Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

[OPINI] Benarkah Era Emas Drakor Sudah Berakhir?

[OPINI] Benarkah Era Emas Drakor Sudah Berakhir?
When Life Gives You Tangerines (dok. Netflix/When Life Gives You Tangerines)
Intinya Sih
  • Popularitas drakor menurun sejak 2024–2025, dengan sedikit judul yang viral dibanding era 2010-an hingga awal 2020-an meski sempat bangkit lewat beberapa serial sukses.
  • Drama pendek asal China menarik perhatian penonton karena formatnya singkat dan ringan, mendorong produser Korea beradaptasi dengan miniseri serta drama vertikal.
  • Penurunan minat terhadap drakor dianggap bagian dari siklus alami industri hiburan akibat kejenuhan tema dan frekuensi perilisan yang terlalu cepat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Tidak pada tahun 2010-an sampai awal 2020-an, gema drama Korea dinilai agak redam beberapa tahun belakangan. Pandemik COVID-19 kerap dibilang puncak kejayaan mereka sampai akhirnya drakor itu mulai mengalami penurunan pesona.

Harus diakui tak banyak judul drakor yang jadi perbincangan di media sosial. Benarkah drama Korea sudah masuk fase sunset (pertumbuhan negatif)? Coba kita telaah lebih jauh.

1. Tak banyak drakor yang menarik perhatian pemirsa sepanjang 2024—2025

Itaewon Class
Itaewon Class (dok. Netflix/Itaewon Class)

Sadar gak, sih? Selama tahun 2024—2025, kamu jarang mendengar drakor yang viral layaknya pada 2010-an dan awal 2020-an. Saat itu, drama Korea macam Reply 1988 (2015), Goblin (2018), Crash Landing on You (2019), dan The Last Empress (2019) jadi favorit banyak orang.

Puncaknya, saat pandemik COVID-19 orang-orang yang sebelumnya tak familier dengan drakor jadi ikutan nonton. Ini berkat kesuksesan Itaewon Class (2020), Hospital Playlist (2020), Hometown Cha Cha Cha (2021), Vincenzo (2021), Taxi Driver (2021), D.P. (2021), Squid Game (2021).

Pada 2022-2023, industri drama Korea masih diselamatkan The Glory (2022), Pachinko (20220, Moving (2023), Bloodhounds (2023), Mask Girl (2023), dan A Time Called You (2023). Namun, setelah itu, pamor drakor perlahan meredup. Sepanjang 2024—2025 beberapa serial yang berstatus viral dan sukses. Mereka antara lain Light Shop (2024), When Life Gives You Tangerine (2025), A Shop for Killers (2024).

Sisanya bahkan yang dibintangi aktor sekaliber Lee Dong Wook (The Divorce Insurance) dan Nam Goong Min (Our Movie) diklaim flopped alias gagal raih rating bagus. Pada 2026, Can This Love Be Translated, Perfect Crown, dan We Are All Trying Here memang jadi angin segar buat industri drakor. Namun, harus diakui daya tarik mereka tak sebersinar dulu di mata pemirsa.

2. Kini drakor harus bersaing dengan drama pendek asal China

Goblin
Goblin (dok. Studio Dragon/Goblin)

Salah satu alasan yang paling sering disebut adalah invasi drama pendek asal China. Meski secara kualitas tak bisa dibilang lebih baik dari drakor konvensional, drama pendek vertikal ternyata cukup ampuh menarik perhatian massa. Apalagi, di tengah tekanan hidup yang makin berat. Drama pendek dianggap sebagai hiburan yang satset, lebih murah, dan gak perlu komitmen tinggi.

Kesuksesan drama pendek pun dibaca para produser drakor, lho. Format miniseri mulai dilirik rumah produksi. Sejak pandemik sudah banyak drakor yang dirilis dalam 6—8 episode saja. Dari yang biasanya 16-20 episode untuk drama reguler, kini sudah banyak produser yang memutuskan membuat 10-12 episode.

Bahkan industri drama vertikal juga sedang berkembang di Korsel, sebagai bentuk adaptasi atas perubahan pola konsumsi manusia modern. Tantangannya, drama pendek atau microdrama ini ada pada tiap adegan, yakni harus dibikin menggigit dan menarik minat. Tak pelak, genre spicy drama (drama yang mengutamakan adegan romantis intens dan ditujukan untuk penonton dewasa).

3. Apakah ini sebuah siklus yang alamiah?

We Are All Trying Here
We Are All Trying Here (dok. Netflix/We Are All Trying Here)

Pertanyaannya, apakah industri drama Korea bakal selamat setelah mencoba beberapa strategi tadi? Kalau menilik beberapa kasus lama, bisa saja ini adalah siklus yang tak bisa dihindari. Layaknya, sinema Hong Kong yang mengalami era emas pada dekade 1980—1990-an, kemudian tenggelam begitu saja pada 2000-an. Salah satu alasan klise dari siklus alamiah itu adalah kejenuhan pasar terhadap cerita yang disuguhkan.

Pada hakikatnya, manusia tidak bisa dituntut untuk selalu membuat inovasi dalam waktu singkat. Saat itu, industri hiburan Hong Kong dipenuhi film-film yang ceritanya mirip-mirip, yakni berkutat pada genre aksi dan noir. Pola yang sama pun bisa kita amati dalam drakor. Drama-drama yang dirilis kebanyakan masih berkutat pada genre romantis, drama tempat kerja, kritik sosial, nostalgia, aksi-investigasi, dan trauma healing.

Cukup beragam dan kreatif pengemasannya, tetapi tetap terasa menjenuhkan. Frekuensi perilisan drama yang terlalu cepat bisa jadi alasan lanjutannya. Seperti kasus sinema Hong Kong, gara-gara minat penonton naik, rumah produksi dan investor berbondong-bondong bikin film yang membuat penonton jadi kelebihan pilihan. Kualitasnya pun menurun karena penulis naskah dan sutradara dituntut menggarapnya secepat kilat.

Niatnya mau rileks, kadang memilih drakor saat punya waktu luang justru melelahkan. Pilihan varian judul sering membuat kita kewalahan dan akhirnya memilih untuk gak nonton saja. Itu mungkin salah satu hal yang ikut melandasi bagaimana drakor kehilangan pesonanya. Bagaimana menurutmu? Faktor apalagi yang kiranya bisa menjelaskan fenomena tersebut? Atau kamu justru tidak melihat penurunan minat terhadap drakor?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Izza Namira
EditorIzza Namira
Follow Us

Related Articles

See More