Demo Besar-besaran di Bolivia, Dua Menteri Mundur

- Dua menteri Bolivia, Beatriz Garcia dan Marcelo Salinas, mengundurkan diri di tengah demonstrasi besar yang menuntut Presiden Rodrigo Paz mundur dari jabatannya.
- Blokade jalan oleh demonstran menyebabkan krisis pasokan makanan, obat-obatan, dan BBM, serta memicu bentrokan antara warga perkotaan dan pedesaan dengan korban jiwa mencapai sembilan orang.
- Kelangkaan bahan pokok di La Paz makin parah, aktivitas sekolah terganggu, dan oposisi mendesak pemerintah segera mengakhiri blokade demi menjaga stabilitas serta hak warga.
Jakarta, IDN Times - Menteri Pendidikan Bolivia, Beatriz Garcia dan Menteri Pertahanan Bolivia, Marcelo Salinas memutuskan mundur dari jabatannya. Kedua menteri itu memilih mundur di tengah demonstrasi besar untuk medesak Presiden Bolivia, Rodrigo Paz mundur dari jabatannya.
Lebih dari sebulan terakhir, situasi di Bolivia terus memanas imbas pemblokiran jalan di ibu kota La Paz dan El Alto oleh demonstran. Alhasil, ibu kota Bolivia mengalami kelumpuhan dan pemerintah sudah berupaya membuka jalur kemanusiaan untuk menembus massa.
1. Demonstran mendesak Presiden Paz mundur

Ribuan demonstran sudah berkumpul di El Alto untuk mendesak mundurnya Presiden Paz. Demonstran menyuarakan tekanan yang lebih besar dan menolak dialog dengan pemerintahan sayap kanan di Bolivia dan bersatu dengan Persatuan Pekerja Bolivia (COB).
Dilansir Orinoco Tribune, pertemuan terbuka ini diselenggarakan oleh Federasi Dewan Lingkungan Masyarakat Bolivia (FEJUVE) di El Alto. Organisasi tersebut juga sudah menyelenggarakan demonstrasi sejak awal Mei.
Selain itu, demonstran juga menolak rencana penetapan darurat militer di Bolivia. Sebab, darurat militer dapat menjadi alat bagi Paz untuk dapat menerjunkan tentara dalam melawan demonstran.
2. Blokade jalan picu kerusuhan antara warga perkotaan dan pedesaan

Krisis politik di Bolivia telah mengancam timbulnya kerusuhan besar antara warga perkotaan dan pedesaan. Sebab, blokade jalan di Bolivia sudah mengakibatkan terganggunya suplai makanan, obat-obatan, dan bahan bakar minyak (BBM).
Setidaknya sudah ada 9 orang tewas dalam demonstrasi di negara Amerika Selatan tersebut. Pakar bernama Pedro Portugal dan Gabriela Canedo memperingatkan bahwa blokade ini dapat memicu konflik antaretnis di Bolivia.
“Pemerintah tidak melakukan apapun dan sepertinya menunggu adanya dukungan dari warga untuk melawan blokade dan menyelesaikan masalah ini dengan konflik antarwarga sipil,” tuturnya, dikutip dari Mercopress, Kamis (4/6/2026).
3. Kelangkaan makanan dan BBM di La Paz kian parah

Setelah diblokir selama lebih dari sebulan, kelangkaan makanan dan BBM di La Paz semakin parah. Warga La Paz mulai khawatir dengan kondisi terkini dan sejumlah warga mendesak pemerintah segera bertindak untuk menangani blokade jalan.
Sementara itu, sekolah juga terdampak akibat blokade jalan di La Paz. Ribuan anak sekolah terpaksa belajar secara online seperti saat pandemi. Sejumlah toko di Pasar Camacho juga tutup dan hanya beberapa yang buka.
Menanggapi hal ini, pemimpin oposisi Bolivia, Jorge Quiroga mendesak pemerintah Bolivia untuk mengakhiri blokade ini. Menurutnya, pemerintahan Paz cenderung pasif, tapi ia mendesak aparat keamanan untuk menjamin hak seluruh warga Bolivia.

















