Comscore Tracker

[OPINI] Curhatan Penulis: Editor, Kenapa Artikelku Gak Terbit?

Teman-teman penulis baru wajib baca, nih!

Setiap orang punya kebahagiannya masing-masing. Ada yang punya uang bergunung-gunung, dia baru bahagia. Ada yang punya waktu luang, dia baru bahagia. Akan tetapi, untuk penulis sendiri, tiba-tiba mendapatkan notifikasi dari IDN bahwa artikel terbit adalah sebuah kebahagiaan, yang bisa dibilang, luar biasa.

Mungkin, teman-teman bertanya, emangnya sespesial apa sih notifikasi artikel terbit dari IDN? Untuk jawaban simpelnya, penat terbayarkan. Hal ini karena untuk menyusun sebuah artikel, itu tidaklah main-main. Kita harus bisa mempertanggung jawabkan apa yang kita tulis. Kalau sekadar comot sana, comot sini, tanpa memeriksa kembali kebenarannya, berarti kita sudah menyebarkan fake news. Apalagi kalau tulisan yang kita buat ternyata plagiat, kita bisa didenda dan/atau dipenjara berdasarkan Pasal 72 ayat (1) UUHC, lho. Jadi, melihat artikel yang sudah kita susun dengan sungguh-sungguh sampai berpeluh-peluh akhirnya terbit adalah sebuah kemenangan tersendiri.

Di samping itu, menulis di IDN juga bisa mendatangkan sejumlah cuan, dan ini jugalah yang menjadi faktor pendorong banyaknya penulis baru yang muncul. Kendati demikian, untuk sekadar 'sepucuk' artikel diterbitkan oleh tim editor tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Banyak penulis yang mengeluh artikelnya digantungin melulu. Hingga akhirnya, mereka bertanya-tanya apakah para editor pilih kasih atau hanya cuma mau nerbitin artikel dari mereka yang sudah verified. Terkait hal serupa, penulis juga pernah mendengar kalau ada yang sampai protes karena artikelnya gak kunjung terbit atau sejenisnya.

Penulis mengerti banget keresahan teman-teman. Penulis sendiri punya pengalaman cukup pahit tentang penggantungan, begitu juga dengan penulis terkenal lainnya. So, you're not alone, guys. Akan tetapi, tidak ada yang namanya diskriminasi, kok. We are all equal among newer writers and older writers. Dan sebenarnya, para editor, lewat podcast ataupun Editors' talks saat IWF, sudah membocorkan banyak tips dan trik supaya artikel kita cepet terbit.

Kalau penulis perlu meringkasnya, sebenarnya, cuma ada 4 rumus utama supaya tulisan kita terbit di IDN.

1. Harus paham menulis dahulu!

[OPINI] Curhatan Penulis: Editor, Kenapa Artikelku Gak Terbit?unsplash.com/Green Chameleon

Bruuh... kalau masalah nulis, mah, kita mungkin sudah biasa, ya? Kirim pesan ke doi pun juga menulis namanya. Akan tetapi, itu berbeda. Penulis pernah ada pengalaman ditanyai oleh salah seorang teman yang baru bergabung. Ia bertanya tentang lamanya moderasi artikel. Ia sepertinya sudah cukup frustrasi karena artikelnya tak kunjung terbit. Saya mengerti keresahannya dan memutuskan untuk membantunya. Bahkan, penulis menawarkan bantuan untuk melakukan peer review terhadap tulisannya.

Review pertama, ia mengirimkan screenshot dari kolom moderasinya. Saya melihat bahwa ia masih belum benar, atau lebih tepatnya, salah besar, dalam menulis judul. Banyak kesalahan, seperti huruf awal yang belum kapital, menggunakan titik di judul, dan lainnya, yang saya temukan. Selain itu, ia juga masih belum membuat italic istilah asing maupun slang.

Kita tahu bahwa setiap harinya tim editor menerima beribu artikel dan mereka memiliki target artikel tertentu yang harus diterbitkan tiap harinya. So pasti, mereka bakal lumayan kewalahan mengedit kalau tulisan yang kita buat ternyata masih ngasal dan berantakan. Kita akhirnya perlu paham bahwa menulis artikel tidak sama dengan menulis pesan singkat yang mana setiap kalimatnya juga bisa disingkat-singkat. Terlebih di IDN, kita harus selalu menulis sesuai dengan PUEBI dan KBBI.

2. Jangan malas membaca "Panduan Penulis"

[OPINI] Curhatan Penulis: Editor, Kenapa Artikelku Gak Terbit?freepik.com/pvproductions

Salah satu kesalahan teman-teman yang baru join adalah malas memeriksa "Panduan Penulis". Kenapa saya bisa menyimpulkan sedemikian? Kembali lagi dengan pengalaman saya tadi.

Setelah review pertama, dan setelah saya beritahukan kesalahan yang ada, ia tiba-tiba mengirimkan saya screenshot dari artikelnya yang perlu direvisi. Perlu teman-teman ketahui, artikel yang direvisi itu kemungkinan besar sudah pasti bakal terbit. Artikel revisi berarti tulisan kita dirasa menarik untuk dibaca khalayak ramai, namun masih perlu beberapa perbaikan. Salah satu poin revisi yang saya lihat adalah mengenai penulisan sumber gambar. Beberapi hari setelahnya, ia memberitahu saya bahwa ada artikelnya yang ditolak. Setelah saya telisik, ia masih saja salah dalam menulis sumber gambar: masih mencantumkan Google sebagai sumbernya.

Dari sini, saya pun menyimpulkan bahwa ia tidak membaca atau belum membaca dengan seksama panduan yang ada. Padahal, di panduan tersebut, benar-benar sudah sangat lengkap dan jelas. Mulai dari cara penulisan judul yang baik dan benar, kemudian penulisan sumber gambar, memilih gambar yang bagus, dan sebagainya; sudah sangat complete. Penulis saja, memang bukan penulis handal, namun sudah berhasil menerbitkan beberapa tulisan, masih sering bolak-balik membuka Panduan Penulis.

Jadi, panduan tersebut dibuat supaya menjadi guiding light terutama untuk para penulis baru. Saya bisa berani bilang bahwa artikel kita gak bakal terbit kalau panduan saja gak pernah dicermati.

3. Judul yang menarik, but no clickbait

[OPINI] Curhatan Penulis: Editor, Kenapa Artikelku Gak Terbit?unsplash.com/Glenn Carstens-Peters

Ini adalah salah satu faktor penentu utama buat tulisan kamu dibuka oleh editor. Judulnya gak perlu lebay. Sederhana saja, namun tetap mampu menarik atensi pembaca. Kalau masalah clickbait, penulis sebenarnya gak terlalu punya masalah. Saya sendiri juga merasa sering membuat judul yang clickbait. Akan tetapi, kamu perlu memastikan bahwa meskipun clickbait, artikel kamu memang benar-benar membahas apa yang tertera di judul. Kan, aneh aja kalau kamu membuat judul, "5 Makanan khas Betawi", tapi kamu malah include rendang. Intinya, harus tetap sinkron dan bertanggung jawab terhadap isinya.

Terlebih lagi, penulisan judul harus benar. Kamu harus paham kata mana yang huruf awalnya harus besar dan tidak. Ini karena, bisa jadi editor enggan membuka tulisan kamu, yang meskipun bagus dan profound, hanya karena judulnya masih salah. Kalau kata Kak Merry Wulan, "Aduh, males, deh." Makanya, harus tetap cermat, ya!

Baca Juga: [OPINI] 5 Dampak yang Mengancam Jepang Akibat Fenomena Shoushika

4. Artikelnya usahakan jangan kepanjangan!

[OPINI] Curhatan Penulis: Editor, Kenapa Artikelku Gak Terbit?unsplash.com/Bench Accounting

Yang terakhir mengenai panjang artikel. Kenapa sih juga harus memerhatikan hal sedemikian? Soalnya, penulis pernah punya pengalaman. Ada artikel saya yang direvisi dan editornya bilang kalau artikel saya masih kepanjangan. Lah, emangnya kenapa kalau kepanjangan? Begini, guys. Jujur aja, banyak dari kita yang males baca. Penulis pun terkadang, kalau lagi baca artikel orang lain, sering banget swipe-swipe aja, sekadar baca sub-judul yang ada. Dikarenakan kebiasan para millinneals inilah makanya kamu perlu memerhatikan panjang artikel.

Kalau memang perlu panjang, seperti artikel science dan medical yang butuh penjelasan rinci dan lengkap, silakan buat sejelas-jelasnya. Akan tetapi, kalau memang bisa pendek, kenapa tidak? Buat tulisan yang singkat, namun padat dan jelas.

Itulah tadi sedikit curhatan dan saran dari penulis sendiri. Saya sama sekali tidak memihak siapa pun. Saya pun juga sebenarnya ada kekesalan tersendiri dengan tim editor yang seharusnya langsung meng-reject artikel kalau sudah lebih dari 20 tahun nimbrung di kolom pending. Alasan saya mengutarakan ini adalah supaya kita mengerti bahwa sebaiknya kita harus periksa diri kita dahulu sebelum akhirnya menyalahkan orang lain; kita harus periksa dahulu apa benar tulisan kita sudah sesuai PUEBI sebelum akhirnya protes ke mimin lewat fitur Talk to Us.

Semisal memang sudah sesuai dengan Panduan Penulis, PUEBI, dan kaidah menulis lainnya, bisa jadi, IDN Times bukan rezeki kamu. Tapi saya yakin, kok, kalau kita berusaha, pasti artikel kita terbit. Itu sebabnya juga, selain berusaha, jangan lupa berdoa kepada Sang Maha Kuasa untuk mengizinkan artikel kita diterbitkan oleh tim editor tercinta. Sekian dari saya. Maaf kalau kepanjangan ya, teman-teman (padahal nyuruh bikin artikel pendek-pendek). Semoga membantu!

Baca Juga: [OPINI] Benarkah Digitalisasi Meruntuhkan Media Cetak?

E N C E K U B I N A Photo Verified Writer E N C E K U B I N A

"Maju tak gentar, raibkan gelatar" | IG: @friasumitro

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya