Comscore Tracker

[OPINI] Wajarkah Jika Anak Remaja Menjaga Jarak dari Orangtuanya?

Pentingnya menjadi sosok panutan sekaligus teman bagi remaja

Tahun-tahun yang sulit bagi orangtua ialah ketika anak kesayangannya mulai memasuki usia remaja. Hubungan yang semula harmonis dan hangat adakalanya akan memasuki babak baru, di mana sejumlah hambatan mungkin terjadi. Terlebih ketika anak dengan terang meminta lebih banyak otonomi, kebebasan dan kepercayaan. Apabila dilihat secara positif, hal tersebut dapat membantu remaja untuk mengembangkan rasa tanggung jawabnya sebagai individu yang mandiri. Akan tetapi hal demikian juga bisa berdampak lebih jauh seperti timbulnya perasaan terpisah secara emosional antara orangtua dan anak remajanya.

Jika anak usia sekolah dasar akan dengan mudahnya terbuka dan bercerita apa saja dengan orangtuanya, hal tersebut mungkin tidak akan bertahan lama. Ketika anak memasuki masa remaja, ia mulai mengerti akan konsep 'privasi' sehingga membutuhkan ruang yang lebih banyak untuk mengeksplorasi tentang ketertarikannya pada dunia luar maupun terhadap dirinya sendiri.

Pada tahap ini, kehadiran teman-teman sebaya yang sefrekuensi menjadi sesuatu yang penting serta berharga bagi remaja. Oleh karenanya, meski orangtua pernah mengalami masa remaja sekalipun, menyaksikan anak tumbuh dan memberi sekat pembatas akan menjadi pil pahit yang sulit diterima orangtua.

Namun orang dewasa juga perlu mengerti bahwa menjaga jarak dari orang tua adalah hal yang alamiah terjadi saat pubertas berlangsung. Lisa Firestone, Ph.D. dalam artikelnya "What to Do When Your Teen Pushes You Away" yang dimuat pada Psychalive menyebut bahwa hal tersebut merupakan bagian dari proses realisasi diri yang membantu anak-anak menentukan sikap dan bagaimana mereka akan menjadi manusia dewasa nantinya. 

Di lain sisi, wajar bagi orangtua diliputi rasa bersalah, khawatir, dan putus asa ketika tidak bisa merangkul anak remajanya dari dekat. Akan tetapi, orangtua tetaplah pihak yang memegang peran kunci. Ia harus paham bahwa mengekang atau sebaliknya, memperlakukan anaknya dengan manja justru tidak berdampak baik bagi tumbuh kembang si anak. Sekalipun remaja sering bertingkah menjengkelkan dan sulit diatur, penting bagi orang dewasa untuk mengarahkannya.

Apabila digali dari sudut pandang si anak, sekiranya dapat dijelaskan satu alasan utama mengapa remaja memilih memberi jarak pada orangtuanya. Yakni, pola pikir yang berbeda. Mengapa demikian? Tidak bisa dimungkiri, fase transisi dari anak-anak menuju remaja adalah waktu-waktu krusial di mana model pengasuhan yang diterapkan keluarga sangat berperan dalam pembentukan karakter seorang anak.

Ada masanya remaja merasa haus akan perhatian, pujian dan mulai timbul rasa suka pada lawan jenis. Jika kebetulan orangtua atau orang dewasa yang tinggal bersama anak tersebut lebih sering terlihat tidak peduli dan responsif dengan kebutuhan anak, bersikap otoriter, atau malah terlalu permisif maka menjadi lumrah apabila remaja mencari teman aman di mana ia bebas untuk mengekspresikan dirinya secara utuh.

Berbeda cerita dengan anak-anak yang diasuh secara suportif, orangtua terbiasa menempatkan diri sebagai seorang teladan dan di lain kesempatan menjadi teman ngobrol yang akrab dengan anak mereka. Tentunya remaja akan merasa nyaman-nyaman saja apabila mau mengutarakan pertanyaan, keinginan atau pendapatnya pribadi.

Kegelisahan khas remaja ini bahkan turut diangkat menjadi sebuah film animasi berjudul 'Turning Red'. Buat kamu yang udah nonton pasti ngerti bagaimana kebimbangan yang dihadapi Mei Lee, gadis berusia 13 tahun yang berpikir bahwa dirinya nyaman menjalani hari-hari yang dipenuhi segala peraturan kaku dan tuntutan dari keluarganya, terutama sang ibu. Ia selalu diminta untuk disiplin, membantu ibunya, dan mendapatkan nilai sempurna di sekolah. Sampai akhirnya ia menemukan fakta bahwa ia memiliki sisi lain yang sebetulnya lebih menggambarkan siapa Mei Lee sebenarnya, yaitu orang yang periang, berani, dan menyukai boy grup yang dibenci ibunya.

Pada puncaknya, Mei Lee berkata pada ibunya bahwa:

"I'm changing, Mom. I'm finally figuring out who I am. But, I'm scared it will take me away from you."

Dilema yang dihadapi Mei Lee sebetulnya menggambarkan keadaan banyak remaja di kehidupan nyata yang seringnya merasa tak dipahami oleh orangtuanya sendiri. Hal itu akan terus mengganjal di dada sampai akhirnya si anak maupun orangtua mau duduk bersama, mendengarkan ungkapan hati masing-masing yang selama ini coba disembunyikan.

Baca Juga: [OPINI] Refleksi Kartini: Feminisme dan Kesalahpahamannya

Bintan Rah Photo Verified Writer Bintan Rah

thousand things to say

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Merry Wulan

Berita Terkini Lainnya