Trump Sebut Paus Leo XIV Lemah Setelah Dikritik soal Perang Iran

- Paus Leo XIV mengecam keras ancaman militer Trump terhadap Iran, menilai serangan ke warga sipil sebagai pelanggaran moral dan hukum internasional serta menyerukan kembalinya dialog damai.
- Trump membalas lewat media sosial dengan menyebut Paus Leo XIV lemah dan terlalu liberal, menegaskan kebijakan militernya demi keamanan nasional meski menuai kritik dari pemimpin agama.
- Upaya gencatan senjata yang dimediasi Pakistan gagal total, membuat ketegangan global meningkat dan memperkuat perbedaan tajam antara seruan damai Vatikan dan sikap keras Gedung Putih.
Jakarta, IDN Times - Ketegangan antara Gedung Putih dan Vatikan mendadak jadi sorotan dunia pada pertengahan April 2026 ini. Presiden Donald Trump secara terbuka menyerang Paus Leo XIV lewat media sosial, setelah pemimpin tertinggi Gereja Katolik tersebut memberikan teguran keras terkait kebijakan militer Amerika Serikat di Iran.
Konflik ini menarik perhatian karena melibatkan dua tokoh paling berpengaruh di dunia yang uniknya sama-sama berasal dari Amerika Serikat. Paus Leo XIV yang berasal dari Chicago ini memang dikenal makin vokal menyuarakan perdamaian sejak ketegangan di Timur Tengah meningkat.
1. Paus Leo XIV kecam retorika kehancuran peradaban

Paus Leo XIV mulai meningkatkan tensi kritiknya setelah Trump mengeluarkan ancaman bahwa "seluruh peradaban akan mati malam ini" jika Iran tidak segera membuka Selat Hormuz. Dalam pernyataannya di Castel Gandolfo yang dikutip oleh America Magazine, Paus menyebut ancaman serangan terhadap infrastruktur sipil Iran tersebut sebagai tindakan yang benar-benar tidak dapat diterima.
Ia mengingatkan bahwa serangan terhadap warga sipil bukan hanya melanggar hukum internasional, tapi juga menjadi tanda kehancuran moral manusia. Paus juga mengingatkan para pemimpin dunia untuk berhenti terjebak dalam delusi kemahakuasaan.
Berdasarkan pemberitaan CBS News, saat memimpin doa di Basilika Santo Petrus, ia menegaskan bahwa kekuatan sejati bukan dilihat dari seberapa besar ledakan bom yang dihasilkan. Baginya, siapa pun yang menjadi pengikut Kristus tidak akan pernah berdiri di sisi mereka yang menjatuhkan bom. Ia mendesak para otoritas politik untuk segera kembali ke meja dialog daripada terus merencanakan kematian di meja perang.
2. Balasan pedas Trump di media sosial

Tak butuh waktu lama bagi Trump untuk membalas. Mengutip The Guardian, lewat platform Truth Social, Trump meluncurkan serangan personal dengan menyebut Paus Leo XIV sebagai sosok yang sangat liberal dan lemah dalam menangani kejahatan. Trump bahkan menyarankan agar Paus berhenti mengikuti agenda kiri radikal dan fokus menjadi pemimpin agama yang hebat daripada menjadi politikus. Ia juga mengeklaim bahwa jika dirinya tidak berada di Gedung Putih, Leo tidak akan pernah terpilih menjadi Paus di Vatikan.
Trump bersikeras bahwa langkah militer yang ia ambil adalah demi kepentingan keamanan nasional. Seperti dilaporkan CBC News, saat berbicara kepada wartawan setelah mendarat dengan Air Force One, Trump menegaskan bahwa ia tidak menyukai Paus yang menganggap remeh kepemilikan senjata nuklir oleh Iran. Ia merasa tindakannya sudah sesuai dengan mandat rakyat Amerika saat memilihnya kembali, yaitu menjaga kekuatan negara meski harus menghadapi kritik dari pemimpin agama sekalipun.
3. Harapan damai yang pupus di Pakistan

Situasi dunia justru makin mencekam setelah upaya gencatan senjata yang dimediasi oleh Pakistan dinyatakan gagal total. Perundingan tersebut menemui jalan buntu karena kedua belah pihak tidak mencapai kesepakatan terkait pengawasan nuklir dan akses Selat Hormuz. Kegagalan diplomasi ini menjadi alasan utama mengapa Paus Leo XIV mengeluarkan pernyataan yang jauh lebih keras dari biasanya, karena ia melihat peluang perdamaian baru saja menguap.
Paus Leo XIV tetap pada pendiriannya bahwa Tuhan tidak memberkati konflik apa pun dan memperingatkan bahwa kegagalan dialog hanya akan membawa dunia ke ambang kehancuran moral. Di sisi lain, batalnya kesepakatan ini justru membuat Washington makin memperkeras posisi mereka. Dengan ketegangan yang tidak kunjung mereda, dunia kini menahan napas menunggu langkah selanjutnya dari kedua pemimpin berpengaruh ini, di tengah kekhawatiran akan pecahnya perang terbuka yang lebih besar.


















