Berkedok Bantuan Gaza, Jaksa AS Dakwa Penggalang Dana untuk Hamas

Jaksa federal AS mendakwa Saleem Alzaq atas dugaan skema penggalangan dana berkedok bantuan Gaza yang menyalurkan lebih dari 1,7 juta dolar AS kepada Hamas.
Alzaq diduga mengoperasikan jaringan lintas AS dan Prancis sejak 2020, sementara dua bersaudara Louisiana serta seorang pria Florida dituduh mengirim dana dan menyebarkan propaganda.
Penyelidikan polisi New York menyamar mengungkap dugaan penggunaan kode “roti” dan “the Green” untuk dana Hamas; Alzaq belum ditangkap karena berada di Gaza.
Jakarta, IDN Times - Jaksa federal Amerika Serikat mengumumkan dakwaan terhadap dugaan skema penggalangan dana internasional yang dituduh mengalirkan lebih dari 1,7 juta dolar AS atau setara Rp30,40 miliar (kurs Rp17.881) ke kelompok Hamas. Dokumen dakwaan perkara ini dibuka kepada publik pada Kamis (1/10/2026).
Penggalangan dana tersebut dijalankan dengan dalih mengumpulkan bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina di Jalur Gaza. Dilansir CBS News, donasi yang terkumpul dalam skema ini mencakup sedikitnya 626 ribu dolar AS atau setara Rp11,19 miliar yang berasal dari para donatur di Amerika Serikat.
1. Skema penggalangan dana berkedok bantuan warga Gaza

ilustrasi bantuan kemanusian (pexels.com/Gustavo Fring) Jaksa federal menuduh seorang warga Gaza bernama Saleem Alzaq (45 tahun) membantu mengoperasikan kampanye penggalangan dana yang diklaim untuk bantuan kemanusiaan. Alzaq dituduh telah menjadi anggota Hamas setidaknya sejak 2017 dan diduga mengunggah propaganda kelompok tersebut di media sosial, termasuk merayakan serangan 7 Oktober 2023. Dari Januari 2020 hingga Desember 2025, Alzaq bersama rekan konspiratornya diduga mengumpulkan dana publik berkedok penyediaan makanan serta kebutuhan musim dingin bagi warga Gaza.
Alzaq juga dituduh meluncurkan kampanye penggalangan dana baru pada 7 Oktober 2023 dengan klaim menghimpun uang bagi warga Gaza yang terluka pada hari tersebut. Kampanye itu tercatat tetap dibuka hingga sekitar 12 Oktober 2023. Atas perbuatannya, Alzaq didakwa empat pasal konspirasi federal, termasuk konspirasi memberikan dukungan materiil kepada Hamas dan pencucian uang, meski saat ini dia belum ditangkap karena berada di Gaza.
2. Peran jaringan di Louisiana dan penggunaan kode rahasia

ilustrasi pengadilan (pexels.com/Towfiqu barbhuiya) Kampanye penggalangan dana internasional yang dijalankan Alzaq diduga beroperasi lintas negara mencakup Amerika Serikat dan Prancis, dengan rekan konspirator di Prancis yang membantu mengumpulkan serta mentransfer uang. Di Amerika Serikat, dua bersaudara asal Louisiana, Abdel Adhami dan Omar Adhami, baru-baru ini ditangkap atas tuduhan kejahatan terorisme federal serta penipuan kawat (wire fraud). Berdasarkan laporan The New York Post, Abdel dituduh melakukan pembayaran lebih dari 83 ribu dolar AS atau setara Rp1,48 miliar sejak 2023 hingga 2026, sedangkan Omar mengirimkan 6.000 dolar AS atau setara Rp107,29 juta. Sementara itu, laporan CBS News mencatat kedua bersaudara tersebut secara keseluruhan diduga menyumbang sekitar 105 ribu dolar AS atau setara Rp1,88 miliar.
Penyelidikan mendapati bahwa kedua bersaudara tersebut memakai istilah sandi bread atau roti untuk merujuk pada uang tunai maupun para pejuang Hamas. Dalam komunikasi Snapchat pada Januari 2024 yang dikutip dokumen pengadilan, Alzaq merujuk pada donasi tersebut dengan menyatakan, "Beberapa dari mereka menerima roti, segala puji bagi Tuhan". Abdel juga dituduh memakai berbagai akun Snapchat untuk menyebarkan propaganda Hamas, meminta donasi, dan mengarahkan pengguna ke akun Telegram yang mempromosikan propaganda Hamas serta Jihad Islam Palestina.
Selain kedua bersaudara asal Louisiana, seorang pria asal Florida diduga memberikan hampir 50 ribu dolar AS atau setara Rp894,05 juta kepada jaringan tersebut. Dokumen dakwaan turut membeberkan bahwa Alzaq menasihati para donatur agar tidak menyebut referensi Hamas guna mencegah pemblokiran akun keuangan. Pada Oktober 2024, Alzaq menginstruksikan para pengikutnya agar tidak menuliskan kalimat "Free Palestine" atau "long live Hamas" pada donasi ke akun PayPal miliknya.
3. Operasi polisi menyamar dan pernyataan kepolisian New York

ilustrasi polisi (pexels.com/Kindel Media) Berdasarkan dokumen dakwaan yang dilaporkan CBS News, penyelidikan perkara ini mencatat perkembangan pada November 2025 ketika seorang petugas kepolisian New York yang menyamar sebagai pendukung Hamas menghubungi Alzaq melalui Snapchat. Sebulan berselang, Alzaq mengarahkan polisi yang menyamar itu untuk menghubungi Abdel di Louisiana guna membahas mekanisme pengiriman dana rutin. "Hubungi dia dan capai kesepakatan dengannya serta lihat apa metode terbaiknya, bagaimana cara mentransfer, bagaimana cara mengirimnya (dana). Pemuda ini mentransfer kepada saya setiap bulan," bunyi pesan Alzaq kepada petugas tersebut.
Alzaq juga memberi tahu petugas yang menyamar bahwa dia bekerja dengan orang-orang yang ingin mengirimkan uang kepada "the Green", kode yang menurut jaksa merujuk pada Hamas. Alzaq mengaku menyerahkan uang tersebut kepada the Green, namun menyebut akan sulit memberikan bukti karena anggota Hamas menghindari kartu identitas. Abdel pun sempat meyakinkan petugas yang menyamar itu melalui pesan tertulis: "Namun jangan khawatir, semuanya legal, jika Tuhan menghendaki".
Penyelidikan mencatat belum dapat dipastikan apakah petugas yang menyamar tersebut benar-benar mengirimkan uang kepada Abdel. Mengenai pengungkapan perkara ini, Komisaris NYPD Jessica Tisch menyatakan bahwa analis intelijen mereka berhasil mengungkap jaringan keuangan internasional yang menyalurkan lebih dari 2 juta dolar AS atau setara Rp35,76 miliar ke Hamas. "Saleem Alzaq, seorang pemimpin di sayap militer Hamas yang bertanggung jawab merencanakan dan melaksanakan serangan teroris, dan para terdakwa lainnya diduga meminta donasi dengan kedok bantuan kemanusiaan lalu mengarahkan uang tersebut ke Hamas," tegas Tisch.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















