Ruang kelas dengan meja, kursi, buku, dan tas sebagai ilustrasi suasana perkuliahan. (Foto: Katerina Holmes/Pexels)
Hasil penyelidikan awal mengungkap bahwa pelaku tengah menjalani masa skorsing dan dalam perawatan medis akibat depresi. Dugaan perundungan dari teman sebaya serta sanksi akademik tersebut disinyalir menjadi pemicu aksi nekat sang siswa.
Proses hukum terhadap pelaku kini tengah bergulir dengan pendampingan khusus dari tim multidisipliner dan psikiater anak. Kepolisian juga terus mendalami kasus ini guna mengumpulkan fakta-fakta yang komprehensif.
"Pihak berwenang membutuhkan waktu untuk melakukan penyelidikan menyeluruh guna memastikan motif pasti di balik insiden ini," tegas Gubernur Kamphaeng Phet, Chatip Rujanaseri.
Sebagai langkah antisipasi trauma pascakejadian, pihak sekolah memberlakukan sistem pembelajaran daring selama dua hari ke depan. Protokol keamanan di lingkungan pendidikan setempat juga akan dievaluasi total sebelum aktivitas belajar mengajar kembali beroperasi normal.