Penampakan Selat Hormuz dari satelit (Jacques Descloitres, MODIS Land Rapid Response Team, NASA/GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons)
Kebijakan ini dinilai berpotensi memperburuk situasi dan melemahkan gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran yang sebelumnya telah disepakati. Dalam kesepakatan itu, Iran diharapkan menjaga Selat Hormuz tetap terbuka, namun aktivitas pelayaran di kawasan tersebut belum menunjukkan peningkatan signifikan.
Iran menuduh AS melanggar kesepakatan dengan memberi ruang bagi Israel untuk melanjutkan serangan di Lebanon. Pakistan sebagai mediator menegaskan bahwa perjanjian tersebut mencakup seluruh kawasan, termasuk Lebanon.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, yang memimpin delegasi negosiasi Tehran di Islamabad, menilai kebijakan ini akan berdampak pada harga energi di AS. Ia menyebut harga rata-rata bensin telah melampaui 4,12 dolar AS (setara Rp70 ribu) per galon atau 2,8 liter, meningkat dari sebelumnya di bawah 3 dolar AS (setara Rp51 ribu).
“Nikmati angka pompa saat ini. Dengan apa yang disebut ‘blokade’, Segera Anda akan merindukan bensin 4-5 dolar AS (setara Rp68-85 ribu),” tulis Ghalibaf di X, dikutip Al Jazeera.
Perundingan selama 21 jam di Islamabad mengalami kebuntuan pada isu akses Selat Hormuz dan keberlanjutan program nuklir Iran. Pakistan menyatakan akan melanjutkan mediasi, sementara Perdana Menteri Shehbaz Sharif menegaskan komitmen negaranya untuk menjaga momentum menuju stabilitas.
Trump menyampaikan bahwa jalur diplomasi masih terbuka setelah menerima komunikasi dari pihak terkait yang ingin menyelesaikan kesepakatan. Secara terpisah, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengumumkan rencana misi multinasional damai guna memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, termasuk rencana konferensi bersama Inggris dalam waktu dekat.