Telepon Putin, Paus Leo Minta Rusia Gencatan Senjata dengan Ukraina

- Paus Leo XIV meminta Vladimir Putin menyetujui gencatan senjata dengan Ukraina agar bantuan makanan, medis, serta evakuasi aman dapat menjangkau warga sipil di Oleshky.
- Vatikan menyoroti krisis kemanusiaan serius di Oleshky, wilayah Kherson yang dikuasai Rusia, dan menegaskan komitmennya mendorong dialog serta perdamaian.
- Meski Paus sebelumnya juga menyerukan gencatan senjata, Rusia masih menyerang Ukraina; panggilan terbaru dilakukan setelah Paus Leo menjalani operasi dan didiagnosis kanker paru-paru.
Jakarta, IDN Times - Pemimpin Tertinggi Tahta Suci Vatikan, Paus Leo XIV, meminta Rusia agar mau menyepakati gencatan senjata dengan Ukraina. Permintaan itu disampaikan saat Paus melakukan panggilan telelon dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, pada Jumat (16/10/2026) kemarin.
Dalam kesempatan tersebut, Paus mengatakan, gencatan senjata ini diperlukan agar Vatikan dan negara-negara lainnya bisa mengirim bantuan kemanusiaan ke Kota Oleshky. Sebab, semua warga yang ada di kota tersebut kini sedang butuh bantuan akibat serangan bertubi-tubi dari Rusia.
1. Paus Leo prihatin akan krisis kemanusiaan di Oleshky

potret Pemimpin Tertinggi Tahta Suci Vatikan, Paus Leo XIV (commons.wikimedia.org/JacobTheRox) Saat menelepon Putin, Paus Leo juga menyampaikan keprihatinannya akan krisis kemanusiaan yang kini terjadi di Oleshky. Sebab, serangan di salah satu wilayah Ukraina yang sudah dikuasai Rusia itu sangat massif. Oleh karena itu, semua warga yang tinggal di sana kini butuh banyak bantuan.
"Selama percakapan tersebut, Bapak Suci menyampaikan keprihatinannya yang mendalam tentang situasi kemanusiaan yang gawat di kota Oleshky, di wilayah Kherson, dan menyerukan gencatan senjata untuk memungkinkan pengiriman bantuan makanan dan medis serta evakuasi sukarela dan aman bagi penduduk sipil. Akhirnya, Bapak Suci menegaskan kembali komitmen Takhta Suci untuk mempromosikan dialog dan perdamaian," demikian bunyi pernyataan Kantor Pers Tahta Suci Vatikan, seperti dilansir Vatican News.
2. Rusia masih menyerang Ukraina hingga saat ini

potret Kota Kyiv, Ukraina, yang hancur akibat serangan Rusia (pexels.com/Алесь Усцінаў) Pada Juni lalu, Paus Leo juga sempat melakukan percakapan telepon dengan Putin. Isi percakapan tersebut sama, yakni Paus meminta Putin untuk menyetujui gencatan senjata dengan Ukraina. Selain itu, Paus kala itu juga meminta Rusia berunding dengan Ukraina untuk menyelesaikan konflik di antara kedua negara.
Kendati demikian, Putin seperti tidak mengindahkan semua permintaan dari Paus. Buktinya, Rusia masih menyerang Ukraina hingga saat ini. Dalam pernyataannya pada Jumat, militet Moskow mengklaim telah melakukan serangan baru ke sembilan wilayah yang ada di Ukraina. Dilansir PBS News, serangan itu menyebabkan wilayah-wilayah tersebut kehilangan pasokan listrik.
3. Paus Leo divonis kanker paru

potret hasil rontgen paru-paru (pexels.com/Anna Shvets) Percakapan telepon dengan Putin ini dilakukan usai Paus Leo menjalani operasi paru-paru di Rumah Sakit Gomelli, Roma, Italia, Selasa (13/10/2026) lalu. Operasi tersebut dilakukan untuk mengangkat tumor yang bersarang di paru-paru Paus.
Usai dioperasi, Paus diketahui mengidap kanker paru-paru. Sebab, menurut keterangan tim dokter, tumor yang bersarang di paru-parunya ternyata bersifat ganas.
Vatikan mengatakan, tumor ganas yang bersarang di paru-paru Paus adalah adenocarcinoma. Dilansir laman resmi Cleveland Clinic, Adenocarcinoma merupakan salah satu jenis kanker yang paling umum ditemukan di paru-paru dan di organ tubuh lainnya. Beberapa di antaranya, seperti di prostat, payudara, usus, rektum, pankreas, dan esofagus.




















