potret Presiden Iran, Masoud Pezeshkian (commons.wikimedia.org/khamenei.ir)
Bagi Rusia, KTT SCO berlangsung ketika perang Ukraina telah memasuki tahun kelima sejak invasi skala penuh pada 2022. Moskow menghadapi tekanan dan sanksi dari negara-negara Barat, sehingga hubungan dengan negara-negara non-Barat menjadi semakin penting.
Pertemuan Putin dengan Xi menjadi salah satu agenda yang paling dinantikan. China merupakan salah satu mitra utama Rusia sejak hubungan Moskow dengan negara-negara Barat memburuk akibat perang Ukraina.
Sementara itu, pertemuan Putin dengan Pezeshkian akan berlangsung ketika Iran juga menghadapi situasi geopolitik yang penuh tekanan setelah perang dengan Amerika Serikat dan Israel.
Bagi kedua negara, SCO dapat menjadi wadah untuk memperluas hubungan ekonomi, diplomatik, dan strategis dengan negara-negara yang tidak berada dalam orbit aliansi Barat.
Namun, pengaruh SCO tetap menghadapi keterbatasan. Perbedaan kepentingan di antara negara anggota membuat organisasi tersebut sulit berkembang menjadi aliansi yang memiliki posisi politik tunggal.
India, misalnya, memiliki hubungan yang erat dengan Amerika Serikat, sementara China dan Rusia lebih terbuka dalam mempromosikan gagasan tatanan dunia yang tidak berpusat pada Barat.
Turki juga menunjukkan ketertarikan untuk memperluas perannya melalui SCO. Ankara saat ini berstatus sebagai mitra dialog dan telah menyatakan keinginan untuk menjadi anggota penuh organisasi tersebut.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan membawa negaranya menjadi mitra dialog SCO pada 2012. Turki melihat hubungan dengan SCO sebagai bagian dari strategi untuk menyeimbangkan hubungan tradisionalnya dengan Barat, termasuk sebagai anggota NATO, dengan upaya memperluas pengaruhnya di Eurasia.
Dengan demikian, KTT SCO di Bishkek bukan hanya menjadi forum pertemuan rutin para pemimpin. Pertemuan tersebut juga menjadi gambaran bagaimana negara-negara Asia dan Eurasia berusaha mempertahankan kepentingan masing-masing di tengah perubahan keseimbangan kekuatan global.
Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, pertemuan Xi, Putin, dan Modi akan menjadi perhatian karena memperlihatkan bagaimana tiga kekuatan besar tersebut menggunakan forum multilateral yang sama, meski tidak selalu memiliki kepentingan yang sejalan.