Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Di Hari Nasional, Xi Jinping Serukan Reunifikasi China dengan Taiwan

3 min read
Di Hari Nasional, Xi Jinping Serukan Reunifikasi China dengan Taiwan
Presiden China Xi Jinping. (x.com/SpoxCHN_MaoNing)
  • Xi Jinping menyerukan kelanjutan upaya reunifikasi China dengan Taiwan menjelang Hari Nasional China.

  • Xi menolak campur tangan eksternal dan meminta Amerika Serikat menentang kemerdekaan Taiwan.

  • Pidato Xi juga menyoroti tantangan kompleks China serta kebijakan luar negeri yang independen dan damai.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Bagaimana sebaiknya isu China-Taiwan ditangani?
Share Article

Jakarta, IDN Times — Presiden China Xi Jinping menyerukan agar upaya menuju “reunifikasi” dengan Taiwan terus dilanjutkan. Pernyataan tersebut disampaikan Xi dalam pidato menjelang peringatan Hari Nasional China pada 1 Oktober.

Dalam pidatonya, Xi juga menolak apa yang disebutnya sebagai campur tangan eksternal dalam persoalan Taiwan. Beijing mengklaim, Taiwan sebagai bagian dari wilayah China, sementara Taiwan memiliki pemerintahan sendiri.

Pernyataan Xi disampaikan hanya beberapa hari setelah dirinya berbicara dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai isu Taiwan. Dalam pembicaraan tersebut, Xi meminta Washington menentang kemerdekaan Taiwan.

“Kita harus memperdalam pertukaran dan kerja sama lintas Selat, dengan tegas memberantas kekuatan separatis ‘kemerdekaan Taiwan’, menentang campur tangan dari kekuatan eksternal, mendorong pembangunan damai hubungan lintas Selat, dan memajukan perjuangan besar reunifikasi nasional,” kata Xi, dilansir dari The Straits Times, Jumat (2/10/2026).

  1. 1. Xi tolak campur tangan asing soal Taiwan

    Presiden Xi Jinping
    Presiden China, Xi Jinping (commons.m.wikimedia.org/Presidential Executive Office of Russia)

    Pidato tersebut disampaikan Xi di hadapan ratusan tamu di Balai Agung Rakyat di Beijing, menurut kantor berita pemerintah China, Xinhua.

    Xi menyampaikan seruan tersebut menjelang peringatan ke-77 berdirinya Republik Rakyat China pada 1 Oktober. Republik Rakyat China memproklamasikan diri pada 1949 setelah pasukan Komunis mengalahkan pasukan Kuomintang dalam perang saudara yang berlangsung selama dua dekade.

    Pasukan Kuomintang yang kalah kemudian melarikan diri ke Taiwan. Sejak saat itu, Taiwan berkembang dengan pemerintahan sendiri, sementara Beijing tetap mengklaim pulau tersebut sebagai bagian dari wilayahnya.

    China hingga kini tidak mengesampingkan penggunaan kekuatan untuk mengambil alih Taiwan. Sementara itu, Taiwan mengandalkan Amerika Serikat untuk dukungan keamanan, termasuk melalui pembelian persenjataan.

  2. 2. Xi kembali singgung AS dan Trump

    AFP__20260514__B2TG79E__v1__HighRes__ChinaUsDiplomacy.jpg
    KTT AS-China dimulai, Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping saling berjabat tangan. (AFP/Pool/KENNY HOLSTON)

    Isu Taiwan juga menjadi salah satu pembahasan dalam pertemuan Xi dengan Trump di Washington pada pekan sebelumnya. Xi ketika itu meminta Trump bersikap “bijaksana” dalam menangani persoalan Taiwan.

    Xi juga mendesak Amerika Serikat menentang kemerdekaan Taiwan. Beijing selama ini menilai dukungan eksternal terhadap Taiwan sebagai bentuk campur tangan terhadap urusan dalam negerinya.

    Di sisi lain, Washington pada Mei telah menunda pembelian senjata Taiwan senilai US$14 miliar. Trump menyebut pembelian tersebut sebagai “alat tawar yang sangat baik” dalam hubungan dengan China.

    Keputusan tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai posisi Taiwan dalam hubungan Amerika Serikat dan China, termasuk kekhawatiran bahwa persoalan keamanan Taiwan dapat menjadi bagian dari negosiasi kedua negara.

  3. 3. Xi bicara tantangan China di dalam dan luar negeri

    IMG_8367.jpeg
    Presiden China, Xi Jinping mengumumkan inisiasi pendirian World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO) dalam Opening Ceremony World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026 di Shanghai, Jumat (17/7/2026). (dok. Kemenko Perekonomian)

    Selain Taiwan, Xi dalam pidatonya juga menyinggung situasi yang dihadapi China. Ia mengatakan, negaranya menghadapi situasi internasional dan domestik yang “kompleks”.

    Menurut Xi, kondisi tersebut membuat China perlu mempercepat pola pembangunan baru.

    “Kita harus berpegang pada kebijakan luar negeri yang independen dan damai … untuk menyuntikkan lebih banyak kepastian dan energi positif ke dunia yang saling terkait dalam perubahan dan gejolak,” kata Xi sepert dilaporkan Xinhua.

    Pernyataan tersebut disampaikan dalam rangkaian pidato menjelang Hari Nasional China. Xi menekankan, kebijakan luar negeri damai yang independen sebagai bagian dari respons China terhadap situasi global yang terus berubah.

Share Article
Editorial Team

Ambang Batas Jelang Pemilu 2029

Related Articles

See More