Singapura Subsidi Pengobatan ISPA hingga Asma akibat Kabut Asap Indonesia

Kementerian Kesehatan Singapura mengaktifkan PHPC Scheme dan HSS untuk membantu warga menghadapi gangguan kesehatan akibat kabut asap lintas batas.
Warga yang memenuhi syarat bisa memperoleh pengobatan gratis atau dengan biaya maksimal 5 hingga 10 dolar Singapura.
Subsidi mencakup rinitis alergi, asma, bronkitis, konjungtivitis, COPD, dan infeksi saluran pernapasan atas.
Jakarta, IDN Times - Kementerian Kesehatan Singapura mengaktifkan skema subsidi pengobatan bagi warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat kabut asap lintas batas. Kebijakan ini mulai berlaku pada Senin (12/10/2026), menyusul memburuknya kualitas udara di negara tersebut.
Melalui kebijakan ini, Pemerintah Singapura menyediakan akses pengobatan dengan biaya terjangkau di klinik dokter umum yang berpartisipasi dan seluruh poliklinik pemerintah. Subsidi tersebut ditujukan untuk membantu warga yang mengalami masalah kesehatan terkait kabut asap, terutama anak-anak, lansia, serta masyarakat berpenghasilan rendah hingga menengah.
Kementerian Kesehatan Singapura mengaktifkan dua skema sekaligus, yakni Public Health Preparedness Clinic (PHPC) Scheme dan Haze Subsidy Scheme (HSS). Keduanya ditujukan untuk mendukung layanan kesehatan primer selama peringatan kesehatan dan keadaan darurat, termasuk ketika terjadi kabut asap.
Melalui skema HSS, biaya pengobatan bagi warga yang memenuhi syarat dibatasi maksimal 10 dolar Singapura atau bahkan gratis bagi kelompok tertentu. Kebijakan ini mencakup sejumlah penyakit yang berkaitan dengan paparan kabut asap, mulai dari rinitis alergi hingga asma dan infeksi saluran pernapasan atas.
1. Singapura aktifkan subsidi kesehatan akibat kabut asap

ilustrasi karakteristik negara Singapura (unsplash.com/Hu Chen) Kementerian Kesehatan Singapura mengumumkan aktivasi PHPC Scheme dan HSS pada 11 Oktober 2026. Kebijakan tersebut diberlakukan mulai 12 Oktober 2026 sebagai respons terhadap memburuknya kualitas udara akibat kabut asap lintas batas.
Dalam keterangan resminya, kementerian menjelaskan bahwa PHPC Scheme bertujuan mengoordinasikan respons layanan kesehatan primer sekaligus menyediakan perawatan bersubsidi selama peringatan kesehatan dan keadaan darurat.
Skema tersebut sebelumnya juga digunakan dalam penanganan sejumlah kondisi darurat kesehatan, termasuk pandemik COVID-19. Kini, pemerintah kembali mengaktifkannya untuk membantu masyarakat menghadapi gangguan kesehatan akibat kabut asap.
Dengan aktivasi PHPC Scheme dan HSS, klinik dokter umum yang berpartisipasi serta seluruh poliklinik dapat menyediakan layanan terjangkau bagi kelompok masyarakat yang memenuhi persyaratan.
Pemerintah menargetkan kebijakan ini membantu anak-anak, lansia, serta warga berpenghasilan rendah hingga menengah mendapatkan perawatan medis tanpa terbebani biaya yang terlalu tinggi.
2. Warga bisa berobat dengan biaya maksimal 10 dolar Singapura

ilustrasi mata uang asing, dolar AS, dolar Singapura (unsplash.com/Jason Leung) Mulai 12 Oktober 2026, warga negara Singapura berusia 18 tahun ke bawah dan lansia berusia 65 tahun ke atas berhak memperoleh subsidi HSS di klinik yang berpartisipasi dalam PHPC Scheme.
Subsidi tersebut juga tersedia bagi warga yang menerima bantuan melalui sejumlah program pemerintah. Program yang tercakup meliputi Public Assistance (PA), Pioneer Generation (PG), Merdeka Generation (MG), pemegang kartu Community Health Assist Scheme (CHAS) kategori Blue dan Orange, serta pemegang Medical Fee Exemption Card(MFEC).
Sementara itu, seluruh warga negara Singapura memenuhi syarat untuk memperoleh subsidi HSS di poliklinik, tanpa batasan kelompok usia seperti yang berlaku di klinik PHPC.
Besaran biaya yang harus dibayar pasien bergantung pada kategori penerima. Pemegang kartu PA memperoleh perawatan yang sepenuhnya disubsidi atau gratis. Adapun lansia dalam kelompok PG dan MG hanya perlu membayar maksimal 5 dolar Singapura.
Bagi warga Singapura lainnya yang memenuhi syarat, biaya pengobatan terkait kabut asap dibatasi maksimal 10 dolar Singapura. Pembatasan biaya ini diharapkan membuat layanan kesehatan lebih mudah dijangkau ketika kualitas udara memburuk.
Meski demikian, subsidi tersebut berlaku untuk perawatan kondisi kesehatan yang berkaitan dengan kabut asap di klinik PHPC yang berpartisipasi dan seluruh poliklinik. Untuk memastikan layanan yang tersedia, masyarakat dapat memeriksa daftar klinik melalui situs resmi Kementerian Kesehatan Singapura.
3. Subsidi mencakup asma hingga infeksi saluran pernapasan

Ilustrasi Masker (pexels.com/ CDC) Kementerian Kesehatan Singapura juga menetapkan sejumlah kondisi medis yang dapat ditangani melalui HSS. Penyakit yang tercakup meliputi rinitis alergi, asma, bronkitis, konjungtivitis, penyakit paru obstruktif kronis atau chronic obstructive pulmonary disease (COPD), serta infeksi saluran pernapasan atas.
Komplikasi yang berkaitan dengan kondisi-kondisi tersebut juga termasuk dalam cakupan subsidi. Dengan demikian, program ini tidak hanya ditujukan bagi warga yang mengalami gangguan pernapasan, tetapi juga sejumlah masalah kesehatan lain yang masuk dalam daftar resmi pemerintah.
Warga yang membutuhkan pengobatan dapat mendatangi klinik dokter umum yang berpartisipasi dalam PHPC Scheme atau poliklinik. Klinik peserta dapat dikenali melalui stiker PHPC dan/atau poster HSS yang dipasang di lokasi.
Aktivasi subsidi ini menjadi langkah pemerintah Singapura untuk menjaga akses masyarakat terhadap layanan kesehatan di tengah memburuknya kualitas udara akibat kabut asap lintas batas. Namun, pengumuman tersebut tidak merinci negara asal kabut asap yang memicu penurunan kualitas udara dalam periode ini.




















