Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Trump Sebut Israel Bakal Kurangi Serangan ke Lebanon
potret Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (flickr.com/Gage Skidmore via commons.wikimedia.org/Gage Skidmore)
  • Donald Trump menyatakan Israel sepakat mengurangi serangan ke Lebanon setelah ia meminta langsung kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu melalui sambungan telepon.
  • Serangan udara besar-besaran Israel ke Lebanon menewaskan lebih dari 300 orang dan melukai ribuan lainnya, di tengah gencatan senjata dua pekan antara AS dan Iran.
  • Iran mengecam keras serangan Israel dan mengancam mundur dari kesepakatan gencatan senjata dengan AS jika agresi terhadap Lebanon terus berlanjut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebut Israel bakal mengurangi serangan terhadap Lebanon. Trump mengatakan, hal tersebut sudah disetujui Israel setelah ia meminta langsung kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. 

“Aku telah berbicara dengan Bibi (Benjamin Netanyahu) dan dia akan menguranginya (serangan terhadap Lebanon). Saya pikir, kita harus sedikit menguranginya,” ujar Trump kepada NBC News dalam sambungan telepon pada Kamis (9/4/2026).

1. Israel meluncurkan lebih dari 100 serangan udara ke Lebanon

ilustrasi serangan udara (unsplash.com/Aleksei Zaitcev)

Permintaan itu dilontarkan Trump setelah Israel melancarkan serangan besar-besar ke Lebanon pada Rabu (8/4/2026) lalu. Kala itu, Israel dilaporkan meluncurkan lebih dari 100 serangan udara ke sejumlah wilayah di Lebanon, termasuk Ibu Kota Beirut. 

Dilansir The Guardian, serangan tersebut menewaskan lebih dari 300 orang. Sementara itu, 1.165 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka. Saat ini, seluruh korban luka sudah dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan. Sayangnya, petugas layanan kesehatan mengalami kendala karena banyak rumah sakit di Lebanon yang rusak akibat diserang Israel.  

2. Serangan Israel ke Lebanon dilakukan di tengah gencatan senjata AS dan Iran

ilustrasi gencatan senjata (pexels.com/Efe Ersoy)

Serangan Israel ke Lebanon tadi terjadi di tengah kesepakatan gencatan senjata dua pekan antara AS dan Iran yang sudah disetujui Trump pada Selasa (7/4/2026). Oleh karena itu, banyak yang mengecam serangan tersebut karena dianggap bisa mengganggu gencatan senjata AS dan Iran.

“Dengan pengumuman gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat, aktivitas militer yang sedang berlangsung di Lebanon menimbulkan risiko serius terhadap gencatan senjata dan upaya menuju perdamaian yang langgeng dan komprehensif di kawasan tersebut. Sekretaris Jenderal kembali menyerukan kepada semua pihak untuk segera menghentikan permusuhan,” bunyi pernyataan Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, pada Rabu (8/4/2026) mengecam serangan Israel ke Lebanon, seperti dilansir Anadolu Agency.

3. Iran mengancam akan keluar dari gencatan senjata AS jika Israel terus serang Lebanon

potret bendera Iran (unsplash.com/mostafa meraji)

Selain oleh PBB, serangan Israel ke Lebanon juga dikecam oleh Iran. Bahkan, negara mayoritas Islam Syiah tersebut mengancam akan mundur dari kesepakatan gencatan senjata dengan AS jika Israel terus menyerang Lebanon. Sebab, menurut Iran, kesepakatan gencatan senjata yang sudah disetujui AS juga melibatkan Lebanon. 

Sebagai informasi, Israel mulai menyerang Lebanon sejak 2 Maret 2026. Namun, belakangan ini, Israel makin gencar menyerang negara tersebut. Sebab, Israel ingin membasmi seluruh anggota milisi Hizbullah yang membantu Iran melawan mereka dan AS. 

Sejauh ini, serangan Israel di Lebanon telah menewaskan sekitar 1.800 orang. Sementara itu, sebanyak 5.873 orang lainnya dinyatakan luka-luka. Di sisi lain, lebih dari 1,2 juta warga Lebanon kini terpaksa mengungsi ke tempat aman untuk menghindari serangan Israel.  

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team