Pemerintah Nepal menambahkan, sistem peringatan bencana yang baru akan dilengkapi peralatan dengan teknologi lebih canggih. Beberapa di antaranya, seperti sensor seismik, kamera, dan sistem satelit. Sistem satelit nantinya akan digunakan oleh pihak berwenang untuk memantau tanda-tanda bencana dari luar angkasa. Cara ini dinilai lebih efektif untuk mendeteksi bencana yang akan datang.
Cegah Banjir, Nepal Perbaiki Sistem Peringatan Bencana di Perbatasan

Pemerintah Nepal akan merekonstruksi sistem peringatan dini di perbatasan Tibet, China, usai banjir dan longsor 26 Agustus merusak sistem lama.
Sistem baru akan ditempatkan di wilayah rawan seperti Distrik Rasuwa, dilengkapi sensor seismik, kamera, dan satelit untuk meningkatkan pemantauan tanda bencana.
Banjir dan longsor telah menewaskan 1.234 orang, sementara lebih dari 4.400 orang hilang; tentara, polisi, dan pasukan asing masih melakukan pencarian serta evakuasi.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Nepal pada Rabu (2/9/2026) mengatakan pihaknya akan merekonstruksi sistem peringatan dini bencana yang ada di perbatasan Tibet, China, setelah diterjang banjir dan longsor pada 26 Agustus lalu. Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan pencegahan agar bencana katastropik seperti yang terjadi pekan lalu tidak memakan banyak korban di kemudian hari.
1. Sistem peringatan bencana akan ditaruh di lokasi paling rawan

Warga korban banjir bandang duduk di samping puing-puing sembari menyelamatkan barang-barang mereka setelah banjir bandang melanda Devighat di distrik Nuwakot, Nepal, pada 31 Agustus 2026 (AFP/Arun Sankar)) Seorang pejabat Nepal yang tidak disebut namanya mengatakan, sistem peringatan bencana yang baru akan ditempatkan di lokasi paling rawan bencana. Salah satunya di Distrik Rasuwa, wilayah perbatasan Nepal dan China yang pekan lalu dihantam banjir dan tanah longsor.
Nepal sendiri sebetulnya sudah pernah membangun sistem peringatan dini di perbatasan dengan China. Namun, sistem tersebut rusak parah dan tidak bisa diperbaiki lagi usai diterjang banjir dan tanah longsor pada pekan lalu. Semua alat yang ada di sekitar lokasi sistem juga hilang terbawa banjir.
2. Sistem peringatan bencana tidak bekerja optimal saat banjir dan tanah longsor terjadi

potret sistem peringatan dini bencana (pexels.com/Hakan Kayahan) Pejabat Nepal tadi menambahkan, saat banjir dan tanah longsor terjadi, sistem peringatan bencana yang ada di perbatasan China tidak berfungsi dengan baik. Oleh karena itu, otoritas setempat gagal memberikan peringatan awal sehingga saat terjadi bencana, para warga tidak sempat menyelamatkan diri. Inilah yang akhirnya membuat banjir pekan lalu menewaskan ribuan orang.
"Kami memiliki sensor dan stasiun pemantauan. Namun, pemantauannya tidak dilakukan secara ekstensif. Sebab, kami tidak menyadarinya dan kami tidak bisa memeriksa kapan mereka gagal," kata pejabat Nepal, seperti dilansir Jerusalem Post.
3. Jumlah korban tewas banjir dan longsor di Nepal sudah lebih dari 1.000 orang

Seorang wanita melihat foto-foto orang hilang pascabanjir bandang di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Tribhuvan, Kathmandu, pada 30 Agustus 2026 (AFP/MANAN VATSYAYANA Saat ini, jumlah korban tewas imbas banjir dan tanah longsor di Nepal sudah lebih dari 1.000 orang. Berdasarkan data terbaru yang dirilis The Hindu, per Rabu, jumlah korban akibat bencana tersebut sudah tembus 1.234 orang. Sementara itu, lebih dari 4.400 orang lainnya masih dinyatakan hilang.
Saat ini, petugas penyelamat yang terdiri dari tentara dan polisi Nepal serta pasukan dari negara asing sedang berupaya mencari dan mengevakuasi para korban yang hilang. Sayangnya, jenazah mereka kini diprediksi sudah membusuk karena tertimbun lumpur lebih dari seminggu.


















