Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Trump Ancam Lancarkan Serangan Baru ke Iran usai Aksi Saling Serang
Presiden AS, Donald Trump ( The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • Trump mengancam serangan lanjutan terhadap Iran setelah militer AS menyerang wilayah pesisir selatan Iran, yang dibalas Teheran dengan serangan ke pangkalan AS di Bahrain, Irak, dan Yordania.
  • Pejabat Iran menyatakan 18 orang, termasuk dua anak, tewas dalam serangan AS; empat korban meninggal akibat serpihan rudal yang menghantam rumah saat pesta pernikahan di Kuhestak.
  • MoU AS-Iran yang ditandatangani Juni runtuh dalam hitungan minggu, sementara konflik memicu kenaikan harga minyak, tekanan politik bagi Trump, dan upaya Iran memperbesar biaya perang bagi AS.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, pada Rabu (2/9/2026), mengancam akan melancarkan serangan lebih lanjut terhadap Iran. Ia memperingatkan bahwa AS dapat menghantam Iran kapan saja mereka mau.

Sebelumnya, pada Selasa (1/9/2026), militer AS menyerang sejumlah kota dan wilayah di sepanjang pesisir selatan Iran, dekat Selat Hormuz. Iran kemudian membalas dengan menyerang pangkalan-pangkalan militer AS di berbagai kawasan Timur Tengah, termasuk Bahrain, Irak, dan Yordania. Aksi saling serang ini merupakan yang besar sejak Juli 2026.

"Kami menghantam mereka dengan sangat keras tadi malam dan bahwa serangan-serangan tersebut melenyapkan semua peralatan baru yang coba mereka bangun di sepanjang Selat Hormuz. Itu adalah serangan yang sangat hebat tadi malam. Dan kami siap untuk melakukan serangan lagi. Kapan pun kami mau," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.

1. 18 orang tewas akibat serangan AS di Iran

serangan Israel di ibu kota Iran, Teheran, dalam perang pada Juni 2025

Pejabat Iran menyebutkan bahwa total 18 orang, termasuk dua anak-anak, tewas akibat serangan AS. Empat di antaranya meninggal setelah serpihan rudal menghantam sebuah rumah yang tengah mengadakan pesta pernikahan di kota Kuhestak, wilayah Sirik. Salah satu korban berusia 4 tahun.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut serangan di Kuhestak sebagai kejahatan perang. Ia juga menepis pernyataan Komando Pusat AS (Centcom) sebelumnya yang mengklaim bahwa mereka tidak pernah menargetkan warga sipil.

"Kenyataannya begitu mengerikan hingga propaganda Amerika pun tidak pernah berani melontarkan klaim seperti yang dibuat (militer AS) hari ini. Sirik bukan sekadar cerita. Warga sipil itu nyata. Para korbannya nyata," tulis Baghaei di platform X.

Media Iran melaporkan bahwa pemakaman keempat korban di Kuhestak akan digelar pada Kamis (3/9/2026).

2. Nota kesepahaman (MoU) AS-Iran runtuh hanya dalam hitungan minggu

protes solidaritas terhadap Iran (Matt Hrkac from Geelong / Melbourne, Australia, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Perang ini bermula pada 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran, yang menewaskan pemimpin tertinggi negara itu dan sejumlah pejabat tinggi lainnya. Iran membalas dengan menyerang Israel, pangkalan-pangkalan militer AS dan negara-negara sekutunya di kawasan Teluk serta secara efektif menutup Selat Hormuz bagi pelayaran komersial.

Pada Juni 2026, AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang menyerukan penghentian konflik dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Kesepakatan tersebut juga memberikan waktu 2 bulan bagi kedua belah pihak untuk mencapai kesepakatan final yang mencakup program nuklir Iran, sanksi AS dan gencatan senjata permanen. Sayangnya, MoU tersebut runtuh dalam hitungan minggu, yang berujung pada kembali pecahnya permusuhan.

Pekan lalu, AS mengindikasikan bahwa mereka beralih menggunakan sanksi ekonomi terhadap Iran dalam upaya mendorong Teheran memberikan konsesi dan membuka kembali Selat Hormuz. Namun, pejabat Iran menganggap langkah tersebut sebagai kelanjutan dari kebijakan ekonomi AS yang telah diterapkan sebelumnya, dilansir BBC.

3. Iran berupaya membuat perang semakin mahal dan merugikan AS

bendera Iran (unsplash.com/sina drakhshani)

Perang AS-Iran telah memicu lonjakan harga minyak, mengguncang perekonomian global dan semakin menimbulkan persoalan politik bagi Partai Republik yang dipimpin Trump. Berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan oleh kantor berita Reuters dan lembaga survei Ipsos pada Agustus 2026, hanya 31 persen warga AS yang menyetujui perang tersebut, sementara sekitar 63 persen menyatakan tidak setuju.

Dilansir Al Jazeera, Tariq Khan, pensiunan letnan jenderal Pakistan dan mantan komandan Frontier Corps Angkatan Darat Pakistan, mengatakan bahwa Iran menyadari bahwa mereka tidak mampu mengalahkan AS secara konvensional. Oleh sebab itu, Teheran berupaya membuat perang tersebut menjadi beban yang mahal bagi Trump.

“Iran tidak membutuhkan kemenangan di medan perang; Iran perlu tetap bertahan, mempertahankan gangguan ekonomi, dan membuat perang ini semakin merugikan AS secara politik. Teheran harus membuat kemenangan Amerika semakin sulit diwujudkan—secara militer, ekonomi, dan elektoral," ujar Khan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article