INI suatu narasi tentang kejadian yang membuat Gereja Katolik menyedihkan, yaitu kejadian pada tanggal 1 Juli 2026. Di sebuah kota kecil Encone, Switzerland, sekelompok umat Katolik yang merupakan penganut paham dari Santo Pius X (SSPX), dengan pimpinannya, Sekretaris Jendral Pastor David Pagliarini, telah melaksanakan pengangkatan empat orang uskup baru, dua orang dari Perancis, satu dari Switzerland dan satu lagi dari Amerika Serikat.
Beberapa waktu sebelumnya Bapa Suci Leo XIV telah mengirim surat kepada Pastor Pagliarini agar mengurungkan rencana tersebut, dan bilamana tidak Pope Leo hanya dapat mengatakan “Saya minta maaf ” Pesan ini diakhiri dengan permintaan maaf, karena menurut hukum Gereja (Cannon Law), tindakan mengangkat uskup tanpa ijin dari Vatican merupakan tindakan “schism” atau memisahkan diri dari Gereja Katolik yang didirikan Tuhan Jesus dengan pengangkatan Santo Petrus sebagai Bapa Suci Pertama yang berkedudukan di Vatican.
Dalam tradisi Yunani hal ini diartikan sebagai menyobek jubah uskup, yang merupakan suatu sacrilege, perbuatan dosa yang dikutuk Tuhan. Karena itu pesan Pope Leo diakhiri dengan permintaan maaf, sebab mereka semua tanpa perlu ada pembahasan dan keputusan Tribunal apapun, otomatis dikenakan sanksi “ex communicasi” artinya dikeluarkan dari Gereja Katolik.
Namun mereka bersikeras, karena untuk membuat mereka kembali dalam Gereja Katolik yang berpusat di Vatikan, mereka harus yakin dahulu bahwa Vatikan mengakui Vatikan yang keliru dan kelompok SSPX ini yang benar. Tentu saja ini merupakan suatu hal yang sangat meresahkan Pope Leo dan Curia di Vatican dan semua orang Katolik di seluruh dunia yang berjumlah sekitar 1,4 miliar saat ini.
Kejadian ini bukan yang pertama kalinya, sebelum ini di tahun 1988 di Perancis, Uskup Agung Marcel Levabvre juga melakukan hal yang sama, mengangkat empat orang uskup tanpa terlebih dulu minta ijin Vatican. Bapa Suci John Paul II menjatuhkan sanksi ex-communicasi terhadap Uskup Levabvre dan yang baru diangkat tersebut.
Uskup Levabvre memang jelas ingin melanjutkan gerakan ini, karena sudah merasa tua dan ingin ada yang meneruskan gerakan tersebut, maka dilakukan pentahbisan empat uskup baru dan beliau wafat tahun 1991. Pastor Pagliarini menjelaskan bahwa apa yang dilakukan di Encone, Switzerland dengan perayaan Misa Kudus dan pentahbisan uskup baru adalah meneruskan apa yang sebelumnya dilaksanakan Uskup Levabvre di Perancis. Dan, tugas Pope John Paul II untuk menyatakan mereka terkena sanksi ex-communicated.
Demikianlah sejarah kontemporer gereja Katolik di luar pemisahan dalam Gereja-gereja Protestan dimulai sejak Martin Luther memisahkan diri dari Gereja Katolik yang berpusat pada Pope di Vatican di tahun 1517 dalam Gereja Protestan yang kemudian berkembang terus menjadi sangar banyak dewasa ini.
Dalam upacara di Encone terjadi sesuatu yang tidak biasa, yang mungkin menyebabkan ada yang mengartikan bahwa apa yang dilakukan dengan Misa Kudus dan pentahbisan Uskup itu sepertinya kurang direstui oleh Tuhan. Tetapi ini tentu hanya spekulasi belaka. Memang agak aneh, di pagi hari tanggal 1 Juli 2026 di Econe, dalam lapangan rumput terbuka pada waktu Misa Kudus dimulai udara sangat cerah dengan latar belakang pegunungan Alp yang diselimuti salju putih bersih.
Akan tetapi pada waktu pastor mulai membagikan hosti (roti tanpa ragi yang bagi iman Katolik menjadi tubuh dan darah Tuhan Jesus setelah upacara konsekrasi oleh imam) kepada jemaat yang hadir yang ribuan jumlahnya tersebut, termasuk ratusan pastor dan suster serta bruder, maka hujan deras turun yang membuat orang berlari kalang kabut, mengeluarkan dan membuka payung untuk melindungi diri terhadap hujan deras yang tiba-tiba saja datang.
Kita tidak boleh berprasangka macam-macam, akan tetapi hal ini juga dapat menyebabkan sekelompok orang kemudian berpikir bahwa alam yang berubah ini mungkin menandakan bahwa Tuhan tidak berkenan dengan apa yang sedang berlangsung di kota kecil tersebut. Mereka berpikir bahwa pada waktu Tuhan Jesus wafat di kayu salib sekitar jam tiga siang, tiba-tiba udara menjadi gelap dan di Bait Allah gordyn di Altar terbelah menjadi dua seperti ikut berbela sungkawa dengan wafat Tuhan Jesus di salib.
Apakah yang terjadi di Encone juga menandakan demikian? Tentu saja tidak ada yang dapat memberikan jawaban secara pasti. Yang pasti adalah bahwa schism itu memang terjadi lagi, kedua setelah di tahun 1988 di Perancis dibawah pimpinan Uskup Levabvre dan yang terakhir dibawah pimpinan Pastor Pagliarini, Sekretaris Jendral SSPX.
Dalam benak penulis, aneh juga bahwa harus terjadi schism ini. Padahal Gereja Katolik juga tidak melarang dan mengizinkan untuk diteruskan penggunaan Latin Rite dalam misa, yang disahkan dengan dikeluarkannya surat dari Pope Bennedict XVI Summorum Pontificum di tahun 2007 bahwa pastor boleh memimpin misa dengan menggunakan Latin Rite. Dan, sepanjang penulis tahu itu hal utama yang diinginkan bagi kelompok SSPX. Jadi mengapa harus dilakukan dengan tidak mengakui kekuasaan Vatican dan memisahkan diri? (Dradjad, 09/07/2026)
Guru Besar Ekonomi Emeritus, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (FEBUI), Jakarta.
