Comscore Tracker

1 Tahun Pandemik: Benarkah Tak Seburuk Itu?

#SatuTahunPandemik COVID-19

Seharian ini saya berusaha mereka ulang kehidupan saya satu tahun ke belakang ini. Setiap kali saya ditanya, “Bagaimana kehidupanmu selama pandemik ini?” Saya selalu menjawab, “Ya gitu aja, tak ada yang spesial dan menarik.” Akan tetapi ketika saya harus benar-benar serius merefleksikannya, ternyata ada banyak cerita yang cukup menarik yang bisa saya ceritakan. 

Pada 2 Maret 2020, pertama kalinya pemerintah mengumumkan adanya kasus COVID-19 di Indonesia. Pada saat itu, kebetulan saya sedang melakukan perjalanan dinas luar negeri ke Brisbane, Queensland, Australia. Saya melakukan liputan untuk kanal travel ke Brisbane atas undangan Queensland Tourism and Events pada tanggal 26 Februari 2020 hingga 5 Maret 2020.

Saat itu kasus COVID-19 sudah mulai mewabah di berbagai negara, termasuk negara-negara tetangga Indonesia. Namun, kala itu Indonesia masih dengan bangganya mengumumkan np; kasus COVID-19 dan belum diumumkan pandemik global COVID-19. 

Meski belum ditetapkan sebagai pandemik, sejujurnya saya sangat cemas saat hendak bertolak ke Australia. Bagaimana tidak, saya harus melakukan penerbangan ke Singapura terlebih dahulu lalu lanjut ke ibu kota negara bagian Queensland tersebut. Selama perjalanan saya akan bertemu banyak orang dan juga harus singgah ke tempat-tempat umum. Ditambah lagi dalam rombongan itu, terdapat beberapa wartawan dari Malaysia yang mana kasus COVID-19 dilaporkan sedang tinggi-tingginya kala itu. 

Beberapa rekan kerja saya di kantor pun satu per satu batal melakukan liputan ke berbagai kota dan negara karena adanya warning penyebaran virus corona, menambah rasa khawatir dan kecemasan. Namun pihak Queensland Tourism and Events tak gentar memboyong kami untuk meliput beberapa tempat wisata andalan mereka yang baru saja bangkit setelah dilanda bushfire berkepanjangan. 

Rasa cemas selalu menyelimuti perjalanan dari Surabaya hingga Brisbane. Namun pengalaman ini adalah pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan. Saya menyaksikan langsung fenomena di mana hampir semua bandara internasional yang selama ini terkenal padat dan sibuk tiba-tiba senyap dan mencekam.

Terlebih lagi saat saya transit di Changi Airport, bandara termegah di dunia yang biasanya menjadi rujukan ribuan traveler dari berbagai dunia kala itu terlihat lengang dan sedikit mencekam. Pesawat yang saya naiki pun hampir 70 persen hanya berisikan kursi kosong. 

Yang unik, saat itu kepergian saya dari Bandar Udara Internasional Juanda, Surabaya dan Soekarno - Hatta, Tangerang semuanya normal-normal saja. Tidak ada yang berbeda, masih terjadi antrean panjang dan banyak rombongan umroh yang akan menuju tanah suci.

Saat masuk gate saya tak harus melewati pemeriksaan protokol kesehatan seperti thermo gun, thermal scanner, atau bilik disinfektan. Berbeda saat saya tiba di Changi dan Brisbane Airport di mana hampir setiap gate saya harus melewati thermal scanner. Bahkan saat akan keluar dari Brisbane airport saya harus mengantre panjang untuk diinterogasi terlebih dahulu mengenai barang-barang yang kami bawa serta riwayat kesehatan kami. 

Setibanya di Brisbane dan melakukan liputan ke beberapa tempat wisata di sana. Setiap pengelola tempat wisata curhat kepada kami bahwa pandemik COVID-19 ini membuat wisata di Australia semakin terpuruk. Baru saja mereka memulai bangkit dari bencana kebakaran hutan yang hebat, sekarang mereka harus menelan pil pahit lagi. Seperti yang saya lihat, memang selama saya melakukan liputan di sana hampir semua tempat wisata cenderung sepi. Saya seolah-olah sedang menyewa tempat wisata itu, karena hanya ada saya dan beberapa teman wartawan. 

Selama kurang lebih 12 hari saya liputan di Queensland. Pada tanggal 5 Maret 2020, saya dan rombongan kembali ke negara masing-masing. Perjalanan pulang saya ke Jakarta jauh lebih mencekam karena kasus COVID-19 pertama sudah diumumkan di Indonesia, dan juga berita wabah virus corona ini tak kunjung membaik.

Selama perjalanan pulang, pesawat yang saya naiki jauh lebih sepi dibanding saat saya berangkat. Selama perjalanan pulang ini saya banyak mengabadikan foto-foto untuk sekalian saya menulis laporan berita. Tak menyangka, berita pertama yang saya tulis sepulang dari Brisbane bukanlah hasil liputan tempat wisata, namun berita liputan pantauan keadaan bandar udara dan penerbangan internasional di kala pandemik COVID-19. 

Sepulang dari Brisbane, saya berharap bisa bersua dengan kawan-kawan saya di kantor. Saya ingin membagikan beberapa buah tangan dari Negeri Kanguru yang indah itu, namun sayangnya saya harus melakukan karantina mandiri selama 2 minggu terlebih dahulu. Setelahnya, saya tak jumpa lagi dengan teman-teman karena kantor IDN Media menetapkan untuk melakukan work from home  (WFH). 

Sangat sulit bagi saya untuk bisa bekerja dari kos atau rumah. Saya adalah orang yang tergantung pada sebuah rutinitas, lalu tiba-tiba rutinitas yang sudah saya lakukan bertahun-tahun harus berubah 180 derajat dalam sekejap. Saya stres, bingung, dan tidak produktif.

Rutinitas memang membosankan, namun nyatanya saya jadi gusar saat rutinitas yang saya lakukan bertahun-tahun harus berubah tanpa woro-woro sebelumnya. Saya harus beradaptasi dengan cara bekerja dari rumah dan kos, terlebih lagi saat itu memasuki bulan Ramadan. Suasana Ramadan tahun 2020 adalah yang teraneh dan terasa asing bagi saya, karena saya hanya sendiri di kamar dan tak ada acara ibadah dan berbuka bersama dengan kawan-kawan. 

Namun menjelang bulan September, saya kembali disibukkan dengan sebuah tantangan baru yang belum pernah kami lakukan. Pandemik ini benar-benar memaksa kita untuk memutar otak melakukan hal-hal baru yang kami pikir mustahil dilakukan sebelumnya. Seperti halnya saat saya harus menyiapkan acara tahunan kami, Indonesia Writers Festival 2020 atau yang biasa kami sebut IWF. 

Tahun lalu, kami mengusung teman “Be Creative During Pandemic”, karena kami ingin menyebarkan semagat kepada semua orang bahwa meskipun kita semua dalam situasi sulit, namun kreativitas tidak akan mati. Kurang lebih ada sebanyak 20 pembicara dari berbagai bidang kami undang untuk sharing ilmu dengan community writer dan juga mahasiswa yang kami undang, sebut saja seperti Nadhifa Tsana (Rintik Sedu), Kalis Mardiasih, Ligwina Hartanto, Nadin Amizah, Ivan Lanin hingga Ignasius Jonan. 

Awalnya kami ragu namun juga bersemangat, karena untuk pertama kalinya kami harus menggelar acara akbar bagi komunitas penulis IDN Times Community ini secara online. Tak menyangka, IWF 2020 ini mendulang animo yang cukup baik. Dengan alat seadanya, dan tim yang terpisah antara Surabaya dan Jakarta, kami mampu membuktikan bahwa tak ada yang menghentikan kami.

Justru dengan segala keterbatasan ini, kami bisa membuktikan bahwa tim kami semakin solid dan tak kehabisan kreativitas. Lega sekaligus senang karena kehadiran IWF 2020 secara online, untuk pertama kalinya community writer dari Sabang hingga Merauke bisa berkumpul bersama meski hanya lewat layar. Selalu ada hikmah di setiap kejadian bukan?

Hingga detik ini saya menulis, sayangnya keadaan di Indonesia belum kunjung membaik. Hari demi hari saya berharap akan ada angin segar yang tiba-tiba berhembus di bumi pertiwi ini. Namun pada kenyataannya, bencana-demi bencana malah datang bertubi-tubi. Kita semua sudah lelah menghadapi pandemik ini dan sangat rindu untuk bisa menghirup udara bebas tanpa masker seperti sedia kala. Kita semua pasti rindu untuk berinteraksi langsung seperti dulu, makan bersama dan berpelukan erat saat bertemu dengan orang-orang terkasih. Kapan itu akan terjadi? Seperti hanya angan-angan. 

Berkali-kali harapan saya pupus, namun bagaimana pun juga saya masih punya harapan. Meskipun harapan itu hanya ada satu persen, akan saya pegang erat harapan dan optimisme itu. Lagipula, setelah saya sedikit bernostalgia ternyata selama pandemik ada saja hal baik yang juga datang. Diawali dengan perjalanan liputan ke luar negeri saat awal pandemik, menjadi host live IG Check Fakta COVID-19, sukses menyelenggarakan Indonesia Writers Festival 2020, dan bonusnya saya berubah drastis memilih menerapkan pola hidup sehat. 

Pandemik COVID-19 ini memang sebuah petaka bagi kita semua, namun dalam perjalanan saya pribadi tak sepenuhnya buruk. Sekali lagi, kehidupan ini memang begitu unik dan penuh dengan kejutan. Tak hanya hitam dan putih, namun juga ada abu-abu. Menjadi bijak adalah salah satu cara terbaik untuk menghadapi kehidupan ini, memilih untuk melihat sisi yang cerah setidaknya membuat satu persen harapan itu cukup dapat menenangkan kehidupan saya di tengah badai ini.

#SatuTahunPandemik adalah refleksi dari personel IDN Times soal satu tahun virus corona menghantam kehidupan di Indonesia. Baca semua opini mereka di sini.

Baca Juga: Lika-liku Pandemik COVID-19, Antara Duka dan Bahagia

Topic:

  • Umi Kalsum

Berita Terkini Lainnya