Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Trump Hapus Gambar AI Mirip Yesus usai Dihujani Kritik
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sedang diwawancara oleh media. (flickr.com/The White House via commons.wikimedia.org/The White House)
  • Donald Trump menghapus unggahan gambar AI di Truth Social setelah dikritik karena dianggap menyerupai Yesus, meski ia menegaskan gambar itu hanya simbol dirinya membantu orang sakit.
  • Paus Leo XIV menanggapi singkat kritik Trump dan menekankan pentingnya perdamaian serta dialog global, sementara hubungan Vatikan dan Gedung Putih makin tegang akibat isu kebijakan internasional.
  • Insiden ini muncul saat Trump berusaha mempertahankan dukungan pemilih Kristen melalui berbagai langkah politik dan keagamaan, termasuk pembentukan komisi serta penunjukan penasihat rohani di pemerintahan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menghapus unggahan gambar berbasis kecerdasan buatan (AI) dari akun Truth Social miliknya pada Senin (13/4/2026). Tindakan itu diambil setelah muncul gelombang kritik yang menilai visual tersebut menyerupai Yesus Kristus yang sedang menyembuhkan orang sakit.

Gambar tersebut sebelumnya diunggah pada Minggu (12/4/2026) dengan menampilkan Trump mengenakan jubah putih panjang berpadu sabuk merah. Ia terlihat meletakkan tangan kanan yang memancarkan cahaya ke dahi seorang pria di ranjang rumah sakit, dengan latar elemen simbol Amerika seperti bendera AS, Patung Liberty, elang, kembang api, dan jet tempur.

1. Trump bantah gambar AI menggambarkan dirinya sebagai Yesus

Presiden AS Donald Trump berbicara di CPAC Februari 2011. (Mark Taylor from Rockville, USA, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Unggahan tersebut muncul tak lama setelah Trump melontarkan kritik terhadap Paus Leo XIV melalui media sosial. Ia menyebut paus asal AS itu lemah dalam menghadapi kejahatan serta buruk dalam urusan kebijakan luar negeri.

Saat berbicara kepada wartawan di luar Gedung Putih, Trump membantah bahwa gambar tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan dirinya sebagai Yesus.

"Saya mempostingnya dan saya pikir itu adalah saya sebagai seorang dokter dan ada hubungannya dengan Palang Merah," katanya, dikutip The Independent.

Trump juga menyampaikan bahwa ia mengunggah gambar tersebut karena menganggapnya sebagai simbol dirinya yang membantu orang menjadi lebih baik. Ia kemudian menyalahkan media atas interpretasi yang mengaitkan gambar itu dengan Yesus serta menegaskan tak akan meminta maaf kepada Paus Leo XIV karena menganggap paus tersebut telah membuat pernyataan yang keliru.

2. Paus Leo XIV menanggapi kritik Trump secara singkat

Paus Leo XIV (Edgar Beltrán, The Pillar, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Paus Leo XIV memberikan respons saat berada dalam perjalanan menuju Algiers untuk memulai kunjungan ke empat negara Afrika. Ia memilih untuk tak memperpanjang polemik dengan Presiden AS tersebut.

“Saya tak ingin terlibat dalam perdebatan dengannya,” kata Paus Leo XIV, dikutip Al Jazeera.

Ia menegaskan komitmennya untuk terus menyuarakan penolakan terhadap perang, mendorong perdamaian, serta memperkuat dialog dan kerja sama multilateral antarnegara demi solusi yang adil. Ia juga menyoroti banyaknya korban jiwa dan penderitaan global, sehingga diperlukan keberanian untuk menyatakan bahwa ada jalan yang lebih baik.

Pernyataan itu memperkeruh hubungan yang sudah tegang antara Gedung Putih dan Vatikan terkait isu kebijakan imigrasi AS, operasi militer Amerika, serta konflik AS-Israel melawan Iran. Uskup Agung Paul S. Coakley menyampaikan kekecewaan atas pernyataan Trump yang dinilai merendahkan Paus, sekaligus menegaskan bahwa Paus Leo XIV bukan rival politik melainkan Wakil Kristus yang berbicara berdasarkan Injil dan demi keselamatan umat.

3. Trump menjaga dukungan pemilih Kristen dalam politik

ilustrasi pemungutan suara (pexels.com/Edmond Dantès)

Insiden ini terjadi saat pemerintahan Trump berupaya mempertahankan dukungan dari pemilih Kristen. Meski jarang menghadiri kebaktian, ia tetap meraih sokongan signifikan dari kelompok tersebut dalam pemilu 2024, dengan 56 persen umat Katolik memilih Trump dan 42 persen mendukung lawannya berdasarkan analisis Ryan Burge dari Washington University.

Sejumlah langkah dilakukan untuk mendekati kelompok ini, termasuk membentuk satuan tugas di Departemen Kehakiman guna menangani kekerasan anti-Kristen. Selain itu, Trump menunjuk pendeta televangelis Paula White-Cain sebagai penasihat senior di Kantor Iman Gedung Putih serta membentuk Komisi Kebebasan Beragama yang melibatkan tokoh seperti Paula White-Cain, Pendeta Franklin Graham, Kardinal Timothy Dolan, dan Uskup Robert Barron.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team