Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Baru Berlaku, Hizbullah Sudah Tolak Gencatan Senjata Israel-Lebanon

Baru Berlaku, Hizbullah Sudah Tolak Gencatan Senjata Israel-Lebanon
potret Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem (commons.wikimedia.org/Hamed Malekpor)
Intinya Sih
  • Hizbullah menolak gencatan senjata Israel-Lebanon karena Israel masih menyerang Lebanon selatan, meski kesepakatan baru berlaku sejak 3 Juni 2026.
  • Sebelumnya Hizbullah sempat menyetujui gencatan senjata dan memperingatkan Israel agar tidak melanggar perjanjian, dengan ancaman serangan ke kota besar seperti Haifa dan Tel Aviv.
  • Israel menanggapi dingin penolakan Hizbullah, menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata hanya dibuat antara Israel, Lebanon, dan Amerika Serikat tanpa melibatkan milisi tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Jakarta, IDN Times - Milisi Hizbullah secara tiba-tiba menolak gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Hizbullah dikabarkan sudah menyampaikan penolakan ini ke Pemerintah Lebanon pada Kamis (4/6/2026). Sebab, merekalah yang terlibat dalam pengesahan gencatan senjata dengan Israel. 

Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, menjelaskan, penolakan ini dilakukan karena Israel hingga kini masih menyerang Lebanon selatan. Dalam pernyataannya, Qassem menegaskan, selama Israel masih melanjutkan agresinya di wilayah tersebut, Hizbullah tidak akan menyetujui gencatan senjata. Qassem juga menegaskan Hizbullah akan tetap menyerang Israel sampai mereka menghentikan agresi di Lebanon selatan.

1. Gencatan senjata Israel dan Lebanon baru kembali berlaku

Gencatan senjata.
ilustrasi gencatan senjata (commons.wikimedia.org/Kidfly182)

Sebetulnya, gencatan senjata antara Israel dan Lebanon baru kembali berlaku pada Rabu (3/6/2026) lalu. Kesepakatan ini diraih usai kedua negara melakukan negosiasi perdamaian tahap keempat yang dihelat di Washington D.C., Amerika Serikat, pada Selasa (2/6/2026) dan Rabu (3/6/2026).  

Gencatan senjata ini mewajibkan Israel menahan serangan terhadap Hizbullah di Lebanon. Di sisi lain, Hizbullah juga dilarang untuk melakukan serangan terhadap Israel. Selain itu, milisi tersebut juga diwajibkan untuk menarik seluruh pasukannya dari Lebanon selatan, tepatnya dari wilayah sekitar Sungai Litani.  

2. Hizbullah sempat menyetujui gencatan senjata Israel dan Lebanon

Bendera Hizbullah.
potret logo Hizbullah (commons.wikimedia.org/Khaerr)

Saat gencatan senjata Israel dan Lebanon diumumkan AS, Hizbullah sebetulnya sempat memberi lampu hijau. Kala itu, Hizbullah meminta Israel untuk mematuhi gencatan senjata yang sudah kembali berlaku dengan Lebanon. Jika melanggar, milisi tersebut menegaskan tidak akan segan-segan untuk menyerang kota-kota besar yang ada di Israel, seperti Haifa dan Tel Aviv.  

“Hari ini, mereka (Israel) harus menyadari bahwa setiap pelanggaran akan dibalas dan bahwa tentara mereka di selatan akan tetap rentan terhadap pembunuhan setiap hari sampai penarikan pasukan. Oleh karena itu, setiap eskalasi akan dibalas dengan respons besar dan komprehensif,” ujar Wakil Kepala Dewan Politik Hizbullah, Mahmoud Kamati, dalam sebuah unggahan di X, seperti dilansir The New Arab

3. Israel masa bodoh dengan penolakan Hizbullah

Bendera Israel sedang berkibar.
potret bendera Israel (pexels.com/Oren Noam Gilor)

Kendati demikian, Hizbullah kini berubah pikiran dan menolak gencatan senjata Israel dan Lebanon. Sebab, usai gencatan senjata diumumkan, Israel rupanya masih meluncurkan serangan ke Lebanon selatan hingga menewaskan empat orang. Serangan tersebut juga menewaskan satu pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) yang bertugas di sana.

Namun, penolakan gencatan senjata dari Hizbullah ini tidak ditanggapi Serius oleh Israel. Mereka cenderung tidak peduli terhadap penolakan tersebut. Seorang pejabat Israel anonim mengatakan, Israel menyepakati gencatan senjata dengan Lebanon, bukan dengan Hizbullah. Jadi, milisi itu tidak punya hak apa pun untuk menyudahi apalagi menolak gencatan senjata yang sudah disepakati kedua negara.

"Kami tidak bernegosiasi dengan Hizbullah. Israel, Lebanon, dan Amerika Serikat sedang berupaya menerapkan gencatan senjata berdasarkan pemahaman bahwa Hizbullah akan dilucuti senjatanya dan Lebanon selatan akan didemiliterisasi," kata pejabat tersebut.  

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar

Related Articles

See More