Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi mesin pendingin di supermarket (unsplash.com/ilja Freiberg)
  • Serangan siber pada 2 November 2026 menyasar sistem pendingin supermarket di tujuh negara Eropa, menaikkan suhu hingga 50°C dan memaksa peritel membuang stok makanan rusak.
  • Puluhan gerai dan pusat distribusi terdampak, termasuk di Belgia, Swedia, Irlandia, Belanda, Estonia, Finlandia, serta Luksemburg; kerugian produk di beberapa toko mencapai puluhan hingga ratusan ribu euro.
  • Peretas diduga mengeksploitasi perangkat lunak yang belum diperbarui untuk mengaktifkan mode defrost dari jarak jauh; otoritas sejumlah negara membuka penyelidikan, tanpa pelaku atau tuntutan tebusan teridentifikasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Gelombang serangan siber menyasar sistem lemari pendingin dan pembeku puluhan supermarket di tujuh negara Eropa pada Senin (2/11/2026). Peretasan yang terjadi sejak Minggu malam hingga Senin dini hari ini melanda jaringan ritel di Belgia, Swedia, Belanda, Irlandia, Luksemburg, Estonia, serta Finlandia.

Suhu mesin pendingin di berbagai toko tiba-tiba melonjak drastis hingga mencapai 50 derajat Celsius. Insiden ini memaksa para peritel membuang stok makanan segar serta beku yang membusuk dan menanggung kerugian besar. Serangan tersebut mengulang insiden serupa di Prancis pada 12 Oktober lalu yang merusak sistem pendingin di sekitar 700 supermarket hingga memicu kebakaran.

1. Puluhan toko ritel dan jaringan daging di Eropa rugi besar

ilustrasi lemari pendingin di supermarket (unsplash.com/Kelvin Zyteng)

Di Belgia, serangan ini berdampak pada 75 toko yang mencakup 40 gerai Proxy Delhaize, 15 toko Carrefour, 15 gerai Intermarche, lima toko Spar, serta satu cabang IKEA di Kota Mons. Menurut laporan BBC, satu cabang Delhaize di Hoeilaart bahkan melaporkan kerugian produk hingga 100 ribu euro (sekitar Rp2,02 miliar) akibat kerusakan stok makanan. Sementara itu, pemilik jaringan toko daging Belgia De Laet & Van Haver, Luc De Laet, mendapati suhu kulkas tokonya naik menjadi 18 derajat Celsius pada pukul 03.30 dini hari. Insiden itu merusak stok daging senilai 15 ribu euro (sekitar Rp304 juta).

Gangguan serupa memukul sejumlah gerai ICA, tujuh dari 800 toko Coop, serta pusat distribusi Axfood di kawasan Gothenburg, Swedia. Sebuah cabang ICA di Stockholm melaporkan seluruh mesin pembekunya rusak diretas pada pukul 02.00 dini hari hingga menghancurkan semua barang dagangan. Sebagai langkah pencegahan, pihak Delhaize juga menangguhkan sistem pemesanan mereka di Luksemburg menyusul peretasan puluhan gerai di wilayah tersebut.

Di Irlandia, grup grosir Musgrave mengonfirmasi insiden siber telah menyerang model sistem pendingin tertentu di 13 dari 223 gerai supermarket SuperValu. Di Belanda, peretasan melumpuhkan sistem pendingin milik 17 perusahaan yang mayoritas merupakan toko daging dan ritel lokal. Gangguan juga dilaporkan melanda jaringan supermarket Selver di Estonia dan sejumlah toko milik grup ritel Kesko di Finlandia.

2. Peretas manfaatkan celah perangkat lunak yang belum diperbarui

ilustrasi peretasan (unsplash.com/FlyD)

CEO perusahaan instalasi pendingin Belgia Sabcobel, Stephan Moelans, mengonfirmasi insiden yang menimpa sistem Delhaize merupakan serangan siber dengan mekanisme yang sama seperti kasus di Prancis. Para peretas mengambil alih kendali sistem dari jarak jauh dan mengubah evaporator mesin pendingin ke mode pencairan bunga es (defrost). Tim teknisi Sabcobel terpaksa bekerja sepanjang malam sejak pukul 01.00 dini hari untuk memutus koneksi sekitar 20 unit mesin yang terdampak dari jaringan internet.

Produsen perangkat lunak sistem pendingin asal Denmark, Danfoss, menyebut kerentanan ini berakar pada sistem yang belum diperbarui oleh para pelanggan. Perusahaan tersebut menyatakan telah mengidentifikasi celah keamanan sejak tahun lalu dan berulang kali meminta pengguna memasang pembaruan. Namun, Moelans menilai pembaruan perangkat lunak saja tidak cukup mengatasi celah tersebut sehingga unit pendingin memerlukan modifikasi fisik serta koneksi internet yang aman.

Kepala Pusat Keamanan Siber Nasional Swedia, John Billow, turut mengonfirmasi lembaganya tengah menangani serangkaian insiden yang menyerang sistem pendingin toko di negaranya. Kepada NBC News, ia menyoroti banyaknya perangkat teknologi operasional yang masih rentan terhadap peretasan.

"Dalam beberapa pekan terakhir, kami mengidentifikasi cukup banyak perangkat teknologi operasional yang terekspos di Swedia dan kami telah menegaskan pentingnya melakukan pembaruan atau penambalan sistem," ujar Billow.

3. Negara terdampak luncurkan penyelidikan

Hingga kini, belum ada pihak atau kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas gelombang serangan siber di Eropa tersebut. Peneliti dari perusahaan keamanan siber SentinelOne, Tom Hegel, menjelaskan serangan siber umumnya bertujuan memeras atau memiliki motif politik dari aktor negara. Namun, ketiadaan tuntutan tebusan finansial dalam kasus peretasan supermarket ini mengindikasikan aksi sabotase murni.

"Ritel menjadi sasaran empuk karena jaringan ritel menjalankan sangat banyak pengontrol pendingin, sistem manajemen gedung, panel akses pintu, dan perangkat kasir. Margin keuntungan toko kelontong sangat tipis dan stok barang bisa membusuk dalam hitungan jam, sehingga gangguan sekecil apa pun akan berdampak cepat dan langsung terlihat publik," kata Hegel, dilansir Sky News.

Kejaksaan federal Belgia telah membuka penyelidikan kriminal resmi atas rentetan peretasan ini, menyusul langkah Kejaksaan Paris dan badan keamanan siber Prancis (ANSSI) yang lebih dulu menyelidiki kasus serupa. Di sisi lain, otoritas Amerika Serikat (AS) bekerja sama dengan pejabat Prancis untuk menyelidiki kemungkinan keterkaitan kasus ini dengan kerusakan sistem pendingin di sejumlah pangkalan militer AS pada Agustus lalu. Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris (NCSC) juga berkoordinasi dengan mitra internasional untuk mempelajari detail insiden tersebut meski belum ada laporan kasus di wilayahnya.

Rentetan serangan ini meningkatkan kekhawatiran otoritas Eropa terhadap ancaman perang hibrida yang meluas akibat invasi Rusia ke Ukraina serta konflik AS-Iran, meski Moskow berulang kali membantah terlibat dalam aksi sabotase. Komisioner Pertanian dan Pangan Uni Eropa, Christophe Hansen, menilai serangan tersebut sebagai upaya sengaja untuk mengganggu pasokan pangan blok Eropa dan merusak kepercayaan publik. Sementara itu, juru bicara Pusat Keamanan Siber Belgia (CCB) menyebutkan penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam serangan siber kini menjadi tren yang terus berkembang, tetapi pelaku di balik peretasan ini mungkin tidak akan pernah teridentifikasi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article