Comscore Tracker

[OPINI] Isu Keteladanan dalam Mengolah Kepribadian

Ajarkan kehendakmu berkata jujur 

Kebanyakan kita kerap menganggap keteladanan sebagai suatu visi kebaikan bagi karakter hidup manusia. Adanya kebajikan nilai dan pengaruh positif dalam keteladanan, menjadi alasan mengapa sosok teladan kerap dicontoh dan disegani oleh lingkup sekitarnya. Sehingga tak jarang terdapat suatu pembelajaran di dalamnya, baik melalui nilai, norma dan kebebasan di dalamnya, yang pada tiap sisinya diolah secara terus menerus bagi kita yang berusaha menghayati keteladanan itu sendiri. Walau demikian, tak menutup kemungkinan bahwa keteladanan dapat menjadi nilai asing pada fenomena yang penuh dinamika ini. Untuk itu mari kita pilah seberapa penting isu keteladanan ini dalam mengolah kepribadian itu sendiri. 

Isu keteladanan dan kebebasan

[OPINI] Isu Keteladanan dalam Mengolah Kepribadianilustrasi Bebas dan Keterikatan (dok. Unsplash/Cherry Laithang)

Menurut Furqon Hidayatullah dalam Pendidikan Berkarakter:  Membangung Peradaban Bangsa, terdapat tiga unsur bagi seseorang untuk menghayati keteladanan. Pertama, kesiapan untuk dinilai dan dievaluasi. Kedua, memiliki kompetensi minimal. Dan ketiga, memiliki integritas moral (2010: 43). Ketiga hal ini kerap menjadi sebuah acuan dalam menunaikan jati diri menjadi sosok yang patut diteladani. Dari unsur pertama, siapa pun yang menempuh keteladanan harus siap menilai dan mengoreksi diri sesuai konteks cerminan akan keteladanan sebagaimana hendak dibangun. Melalui unsur kedua, kompetensi seseorang menjadi acuan, agar keteladanan dapat didukung dengan pedagogi yang matang dan tak lekang oleh waktu. Juga pada unsur terkait integritas moral,  diangkat sebagai konsistensi akan kematangan seorang pribadi itu sendiri, baik dari yang diucapkan maupun tindakannya. 

Tentu tidak mengherankan keteladanan sering diangkat sebagai suatu nilai yang dijunjung dengan begitu bijaknya. Sebab, di dalamnya terdapat kebajikan akhlak serta moral, di mana pada tiap sisi akan terus menerus diolah demi tercapainya kematangan pribadi yang utuh. Mulai dari orang tua sebagai contoh keteladanan secara dini, guru di sekolah dalam pedagogi akhlak dan kompetensinya, juga terhitung adat dan tradisi pada ranahnya untuk mengevaluasi seluruh kesinambungan pada karakter pribadi itu sendiri, semuanya berpadu agar menyelaraskan keteladanan itu secara khas. 

Walau demikian, keteladanan justru tak berjalan mulus dalam realitasnya. Salah satu contoh yang dapat diambil, ketika beredarnya video pertengkaran pada Musyawarah Nasional Himpunan Pengusaha Indonesia (Munas HIPMI) ke XVII, di Solo beberapa hari lalu (22/11/2022). Timbulnya pertengkaran diakibatkan oleh adanya perbedaan pendapat dari kedua belah pihak. hingga adu jotos pun tak dapat terhindarkan. Contoh tersebut menjadi satu ciri khas tentang isu keteladanan itu sendiri, bahwa tidak banyak insan mampu mengolah karakternya secara bebas demi kepribadian yang patut untuk diteladani. 

Intrinsik kebebasan dalam keteladanan secara reflektif

[OPINI] Isu Keteladanan dalam Mengolah KepribadianLiberte et Justitae (dok. Unsplash/Jhon Tyson)

Baca Juga: 5 Sikap Terpuji Shalahuddin Yusuf al-Ayyubi Ini Bisa Jadi Teladan Diri

Terlepas dari contoh tersebut, tak dapat kita pungkiri bahwa keteladanan memang rumit untuk dipahami tanpa adanya kedewasaan dalam mengolah kebebasan itu sendiri. Alasannya, dalam kebebasan terdapat intrinsik luhur yang diberikan Sang Pencipta kepada kita, dan daya intrinsik itu sering disebut sebagai kehendak bebas. Menurut Richards Janet dalam Human Nature After Darwin: A philosophical Introduction, bahwa manusia sebagai insan pada dirinya telah dianugerahkan kehendak bebas, sebagai anugerah dari Tuhan yang memosisikan dirinya mampu untuk memilih suatu sikap bagi dirinya (2001: 85).

Secara garis besarnya, kehendak bebas adalah wilayah intim secara altruis pada diri manusia yang tak dapat diganggu gugat, baik dari fenomena apa pun atau oleh pihak mana pun. Dan oleh karena unsur tersebut adalah anugerah,  pada dasarnya insan berkarakter itu sendiri dapat memilih ketetapan, melalui reflektifnya secara mendiri. Mulai dengan melibatkan kognisi akan keadaan, tanggung jawab moral, serta ketetapan etis yang hendak ia bangun bagi dirinya. Sehingga, bisa saja tiap kita dapat menajamkan keteladanan, karena telah memutuskan untuk konsisten menjadi teladan melalui pelbagai tanggung jawab etis yang terus menerus dibina. Namun kita tak bisa mempersalahkan, bahwa ada pula yang tidak bersikap teladan, lantaran memiliki muatan etis sebagaimana sedang dibangun bagi dirinya. 

Maka dari itu, intrinsik kebebasan bagi keteladanan mewajibkan kehendak bebas agar memutuskan secara jujur dan terbuka pada karakter yang ingin dibangun. Melalui pertimbangan reflektif sebagai metodenya, niscaya kegamangan dalam berkarakter benar-benar mendapat pengolahannya secara terus menerus. 

Merangkul reflektif yang jujur

[OPINI] Isu Keteladanan dalam Mengolah KepribadianFrom Truth to be honesty (dok. Unsplash/Oksana Manych)

Ulasan di atas tak dapat dibina secara mudah, bila tanpa melibatkan kejujuran di dalamnya. Sebab, intrinsik apa pun yang adalah anugerah dari Sang Pencipta akan kandas begitu saja, tanpa kejujuran sebagai sahabat dalam mengolah kepribadian itu sendiri. Dan berkat kejujuran, tajamnya kehendak bebas akan semakin memperkaya insan dengan nilai keteladanan yang unik dan khas. 

Intinya, keteladanan itu bukanlah paksaan. Ia bersifat contoh yang memotivasi siapa pun untuk berani mengolah diri sendiri, melalui kehendak bebasnya, dalam balutan reflektif yang jujur. Maka, jangan khawatir bila keunikan dalam keteladananmu belum mampu diterima oleh lingkup sekitar. Karena, yang bergerak lebih reflektif secara jujur, masih bisa dibela dengan kata belum dan sedang menghayati. Ketimbang yang matang diteladani, tapi masih mengategorikan kehendak bebas seseorang. Ya, kan?   

Baca Juga: [OPINI] Objektifikasi Perempuan di Media Sosial Instagram 

Alfonsius Febryan Photo Writer Alfonsius Febryan

Mengulik sastra anak tongkrongan

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya