Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Menjadi Man for and with Others di Dunia yang Terluka

Menjadi Man for and with Others di Dunia yang Terluka
Presiden Jose Ramos Horta (dok.pribadi)
Share Article

Dalam rangka berjejaring lintas bangsa dan memperkuat nilai-nilai kemanusiaan universal, TERAS 161, sebuah podcast Alumni SMA Kolese De Britto, menyelenggarakan sebuah dialog di Timor-Leste bertajuk To Be a Man for the World: Culture, Education and Peace.

B Gatot Pamungkas, Dr. Daud Aris Tanudirdjo, dan Joaquim Sarmento SJ mendapat kehormatan bertemu dan berdialog langsung dengan Presiden Republik Demokratik Timor-Leste José Ramos-Horta di Nicolau Lobato Presidential Palace, Dili, Timor-Leste.

Pesan-pesan Presiden José Ramos-Horta ditayangkan di dalam acara webinar Teras 161 Rabu, 4 Juni 2026. 

Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, diwarnai dengan perang, kekerasan, dan ketidakpercayaan, pertanyaan mengenai makna perdamaian menjadi semakin relevan. Apa arti menjadi “man for and with others” — manusia bagi dan bersama sesama — di zaman ketika konflik global dan kekerasan sosial justru terasa semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari?

Dalam sebuah percakapan reflektif dengan Presiden Timor-Leste sekaligus peraih Nobel Perdamaian 1996, José Ramos-Horta, muncul sebuah pemahaman yang sederhana namun sangat mendalam: perdamaian bukan pertama-tama dimulai dari negara, diplomasi, atau institusi besar, melainkan dari manusia itu sendiri.  

Menurut Ramos-Horta, setiap orang memiliki tanggung jawab masing-masing dalam menciptakan perdamaian. Seorang ayah di rumah, guru di sekolah, pemimpin negara, bahkan seorang anak kecil — semuanya memiliki ruang untuk menghadirkan atau justru menghancurkan damai. Perdamaian, dengan demikian, bukan sekadar absennya perang. Perdamaian adalah rasa aman, penghormatan terhadap martabat manusia, dan terbebasnya seseorang dari rasa takut.

Pandangan tersebut menjadi semakin menarik ketika ia berbicara tentang Timor-Leste. Secara politik, negara kecil itu relatif damai: hampir tidak ada kekerasan politik, konflik etnis, maupun kriminalitas bersenjata. Namun Ramos-Horta menolak menyebut negaranya benar-benar damai selama kekerasan domestik masih terjadi di dalam rumah-rumah warga. Baginya, seorang anak yang hidup dalam ketakutan terhadap ayahnya, atau seorang perempuan yang menjadi korban kekerasan rumah tangga, tetap hidup tanpa damai.  

Di sinilah percakapan mengenai perdamaian menjadi sangat manusiawi. Kita sering berbicara tentang perang antarnegara, konflik geopolitik, atau ketegangan ideologi global, tetapi lupa bahwa perdamaian sesungguhnya juga ditentukan oleh bagaimana manusia memperlakukan manusia lain dalam keseharian yang paling sederhana.

Karena itu, ketika Ramos-Horta berbicara tentang konflik-konflik besar dunia — Gaza, Ukraina, Sudan, Kongo — ia tidak hanya berbicara tentang politik internasional, melainkan tentang penderitaan manusia yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.  

Ia mengingatkan bahwa kebencian yang dipelihara terlalu lama akan menjadi rantai yang memenjarakan manusia. Pengalaman Holocaust, konflik Israel–Palestina, dan berbagai tragedi kemanusiaan lainnya memperlihatkan bagaimana luka sejarah dapat berubah menjadi kebencian berkepanjangan bila tidak disembuhkan melalui rekonsiliasi dan pemulihan kemanusiaan.

Namun bagi Ramos-Horta, rekonsiliasi tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Perdamaian yang berkelanjutan tidak cukup dibangun hanya melalui perjanjian politik atau diplomasi tingkat tinggi. Perdamaian harus dibentuk jauh lebih awal — ketika manusia masih belajar mengenal sesamanya sejak usia kanak-kanak.

Karena itulah ia menempatkan pendidikan sebagai salah satu fondasi terpenting bagi perdamaian. Dalam dialog tersebut, ia menyinggung sebuah dokumen yang menurutnya perlu diperkenalkan bahkan sejak sekolah dasar: Declaration on Human Fraternity and Living Together, yang ditandatangani Paus Fransiskus dan Grand Imam Al-Azhar pada tahun 2019. Bagi Ramos-Horta, nilai persaudaraan universal harus ditanamkan sejak dini agar anak-anak belajar menghargai manusia lain tanpa melihat warna kulit, agama, maupun latar belakangnya.

Pemikiran ini terasa sangat relevan bagi Asia Tenggara — sebuah kawasan yang kaya akan budaya, agama, dan etnis, namun pada saat yang sama juga menghadapi tantangan politik identitas dan polarisasi sosial yang semakin nyata. Dalam konteks seperti ini, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik. Pendidikan juga harus membentuk manusia yang mampu hidup bersama orang lain secara bermartabat, terbuka, dan penuh penghormatan terhadap sesama.

Mungkin karena itu pula Ramos-Horta menunjukkan kekagumannya terhadap tradisi pendidikan Jesuit. Bagi dirinya, pendidikan bukan hanya soal transfer ilmu, melainkan pembentukan manusia yang memiliki disiplin intelektual, empati sosial, dan semangat pelayanan.  

Di titik ini, makna menjadi “man for and with others” menemukan relevansinya. Frasa tersebut bukan sekadar slogan moral atau jargon pendidikan. Ia adalah cara hidup — cara memandang sesama manusia bukan sebagai ancaman, pesaing, atau alat, melainkan sebagai sesama yang harus dihormati dan ditemani dalam perjalanan hidup bersama.

Menariknya, di akhir percakapan, Ramos-Horta tidak memberikan pesan politik yang rumit kepada generasi muda. Ia hanya berkata sederhana: “Study, study, and study.” Belajarlah, bukan demi status atau kekuasaan, tetapi agar dapat melayani keluarga, masyarakat, dan bangsa dengan lebih baik.  

Kesederhanaan pesan itu justru terasa kuat. Di tengah dunia yang bising oleh kebencian, propaganda, dan perebutan kuasa, mungkin harapan terbesar memang tetap terletak pada manusia-manusia muda yang memilih untuk terus belajar, berpikir terbuka, dan tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh kebencian.

Dunia mungkin tidak akan pernah sepenuhnya bebas dari konflik. Namun selama masih ada manusia yang percaya bahwa martabat sesama lebih penting daripada ego, bahwa dialog lebih kuat daripada kebencian, dan bahwa pendidikan harus membentuk hati sekaligus pikiran, harapan itu akan selalu ada.

Dan mungkin, perubahan besar memang selalu dimulai dari hal yang sederhana: dari satu manusia yang memilih menjadi “man for and with others.”

4 Juni 2026

J. Satrijo Tanudjojo

Penggiat di bidang pendidikan dan filantropi

CEO Tanoto Foundation (2018-2024)

Screenshot 2026-06-08 at 16.07.18.png
J. Satrijo Tanudjojo
Share Article
Topics
Editorial Team
Umi Kalsum
EditorUmi Kalsum

Related Articles

See More

Menjadi Man for and with Others di Dunia yang Terluka

08 Jun 2026, 16:05 WIBOpinion