Comscore Tracker

[OPINI] Masihkah Perlu Menulis di Atas Kertas?

Ambil penamu dan menulislah

Era teknologi membuat banyak hal berubah, termasuk cara menyampaikan gagasan atau ide. Kini, cara menuangkan gagasan atau argumentasi yang menggenang di benak dilakukan dengan menekan-nekan tombol papan ketik atau keyboard. Ya, namanya mengetik 10 jari.

Tak bisa dipungkiri, mengetik menjadi manifestasi baru kegiatan menulis di abad 21. Alhasil, pelan-pelan manusia modern mulai meninggalkan kegiatan klasik menulis di atas kertas. Contoh sederhananya bisa kita lihat pada kegiatan wartawan atau jurnalis di lapangan.

Dahulu, wartawan era 70-an misalnya, memakai buku catatan atau notes untuk menulis poin-poin penting yang mereka temukan dalam proses meliput berita. Entah itu omongan penting dari narasumber, atau mencatat peristiwa bernilai berita yang mereka lihat. Walhasil, pena dan kertas menjadi teman akrab jurnalis kala itu.

Namun kini polanya mulai berubah. Meski jurnalis tetap memakai tanda pengenal pers selama bekerja, namun harus diakui cara kerja mereka mulai bergeser.

Tuntutan zaman membuat berita lapangan harus tersaji dengan cepat ke tangan pembaca. Maka dari itu lahirlah media daring yang mulai populer pada 2008 di Indonesia. Akhirnya, para jurnalis media online pun bermunculan.

Tak heran, hari ini jurnalis khususnya jurnalis media dari, mulai jarang berteman dengan kertas juga pena. Hanya segelintir mungkin yang masih mengandalkan keduanya untuk mencatat hal penting ketika di lapangan. Namun umumnya, jurnalis mulai berkarib dengan ponsel pintar atau smartphone dan laptop. Keduanya dinilai lebih manjur menunjang proses kerja jurnalis agar lebih cepat.

Jadi, bisa dibilang, jurnalis tetap menghasilkan berita, namun proses menuliskan berita tersebut yang telah berubah.

Jika dulu jurnalis media cetak memindahkan bahan tulisan dari kertas ke mesin ketik sebelum akhirnya masuk proses cetak. Maka kini, jurnalis langsung mengetik bahan berita di ponsel pintar atau laptop mereka dan mengirim langsung tulisannya ke editor melalui pesan elektronik.

Kalau sudah seperti ini, bukan tidak mungkin jika suatu hari nanti kerja jurnalis akan digantikan oleh robot.  Melansir tirto.id, ke depannya wartawan akan bersaing dengan mesin. Apalagi saat ini sudah ada algoritma komputer yang memiliki kemampuan membuat berita.

Salah satu media asing yang memanfaatkan algoritma komputer adalah Los Angeles Times. Media itu memanfaatkan algoritma bernama Quakebot yang dapat mengubah data terbuka menjadi sebuah informasi berbasis teks. Sungguh perubahan yang begitu cepat ya.

Demikianlah kemajuan zaman yang mempengaruhi berbagai lini, termasuk penggunaan pena dan kertas untuk menulis.

Lantas, jika mengetik dinilai lebih efisien dari segi waktu dan lebih cepat, apakah masih perlu menulis di atas kertas? Menurut saya perlu. Bagi saya, kegiatan menulis tangan dengan melibatkan pena dan kertas tak boleh luntur. Sebab, tulisan yang terpatri di atas kertas memiliki magnet tersendiri dibandingkan dengan tulisan hasil ketik.

Saya jadi teringat beberapa tahun lalu, usai lulus menjadi sarjana. Tumpukan kertas tugas kuliah saya dulu masih diam di dalam dus-dus. Karena tak punya kerjaan hari itu, saya putuskan membongkar-bongkar dokumen lama.

Satu-satu lembaran kertas saya amati. Kertas tersebut berisi kumpulan hasil tugas seperti makalah hingga tugas laporan praktik Kuliah Kerja Nyata (KKN). Namun ada beberapa lembar kertas tugas  yang menarik perhatian saya.

Tugas itu tak lain berupa esai yang jawabannya saya tulis di atas dua lembar kertas double folio. Saya pun membatin setelah melihat tulisan di kertas itu, "kenapa tulisan tangan saya jadi jelek banget sekarang ya?". Saya seperti tersentil melihat wajah tulisan saya dahulu yang lebih bagus dan rapi ketimbang hari ini.

Benar memang, setelah lima tahun lulus dari bangku perguruan tinggi, saya mulai jarang beraktivitas dengan kertas, entah untuk menulis cerita pribadi atau sekedar menulis unek-unek di kepala. Kebanyakan aktivitas menulis saya tersalurkan lewat cara mengetik, contohnya seperti saya menulis tulisan ini.

Beginilah risiko jika jarang menulis di atas kertas, tulisan tangan saya  tak lagi rapi dan bagus seperti masa kuliah dulu. Sekarang ini tulisan tangan saya kadang tak karuan, sesekali ukuran tulisan saya besar-besar, namun kadang kecil bahkan bisa seperti tulisan resep dokter yang sulit dibaca.

Padahal, jika dibahas lebih dalam lagi, menulis di atas kertas itu sebenarnya asyik. Itu yang saya rasakan saat masa sekolah hingga kuliah dulu. Kenapa asyik? Karena setelah tulisan kita selesai, ada kepuasan tersendiri di dalam hati. Meski jemari tangan pegal, namun saat tulisan sudah jadi rasa lelah itu pun hilang.

Tak hanya itu, hasil tulisan tangan bisa dibaca kapan pun dan bisa jadi bahan nostalgia di masa depan. Dari catatan lama itu, kita jadi tahu perkembangan tulisan tangan kita dari tahun ke tahun.

Misalnya, waktu zaman kelas 1 Sekolah Dasar (SD),  tulisan tangan kita kala itu tentu masih berantakan. Namun seiring berjalannya waktu, tulisan tangan kita bermetamorfosis menjadi lebih bagus dan rapi saat sudah duduk di bangku kelas 6 SD. Begitu yang saya alami saat di SD dulu.

Ngomong-ngomong soal zaman SD, saya rupanya memiliki buku jurnal harian saat masih berseragam merah putih. Buku catatan pribadi yang sudah usang itu masih saya simpan sampai sekarang. Membaca tulisan tangan di dalamnya membuat saya geli sendiri.

Walau tulisan di buku itu berantakan, saya tetap bisa membacanya dan larut dalam nostalgia mengingat momen dimarahi guru saat di depan kelas. Sungguh catatan zaman baheula yang membuat benak mendadak touring ke masa lampau.

Melansir huffpost.com, ternyata ketika seseorang sedang menulis dengan tangan, otak akan membangun memori motorik. Alhasil, proses ini membantu seseorang mudah mengingat kembali apa yang sudah ia tulis.

Tidak hanya itu, menuliskan segala sesuatu yang kita syukuri ke dalam sebuah jurnal juga dapat menumbuhkan rasa optimis seseorang dalam menjalani hidup. Ini berdasarkan penelitian yang dilakukan peneliti dari  University of California, Davis dan University of Miami.  Hasil penelitian itu menyebutkan bahwa orang-orang yang memiliki jurnal tersebut, lebih optimis menjalani hidupnya ketimbang mereka yang tidak memiliki jurnal.

Ternyata menulis di atas kertas bukan sekedar membubuhkan huruf menjadi kata lalu kalimat. Tapi lebih dari pada itu, ada manfaat hebat yang membuat kegiatan ini baik untuk setiap orang.

Melihat beragam manfaat yang bisa kita peroleh dengan menulis di atas kertas, rasanya kebiasaan klasik ini harus tumbuh kembali di tengah perubahan zaman. Saya sadar, tantangan untuk merawat kembali kebiasaan yang sudah lama hilang ini butuh usaha ekstra. Namun bukan berarti mustahil bukan? Mari mulai menggoreskan pena, menulis dengan tangan lagi.

Baca Juga: [OPINI] Konsep Pendidikan Ki Hajar Dewantara yang Semakin Terlupakan

Anggita Amelia Photo Verified Writer Anggita Amelia

Writing is the way I share it, hopefully my writing will be useful to the reader

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya