Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
[OPINI] Mengapa Aku Harus Memenuhi Standar Kecantikan Orang Lain?
ilustrasi siluet (pexels.com/Kalz📸🇺🇬 Michael)
  • Artikel menyoroti bahwa standar kecantikan seperti kulit putih dan tubuh langsing terbentuk dari konstruksi sosial, budaya, serta pengaruh media yang terus direproduksi dalam kehidupan sehari-hari.
  • Dengan perspektif Linguistik Antropologis, dijelaskan bahwa bahasa berperan penting membentuk persepsi kolektif tentang kecantikan melalui ungkapan yang diulang dan diwariskan antar generasi.
  • Standar kecantikan yang sempit berdampak pada kesehatan mental perempuan, sementara penggunaan bahasa yang menghargai keberagaman dapat menciptakan budaya yang lebih inklusif dan sehat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

“Kulitnya putih banget, tapi sayang hidungnya gak mancung”

Kalimat seperti itu mungkin terdengar biasa. Padahal, di balik ungkapan tersebut tersembunyi sebuah asumsi bahwa kecantikan memiliki ukuran tertentu: kulit harus cerah, tubuh harus langsing, hidung harus mancung, rambut harus lurus, dan wajah harus selalu tampak muda. Ukuran-ukuran semacam ini kemudian berulang dalam percakapan sehari-hari, iklan, media sosial, hingga industri kecantikan. Ukuran-ukuran tersebut seolah menjadi sebuah kebenaran yang tidak dapat diperdebatkan. Melalui iklan, film, media sosial, dan influencer, perempuan setiap hari disuguhi representasi tubuh yang hampir seragam.

Dari kasus di atas, benarkah kecantikan memiliki standar tunggal yang berlaku untuk semua perempuan?

Standar kecantikan tidak bersifat universal. Standar kecantikan bukan pula sesuatu yang alamiah. Tanpa disadari, standar tersebut merupakan konstruksi sosial dan budaya yang terus berubah mengikuti perubahan ruang, waktu, dan masyarkat. Apa yang dipandang cantik pada suatu masa, belum tentu sama dengan masa-masa yang lain. Apa yang dipandang cantik di suatu daerah, belum tentu sama di daerah lain.

Perspektif Linguistik Antropologis membantu kita memahami mengapa hal tersebut terjadi di tengah masyarakat. Bidang ilmu ini mempelajari hubungan antara bahasa, budaya, dan cara manusia memahami realitas. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi sarana untuk mengklasifikasikan pengalaman, membangun nilai, serta mewariskan cara pandang suatu masyarakat dari satu generasi ke generasi berikutnya (Duranti, 1997). Artinya, bahasa bukan sekadar mencerminkan budaya, melainkan juga ikut membentuk kebudayaan itu sendiri.

Pandangan tersebut berkaitan pula dengan prinsip relativitas bahasa. Prinsip ini dipelopori oleh Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf (1956). Hipotesis ini menjelaskan bahwa bahasa memengaruhi cara manusia mengamati, mengategorikan, dan menafsirkan dunia di sekitarnya. Jika direfleksikan, ketika suatu masyarakat terus-menerus menggunakan ungkapan seperti "kulit putih itu cantik", "perempuan langsing lebih menarik", atau "hidung mancung lebih indah", bahasa tersebut perlahan membangun persepsi kolektif tentang siapa yang layak disebut cantik.

Dari sinilah kita dapat melihat bahwa bahasa bekerja di tengah masyarakat. Kata-kata yang terus diulang akhirnya terasa sebagai fakta. Padahal, sesungguhnya hal tersebut merupakan hasil kesepakatan budaya. Dalam Linguistik Antropologis, proses ini menunjukkan bahwa makna sebuah kata tidak pernah berdiri sendiri. Makna selalu lahir dari konteks sosial dan budaya tempat bahasa itu digunakan (Foley, 1997).

Fenomena tersebut dapat kita lihat di berbagai konsep kecantikan dari berbagai belahan dunia. Dalam budaya Jawa, misalnya, istilah ayu tidak hanya merujuk pada paras yang menarik, tetapi juga mencerminkan kelembutan, kesopanan, ketenangan, dan perilaku yang baik. Selanjutnya, dalam budaya Jepang berkembang konsep kawaii, yaitu daya tarik yang bersumber dari kesan polos, imut, dan menggemaskan. Selain itu, di beberapa masyarakat Afrika, tubuh yang lebih berisi justru dipandang sebagai simbol kesehatan, kesejahteraan, dan kematangan sosial. Berbagai contoh tersebut menunjukkan bahwa kecantikan tidak memiliki definisi tunggal karena selalu dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya masyarakatnya (Liebelt, 2026).

Fenomena ini tidak berhenti pada persoalan penampilan. Hal ini diperparah dengan algoritma media sosial yang dengan terus menampilkan wajah-wajah yang dianggap ideal. Akibatnya, banyak perempuan yang membandingkan dirinya dengan standar yang sebenarnya adalah sebuah konstruksi yang dibangun dari kepentingan industri. Pembandingan diri terhadap konstruksi kepentingan industri ini tidaklah objektif.  

Standar kecantikan yang sempit dapat memengaruhi kesehatan mental perempuan. Rasa percaya diri menurun, kecemasan terhadap bentuk tubuh muncul, dorongan untuk terus mengubah penampilan turut serta hadir dalam benak. Semua dilakukan demi sebuah pengakuan sosial. Ironisnya, standar tersebut selalu berubah sehingga tidak pernah benar-benar dapat terpenuhi seutuhnya. Hari ini kulit putih dianggap ideal, besok mungkin kulit kecokelatan menjadi tren. Hari ini tubuh sangat langsing dipuji, beberapa tahun kemudian tubuh berlekuk kembali menjadi simbol kecantikan. Jika standar selalu berubah mengikuti ruang dan waktu, mengapa nilai diri perempuan harus ikut berubah?

Melalui perspektif Linguistik Antropologis, kita diajak menyadari bahwa standar kecantikan sesungguhnya dibangun melalui bahasa yang terus direproduksi dalam kehidupan sehari-hari. Ucapan seperti "kamu cantik deh kalau putih", "kalau kurusan pasti lebih menarik", atau "perempuan harus tampil sempurna" bukanlah komentar yang netral. Kalimat-kalimat tersebut merupakan praktik kebahasaan yang secara perlahan mempertahankan hierarki sosial mengenai tubuh perempuan. Sebaliknya, ketika masyarakat mulai menggunakan bahasa yang menghargai keberagaman warna kulit, bentuk tubuh, usia, maupun karakter wajah, hal tersebut menandakan bahwa masyarakat sedang membangun budaya yang lebih inklusif.

Mungkin sudah saatnya kita bertanya, "Mengapa aku harus memenuhi standar kecantikan yang dibuat orang lain?".

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article

Mattiyah Rachmat Gobel10 Jul 2026, 11:56 WIBOpinion