST).

Modus tersebut dimanfaatkan karena institusi riset negara mengantongi izin resmi untuk membeli cip canggih buatan Texas Instruments dan Analog Devices. Para pelaku menyusun surat pernyataan fiktif guna meyakinkan pihak pabrikan bahwa komponen itu murni dialokasikan bagi riset domestik.

Manipulasi ini menuai sorotan tajam lantaran dinilai merusak sistem pengawasan tata kelola ekspor strategis.

"Tindakan para terdakwa membantu China memperkuat militernya, memengaruhi keamanan Taiwan, dan merusak nama baik kita di dunia," kata Jaksa Penuntut Kantor Kejaksaan Distrik New Taipei, dilansir Focus Taiwan.

2. Modus penghapusan label asal manufaktur cip impor demi meloloskan bea cukai

Guna meloloskan barang dari pemeriksaan bea cukai, sindikat ini sengaja menghapus label asal manufaktur cip yang sebenarnya diproduksi di Filipina, Korea Selatan, dan Malaysia. Mereka kemudian mengemas ulang komponen tersebut menggunakan label komoditas umum buatan industri lokal Taiwan.

Setelah proses rekayasa kemasan rampung, perangkat elektronik itu dikirim ke pihak perantara di Hong Kong sebelum akhirnya diteruskan ke China. Melalui peredaran barang ilegal lintas wilayah ini, para pelaku diperkirakan meraup keuntungan hingga 360 juta dolar Taiwan baru (Rp202 miliar).

"Pembeli akhir dari barang tersebut terbukti adalah pabrik militer China, yang memakainya untuk membuat senjata canggih," tulis jaksa penuntut dalam surat dakwaannya.

3. Ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara bagi pemimpin komplotan

Perangkat elektronik yang dialihkan secara ilegal itu memuat komponen vital untuk perakitan sistem radar, pengacak sinyal frekuensi, hingga sistem kendali pesawat tanpa awak. Komponen semikonduktor ini diserahkan kepada fasilitas penelitian di China guna mengembangkan alutsista peluru kendali mutakhir.

Atas perbuatan tersebut, sepuluh terdakwa dijerat pasal penipuan tingkat berat, pemalsuan dokumen, dan tindak pidana pencucian uang. Pemimpin komplotan sekaligus direktur perusahaan Lypid Taiwan Co, Chen Chien-hsiung, terancam hukuman maksimal sepuluh tahun penjara, sedangkan terdakwa lainnya dituntut hukuman satu hingga delapan tahun kurungan.

"Aktivitas tersebut menumbuhkan kekuatan China, sehingga menimbulkan ancaman serius bagi keamanan nasional kita," tegas jaksa penuntut.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article