anak-anak di Gaza berdesakan mengantri makanan. (Ashraf Amra, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons)
Di Tepi Barat, WFP memangkas jumlah penerima bantuan dari 400 ribu orang menjadi 200 ribu orang. Pengurangan ini mencakup paket makanan pokok, kupon belanja pangan, bantuan uang tunai, hingga layanan pendukung nutrisi keluarga. Bantuan tunai sebesar 50 shekel (sekitar Rp290 ribu) per orang setiap bulan kini terpaksa dihentikan.
Situasi serupa melanda Jalur Gaza, di mana WFP menopang kebutuhan sekitar 1,5 juta penduduk. Lembaga tersebut sebelumnya telah memotong nilai bantuan tunai sebesar 40 persen bagi 375 ribu warga sejak Juli. WFP memperingatkan pengurangan lanjutan akan terjadi jika dana baru tidak segera masuk.
"Kami kehabisan dana dan itu berarti sekitar 200 ribu orang kehilangan akses ke bantuan penting," ujar Direktur WFP untuk Palestina Shaun Hughes, dilansir UN News pada Selasa (1/9/2026).
Saat ini sebanyak 900 ribu warga Tepi Barat atau lebih dari seperempat populasi hidup dalam kerawanan pangan. Padahal, angka tersebut hanya berada di kisaran 11 persen pada dua tahun lalu. Sementara itu, sekitar dua per tiga warga Gaza masih berada pada tingkat kelaparan darurat.