AS Ancam Blokade Iran, Rupiah Tertekan ke Rp17.105 Sore Ini

- Rupiah ditutup melemah di level Rp17.105 per dolar AS akibat tekanan global dan sentimen negatif dari konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
- Ancaman blokade Selat Hormuz oleh Angkatan Laut AS memicu ketegangan baru, membuat pasar khawatir terhadap stabilitas pasokan energi dunia dan memperburuk pelemahan rupiah.
- Tingginya inflasi AS menipiskan harapan penurunan suku bunga The Fed, sementara analis memprediksi rupiah masih berisiko melemah pada perdagangan Selasa di kisaran Rp17.100–Rp17.150 per dolar AS.
Jakarta, IDN Times - Nilai tukar atau kurs rupiah terpantau loyo dan harus mengakui keunggulan dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (13/4/2026). Rupiah sore ini parkir di level Rp17.105 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda mengalami pelemahan tipis sebesar 1 poin atau 0,01 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.104 per dolar AS. Rupiah sempat terperosok hingga 40 poin.
1. Sentimen pasar dipengaruhi ancaman blokade Selat Hormuz
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyoroti sentimen pasar sangat terpukul oleh kegagalan perundingan perdamaian antara AS dan Iran. Presiden AS Donald Trump pun telah menginstruksikan Angkatan Laut AS untuk memblokade Selat Hormuz mulai Senin. Langkah tersebut diambil setelah perundingan panjang gagal mencapai kesepakatan, yang secara otomatis membahayakan gencatan senjata dua minggu yang selama ini sudah sangat rapuh.
Komando Pusat AS menegaskan bahwa pasukan mereka akan menyetop seluruh lalu lintas maritim yang keluar-masuk pelabuhan Iran, tanpa terkecuali bagi kapal dari negara manapun. Meski kapal yang menuju pelabuhan non-Iran tetap diberikan kebebasan navigasi, Garda Revolusi Iran langsung merespons keras.
"Garda Revolusi Iran mengatakan pada hari Minggu bahwa setiap kapal militer yang mencoba mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata dan akan ditindak dengan keras dan tegas," kata Ibrahim.
2. Harapan bunga The Fed turun makin tipis
Kondisi rupiah semakin sulit akibat rilis data indeks harga konsumen (IHK) atau inflasi AS yang menunjukkan lonjakan tajam. Inflasi tersebut dipicu oleh melambungnya harga energi akibat konflik Iran yang berkepanjangan. Angka inflasi yang tinggi memperkuat dugaan para pelaku pasar bahwa bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) tidak akan memangkas suku bunga dalam beberapa bulan ke depan.
"Angka tersebut semakin memperkuat ekspektasi bahwa The Fed tidak akan memangkas suku bunga dalam beberapa bulan mendatang," paparnya.
Kini, pasar juga sedang menanti rilis data indeks harga produsen (IHP) Maret pada Selasa (14/4/2026) untuk melihat arah kebijakan ekonomi AS selanjutnya.
3. Rupiah diramal kembali melemah di perdagangan Selasa
Jika melihat pergerakan sejak awal tahuh, rupiah saat ini mencatatkan pelemahan sebesar 2,55 persen. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir atau 52 minggu, nilai tukar rupiah bergerak di rentang Rp16.079 hingga Rp17.140 per dolar AS.
Untuk perdagangan Selasa, Ibrahim memproyeksikan rupiah masih akan bergerak fluktuatif, namun tetap berisiko ditutup melemah kembali di rentang antara Rp17.100 hingga Rp17.150 per dolar AS.


















