PBB Kecam Serangan Israel ke Lebanon: Ganggu Perdamaian Timur Tengah!

- PBB mengecam keras serangan Israel ke Lebanon yang dinilai mengancam gencatan senjata dan upaya perdamaian di Timur Tengah.
- Serangan udara Israel menewaskan ratusan warga Lebanon, melukai ribuan lainnya, dan memaksa lebih dari sejuta orang mengungsi sejak awal Maret 2026.
- Gencatan senjata antara AS dan Iran tidak mencakup Lebanon, membuat Israel tetap melanjutkan serangan meski ada tekanan internasional untuk menghentikan konflik.
Jakarta, IDN Times - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengecam keras serangan yang dilakukan Israel ke Lebanon di tengah kesepakatan gencatan senjata yang sudah disetujui Amerika Serikat. PBB menilai serangan tersebut mengganggu upaya perdamaian di Kawasan Timur Tengah.
“Dengan pengumuman gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat, aktivitas militer yang sedang berlangsung di Lebanon menimbulkan risiko serius terhadap gencatan senjata dan upaya menuju perdamaian yang langgeng dan komprehensif di kawasan tersebut. Sekretaris Jenderal kembali menyerukan kepada semua pihak untuk segera menghentikan permusuhan,” bunyi pernyataan Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, pada Rabu (8/4/2026) dilansir Anadolu Agency, Kamis (9/4/2026).
1. Serangan Israel di Lebanon menewaskan 254 orang

Israel sendiri menyerang Lebanon pada Rabu. Menurut otoritas pertahanan sipil Lebanon, serangan tersebut menewaskan 254 orang. Sementara itu, 1.165 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.
Menurut Menteri Kesehatan Lebanon, Rakan Nassereddine, Israel melakukan lebih dari 100 serangan udara di sejumlah wilayah yang ada di negaranya. Serangan tersebut, kata dia, menghantam area komersial dan perumahan warga.
“Ambulans masih mengangkut korban ke rumah sakit. Kami mendesak organisasi internasional untuk membantu sektor kesehatan Lebanon,” kata Nassereddine kepada Al Jazeera.
2. Israel menyerang Lebanon sejak awal Maret

Israel sendiri mulai menyerang Lebanon sejak 2 Maret 2026 lalu. Namun, belakangan ini, Israel makin gencar menyerang negara tersebut. Sebab, Israel ingin membasmi seluruh anggota milisi Hizbullah yang membantu Iran melawan mereka dan Amerika Serikat.
Sejauh ini, serangan Israel di Lebanon telah menewaskan 1.530 orang. Sementara itu, lebih dari 1,2 juta orang lainnya terpaksa mengungsi ke tempat aman untuk menghindari serangan Israel.
Sebetulnya, Lebanon sudah berupaya melobi Israel agar serangan bisa berakhir. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil hingga saat ini. Sebab, Israel masih ingin menyerang Lebanon sampai Hizbullah benar-benar kalah.
3. Trump sebelumnya sudah menyepakati gencatan senjata dengan Iran

Sebelumnya, Trump sudah menyepakati gencatan senjata dengan Iran selama 2 pekan pada Selasa (7/4/2026). Langkah ini diambil karena Iran kini sudah bersedia membuka Selat Hormuz untuk kapal-kapal dari semua negara. Gencatan senjata ini juga termasuk Israel.
“Selama dua minggu, jalur aman melalui Selat Hormuz akan dimungkinkan melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran dan dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis,” kata Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Aragchi, dilansir Times of Israel.
Namun, AS dan Israel menegaskan, Lebanon tidak disertakan dalam kesepakatan gencatan senjata yang sudah disetujui dengan Iran. Oleh karena itu, Israel hingga kini masih terus menyerang Lebanon. Padahal, menurut pememrintah Iran, dokumen kesepakatan gencatan senjata yang diberikan AS secara eksplisit melibatkan Lebanon.

















