Comscore Tracker

Suka Duka Hamil dan Melahirkan di Tengah Pandemik COVID-19

Budaya "tilik" yang sudah mendarah daging di Jawa kuabaikan

Usia kehamilanku menginjak lima minggu saat Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus pertama virus corona di Indonesia. Masih teringat jelas bagaimana perasaanku saat itu. Sedih, bingung, takut, bercampur jadi satu. Dokter mengatakan kandunganku lemah karena aktivitasku yang padat. Aku tak lagi diperbolehkan naik motor dan melakukan apa pun yang bikin capek.

Dia pun meresepkan beberapa jenis obat untuk menyelamatkan kandunganku. Alhasil, aku menjalani work from home lebih dulu dari teman-teman.

Kukira dengan bekerja di rumah akan membuatku lebih santai, ternyata sebaliknya. Fisikku memang di rumah, tetapi pikiranku mengembara terlalu jauh. Membaca dan menulis berita terkait COVID-19 hampir setiap hari lama-lama merusak mentalku. Sudahlah harus mengalami morning sickness, ditambah memantau perkembangan COVID-19 saban hari, siapa yang kuat?

Belum lagi kalau baca berita ibu hamil atau bayi yang meninggal karena terinfeksi virus corona, tubuhku menggigil. Setiap kali membaca apa pun terkait COVID-19, kepalaku sering pusing lalu muntah. Kalau sudah begitu, biasanya aku menangis seorang diri. Diliputi ketakutan yang tak berujung.

Kecemasanku kian menjadi saat pemerintah memberlakukan PSBB. Aku tak berani ke mana-mana, ke luar pun sekadar menghirup udara pagi di teras. Entah pengaruh hormon kehamilan atau apa, kepribadianku berangsur-angsur berubah. Aku jadi pemarah, mudah tersinggung, dan sensitif. Apalagi aku sendirian di rumah dan tak kenal tetangga, pikiran-pikiran negatif sering muncul. Suami pun tak bisa menemani 24 jam karena masih harus kerja di kantor.

Perubahan-perubahan itu sedikit banyak berdampak pada pekerjaanku. Kira-kira pada puncak trimester satu, kinerjaku menurun. Aku kerap mual dan muntah disela kerja, terkadang kebablasan tidur berjam-jam seperti orang pingsan. Tidak semua orang bisa memahami kondisi ini. Ketika ada yang menyentil kehamilanku, rasanya sedih luar biasa. Entah sudah berapa banyak cuti sakit yang kuambil. Aku tak enak hati karena performa kerjaku menurun dan menambah beban kerja teman-teman setim. Pada masa-masa itu, janin yang berada dalam kandunganku benar-benar terlupakan. Aku tak pernah mengajaknya bicara.

Pertengahan trimester dua, kondisiku sedikit demi sedikit mulai stabil. Di tengah kondisi dunia yang tidak baik-baik saja, aku merasakan getaran-getaran cinta di perut. Janin yang sempat kuabaikan itu seakan-akan berkata, "Jangan bersedih, Ibu. Ada aku di sini. Ayo kita lewati hari-hari sulit ini bersama." Rasa bersalah pun menyelimuti diri. Maafkan Ibu ya, Nak, sudah membuatmu stres di dalam sana.

Aku pun mulai bisa menerima situasi yang sedang terjadi. Untuk mengurangi segala kecemasan, aku mulai berolahraga. Mula-mula aku berjalan kaki satu perempatan, dua perempatan, hingga bisa mencapai 5 km per hari. Tentu saja aku jalan kaki usai subuh saat belum banyak orang keluar rumah. Selain itu, aku juga melakukan prenatal gentle yoga dan rutin relaksasi hypnobirthing. Kuikuti kelas-kelas yoga online, kelas kehamilan, hingga kelas postpartum. Tak lupa memberdayakan diri dengan banyak membaca buku kehamilan. Perlahan-lahan, kecemasanku hilang, berganti rasa rileks dan bahagia.

Menginjak akhir trimester tiga, kuputuskan untuk pulang ke kampung halaman. Itu adalah opsi terbaik karena aku dan suami hanya berdua di Jakarta. Tak terbayang kalau tiba-tiba mau melahirkan sementara suami masih di kantor. Apalagi situasi rumah sakit di Jakarta yang dipenuhi pasien COVID-19 juga masih menakutkan buatku. Akhirnya, kami pun pulang kampung dengan kereta api. Sengaja kupilih kursi kelas luxury untuk menghindari kerumunan. Benar saja, segerbong kuhuni sendiri.

Di kampung, aku memutuskan melahirkan di bidan. Beberapa kali aku ditolak provider karena tahu aku baru pulang dari Jakarta. Aku disarankan untuk melahirkan di rumah sakit saja, tetapi akhirnya ada bidan yang bersedia menerimaku. Rumah sakit jadi opsi terakhir karena aku menghindari intervensi medis yang tak perlu. Aku ingin melahirkan dengan nyaman serasa di rumah.

Tanggal 22 Oktober 2020 pukul 01.20 WIB, lahirlah anak pertamaku dengan proses yang cepat dan tanpa drama. Olahraga dan pola makan sehat yang kujalani menghasilkan persalinan yang berlangsung nyaman dan tenang. Tidak meninggalkan trauma.

Di rumah, aku tak menerima tamu. Tiga poster besar berisi larangan bertamu terpajang di luar rumah. Budaya "tilik" yang sudah mendarah daging di Jawa kuabaikan. Keselamatan lebih utama. Bodo amat dengan omongan orang. Aku tetap keukeuh menolak tamu meskipun banyak suara tak enak di luar sana. Biar dikata sok-sokan, aku tak peduli. Di tengah pandemik yang menggila ini, membatasi pertemuan adalah upaya menyelamatkan diri.

Lalu, aku pun bersyukur. Karena pandemik ini, proses pemulihan pascapersalinan sangat cepat karena aku tak menerima tamu. Aku bisa full istirahat tanpa perlu menerima komentar ABCD dari para tamu yang kerap bikin ibu baru mengalami baby blues. Karena pandemik ini, aku bisa berkumpul dengan keluargaku lebih lama setelah bertahun-tahun jadi perantau. Karena pandemik ini, aku bisa menyusui anakku secara langsung, melihat tumbuh kembangnya dari hari ke hari.

Meskipun begitu, tentu aku berharap pandemik segera berakhir. Aku ingin kembali ke perantauan tanpa rasa takut, kembali bekerja secara normal, dan mengasuh anak bersama suami.

Terima kasih, pandemik COVID-19. Banyak hikmah yang kupetik darimu. Lekaslah pergi tanpa memakan lebih banyak korban lagi.

#SatuTahunPandemik adalah refleksi dari personel IDN Times soal satu tahun virus corona menghantam kehidupan di Indonesia. Baca semua opini mereka di sini.

Baca Juga: Menjadi Batu di Masa Pandemik

Topic:

  • Umi Kalsum

Berita Terkini Lainnya