Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
WFP Pangkas Bantuan di Tepi Barat dan Gaza Imbas Kekurangan Dana
gudang WFP di Amman, Yordania (U.S. Department of State, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • WFP memangkas penerima bantuan di Tepi Barat dari 400.000 menjadi 200.000 orang dan menghentikan bantuan tunai bulanan akibat kekurangan dana; pemotongan lanjutan mengancam Gaza.
  • Kerawanan pangan di Tepi Barat meningkat saat konflik, serangan pemukim, pembongkaran rumah, perampasan lahan, serta 925 hambatan perjalanan melemahkan pendapatan, akses kerja, pasar, dan harga pangan.
  • WFP membutuhkan 386 juta dolar AS untuk enam bulan; tanpa dana baru, hingga 90 persen warga Gaza diperkirakan menghadapi krisis pangan akut, sementara badan PBB lain turut memangkas layanan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Program Pangan Dunia (WFP) memangkas separuh bantuan bagi warga Palestina di Tepi Barat akibat krisis dana. Pemotongan ini berlangsung ketika kebutuhan dasar warga melonjak lebih dari dua kali lipat dibanding dua tahun lalu.

Langkah serupa juga membayangi jutaan penerima manfaat di Jalur Gaza. Lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tersebut menyatakan pemotongan ini tidak terelakkan karena sumbangan donor internasional terus menyusut.

1. Ratusan ribu warga Palestina kehilangan bantuan WFP

anak-anak di Gaza berdesakan mengantri makanan. (Ashraf Amra, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)

Di Tepi Barat, WFP memangkas jumlah penerima bantuan dari 400 ribu orang menjadi 200 ribu orang. Pengurangan ini mencakup paket makanan pokok, kupon belanja pangan, bantuan uang tunai, hingga layanan pendukung nutrisi keluarga. Bantuan tunai sebesar 50 shekel (sekitar Rp290 ribu) per orang setiap bulan kini terpaksa dihentikan.

Situasi serupa melanda Jalur Gaza, di mana WFP menopang kebutuhan sekitar 1,5 juta penduduk. Lembaga tersebut sebelumnya telah memotong nilai bantuan tunai sebesar 40 persen bagi 375 ribu warga sejak Juli. WFP memperingatkan pengurangan lanjutan akan terjadi jika dana baru tidak segera masuk.

"Kami kehabisan dana dan itu berarti sekitar 200 ribu orang kehilangan akses ke bantuan penting," ujar Direktur WFP untuk Palestina Shaun Hughes, dilansir UN News pada Selasa (1/9/2026).

Saat ini sebanyak 900 ribu warga Tepi Barat atau lebih dari seperempat populasi hidup dalam kerawanan pangan. Padahal, angka tersebut hanya berada di kisaran 11 persen pada dua tahun lalu. Sementara itu, sekitar dua per tiga warga Gaza masih berada pada tingkat kelaparan darurat.

2. Kekerasan pemukim dan pembatasan gerak lumpuhkan ekonomi warga

vandalisme sebuah mobil di Tepi Barat oleh pemukim Israel (איאד חדאד, בצלם, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

Lonjakan kerawanan pangan di Tepi Barat dipicu oleh melemahnya perekonomian wilayah tersebut. Penilaian terbaru WFP mencatat 76 persen rumah tangga mengalami penurunan pendapatan drastis akibat konflik berkepanjangan. Kondisi tersebut membuat sepertiga keluarga tidak mampu membeli makanan bergizi seimbang.

Tekanan hidup warga kian berat akibat pembongkaran rumah serta perampasan lahan oleh pemukim Israel. Komisi Perlawanan Kolonisasi dan Tembok mencatat 11.074 serangan pasukan militer dan pemukim terjadi sepanjang paruh pertama 2026. Aksi tersebut menyebabkan sedikitnya 17 warga Palestina tewas serta banyak keluarga terusir dari tanah mereka.

"Mereka kini terjebak, tidak bisa bergerak bebas untuk menggarap lahan atau bekerja, sehingga tidak mampu membeli makanan bagi keluarga mereka," tutur Direktur WFP untuk Palestina Shaun Hughes, dilansir Al Jazeera.

Laporan Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) mendokumentasikan 925 pos pemeriksaan dan penutupan jalan di seluruh wilayah Tepi Barat. Hambatan ini memutus akses petani ke pasar dan mata pencaharian harian. Akibatnya, harga pangan dan bahan bakar di Tepi Barat melonjak menjadi salah satu yang termahal di Timur Tengah.

3. Krisis donasi ancam operasi badan kemanusiaan PBB

bendera Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) (Makaristos, Public domain, via Wikimedia Commons)

WFP menyatakan membutuhkan dana tambahan sebesar 386 juta dolar AS (sekitar Rp6,8 triliun) untuk enam bulan ke depan. Tanpa kucuran dana baru, hingga 90 persen penduduk Gaza diperkirakan akan menghadapi krisis pangan akut pada akhir tahun.

Krisis keuangan ini terjadi karena negara-negara donor Barat memangkas kontribusi bantuan luar negeri sejak tahun lalu. Beberapa negara, termasuk Amerika Serikat (AS), mengalihkan anggaran ke sektor pertahanan dan pengeluaran domestik. Porsi sumbangan AS di PBB bahkan menyusut dari sepertiga anggaran menjadi hanya 15,6 persen pada 2025.

Tekanan anggaran tidak hanya dialami oleh WFP, tetapi juga menimpa badan-badan kemanusiaan PBB lainnya. Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) membutuhkan dana sebesar 100 juta dolar AS (Rp1,7 triliun) untuk mempertahankan layanan sekolah serta klinik bagi 2,6 juta pengungsi. Operasional lembaga tersebut terancam setelah belasan negara donor membekukan bantuan finansial sejak awal 2024.

Badan PBB untuk Pengungsi (UNHCR) juga terpaksa memangkas anggaran operasional 2027 sebesar 16 persen menjadi 7,14 miliar dolar AS (sekitar Rp126 triliun). Nilai tersebut menjadi anggaran terendah lembaga itu dalam satu dekade terakhir. PBB sendiri mengawali permohonan bantuan kemanusiaan tahun ini dengan hanya meminta separuh dari total kebutuhan sebenarnya di lapangan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article