Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tiap 90 Menit, Warga Palestina di Gaza Jadi korban Serangan Israel
Warga sedang berdemo menuntut Israel setop serangan ke Gaza, Palestina. (pexels.com/Mohammed Abubakr)
  • Islamic Relief melaporkan serangan Israel di Gaza sejak gencatan senjata Oktober 2025 menyebabkan warga Palestina tewas atau terluka setiap 90 menit.
  • Menurut Islamic Relief, 1.454 warga Gaza, termasuk 320 anak, tewas dan lebih dari 5.000 terluka; organisasi itu mendesak penghentian serangan berkelanjutan.
  • Kementerian Kesehatan Gaza mencatat 1.471 kematian sejak Oktober 2025, sementara blokade Israel menahan bantuan kemanusiaan, termasuk 900 kursi roda bagi anak-anak terluka.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Sejak gencatan senjata pada Oktober 2025 lalu, warga Palestina di Gaza justru malah semakin sering menjadi korban serangan brutal Israel. Menurut data terbaru dari organisasi amal asal Inggris, Islamic Relief, Kamis (8/10/2026), setiap 90 menit, ada banyak warga Palestina di Gaza yang tewas atau terluka akibat terkena serangan Pasukan Pertahanan Israel (IDF). 

Dalam laporan yang dirilis di laman resminya, Islamic Relief menjelaskan, sejak gencatan senjata pada tahun lalu, sudah ada sekitar 1.454 warga Gaza yang tewas akibat serangan Israel. Dari jumlah tersebut, 320 korban di antaranya merupakan anak-anak. Sementara itu, lebih dari 5.000 lainnya terluka. Jumlah ini, kata Islamic Relief, akan bertambah seiring berlanjutnya serangan IDF ke Gaza.

1. Islamic Relief mendesak Israel setop serangan brutal ke Gaza

Pasukan militer Israel (IDF) sedang melakukan serangan menggunakan tank baja. (flickr.com/Israel Defense Forces via commons.wikimedia.org/Israel Defense Forces)

Oleh karena itu, Islamic Relief mendesak Israel untuk segera menghentikan serangan brutal ke Gaza. Sebab, saat ini, serangan IDF sudah benar-benar membuat warga Gaza lumpuh hingga tidak bisa melakukan apa-apa. Ini karena serangan terus menerus terjadi tanpa henti setiap harinya.

“Sebenarnya, tidak ada gencatan senjata (di Gaza). Mereka (IDF) menargetkan kamp pengungsi dan daerah padat penduduk. Jadi, masih ada banyak ketakutan. Kami takut bahkan untuk meninggalkan rumah kami dan takut dengan suara drone di atas kami. Bahkan, rumah kami sendiri tidak aman. Sulit membayangkan Anda bisa menjadi korban selanjutnya. Pembunuhan terjadi tanpa henti dan kami tidak dapat menjalani hidup kami secara normal,” kata seorang anggota Islamic Relief anonim yang bertugas di Gaza.

2. Kementerian Kesehatan Gaza menyebut jumlah korban tewas tembus 1.471 orang

potret Gaza yang hancur diserang Israel (unsplash.com/Emad El Byed)

Di sisi lain, Kementerian Kesehatan Gaza menyebut korban tewas imbas serangan Israel sejak Oktober 2025 lalu kini sudah tembus 1.471 orang. Sementara itu, 5.18 orang lainnya dilaporkan terluka. Dilansir Al Jazeera, jumlah tersebut termasuk 28 warga Gaza yang terluka akibat serangan Israel selama 24 jam pada Kamis. 

Kementerian Kesehatan Gaza menambahkan, jika ditotal, korban tewas imbas agresi Israel di Gaza sejak Oktober 2023 lalu sudah tembus 74.254 orang. Kementerian tersebut lantas menyoroti komitmen Tel Aviv terhadap aturan gencatan senjata yang sudah disepakati dengan Hamas pada Oktober tahun lalu. Mereka menilai semua serangan Israel yang terjadi saat ini merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata sehingga harus segera dihentikan.

3. Israel memblokade bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza

ilustrasi bantuan kemanusiaan (pexels.com/RDNE Stock project)

Selain melakukan serangan, Israel juga kerap memblokade bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza. Hal ini membuat bantuan-bantuan tersebut tertahan dan tidak bisa langsung diberikan ke warga Palestina yang tinggal di wilayah tersebut. 

Pada akhir September lalu, misalnya, 900 bantuan kursi roda dari Australia untuk anak-anak Gaza yang terluka atau kakinya diamputasi dikabarkan tertahan di Yordania. Bantuan tersebut seharusnya sudah sampai ke Gaza pada tahun ini. Namun, upaya itu gagal karena IDF memblokade semua jalur masuk ke Gaza sehingga konvoi bantuan kemanusiaan tidak bisa mengirim bantuan ke sana.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article