Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Vakum 7 Tahun, Jepang Buka Lagi Pertukaran Mahasiswa ke Rusia
Bendera Jepang (unsplash.com/Alexander Grigoryev)
  • Jepang membuka kembali pertukaran mahasiswa ke Rusia setelah vakum tujuh tahun; 15 mahasiswa telah mengikuti studi singkat bahasa Rusia dan interaksi kampus di Saint Petersburg pada 12–20 Agustus 2026.
  • Program yang berjalan sejak 1999 sempat berhenti akibat pandemi COVID-19 dan penundaan setelah invasi Rusia ke Ukraina, lalu diaktifkan lagi karena minat belajar mahasiswa tetap tinggi.
  • Jepang menegaskan sanksi ekonomi terhadap Moskow tetap berlaku, sementara keamanan peserta dipantau konsulat; pemerintah juga akan mengirim delegasi peneliti bulan depan untuk memperkuat dialog intelektual.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Jepang mengumumkan kembali dibukanya program pertukaran mahasiswa ke Rusia pada Jumat (28/8/2026). Langkah diplomasi pendidikan ini memfasilitasi kembali kunjungan akademik yang sempat vakum selama tujuh tahun.

Pemulihan program ini menjadi momentum penguatan hubungan antarwarga di tengah tingginya tensi geopolitik global. Langkah strategis ini diambil demi merawat pemahaman lintas budaya secara berkelanjutan.

1. Belasan mahasiswa rampungkan studi singkat di Saint Petersburg

Sebanyak 15 mahasiswa Jepang baru saja merampungkan studi singkat di Saint Petersburg pada 12-20 Agustus 2026. Para peserta mengikuti pelatihan bahasa Rusia intensif sekaligus berinteraksi langsung dengan mahasiswa setempat.

Program yang digagas sejak 1999 ini sempat terhenti total pada 2020 akibat pandemik COVID-19, disusul penundaan panjang imbas invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022. Namun, Tokyo kini menghidupkan kembali skema tersebut demi mewadahi tingginya minat belajar mahasiswa.

"Kesempatan untuk memahami Rusia dan bahasanya secara langsung menjadi sangat penting, justru di saat hubungan kedua negara sedang memanas," ungkap Pejabat Kementerian Luar Negeri Jepang, dilansir The Japan Times.

2. Sanksi ekonomi Jepang terhadap Moskow dipastikan tetap berlaku

Keputusan pengiriman pelajar ini sempat menuai kritik di dalam negeri, mengingat Jepang masih menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Moskow terkait konflik Eropa Timur. Kendati demikian, Kementerian Luar Negeri Jepang menegaskan bahwa sikap politik luar negeri mereka sama sekali tidak berubah.

Selama berada di Rusia, keamanan para mahasiswa dipantau ketat oleh Konsulat Jenderal Jepang di Saint Petersburg. Sejumlah pengamat menilai pertukaran sipil ini krusial untuk menjaga hubungan bilateral di luar jalur politik formal.

"Program akademis sangat krusial dalam mengelola hubungan Jepang dan Rusia melalui interaksi warga secara langsung, meski tensi antarnegara tengah meninggi," ujar akademisi Universitas Kyoto, Thomas Brotherhood.

3. Pemahaman lintas budaya cegah kesalahpahaman akar rumput

Pemerintah meyakini interaksi akademis yang berkelanjutan mampu meredam kesalahpahaman di tingkat akar rumput. Lewat interaksi tatap muka, mahasiswa dapat menyelami dinamika sosial dari sudut pandang warga lokal tanpa prasangka. Interaksi langsung ini diharapkan menjadi fondasi rasa saling percaya bagi kedua belah pihak.

"Pertukaran pendidikan memberikan kesempatan bagi kita untuk lebih memahami cara hidup masyarakat di negara lain, termasuk perspektif mereka terhadap isu-isu global," tutur Pejabat Hubungan Internasional Asosiasi Studi Luar Negeri Jepang, Tatsuhiko Hoshino.

Sebagai tindak lanjut, pemerintah Jepang juga menjadwalkan pemberangkatan delegasi peneliti ke Rusia pada bulan depan guna memperkuat dialog intelektual.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article