Comscore Tracker

#DirumahAja Bikin Aku Punya Waktu Interaksi dengan Idola

#SatuTahunPandemik COVID-19

Hai, aku Rehia. Usiaku 26 tahun dan aku jurnalis di salah satu media di Indonesia, IDN Times. Di sini, aku mau berbagi pengalamanku selama setahun menghadapi pandemik COVID-19.

Maret 2020, ketika kasus COVID-19 pertama dilaporkan di Indonesia, aku tidak terkejut ataupun takut. Itu karena aku telah banyak mengetahui tentang penyebaran pandemik tersebut dari berbagai media internasional dan jurnal resmi yang dikeluarkan organisasi dunia seperti World Health Organization (WHO).

Aku bahkan sudah sejak jauh-jauh hari mempraktikkan gaya hidup bersih seperti rajin mencuci tangan dan memakai masker karena dari apa yang kubaca, virus itu menyebabkan gangguan pernapasan, mirip seperti flu dan lain sebagainya. Karenanya, aku mempraktikkan hal-hal yang biasa dilakukan untuk menghindari tertular penyakit pernapasan tersebut.

Namun, meski sudah menjaga tubuh dari terinfeksi, ternyata virus itu menyerang hal lain, yaitu mental. Jujur, membaca dan menulis berita tentang kasus infeksi hingga kematian akibat COVID-19 yang makin hari makin tinggi, ternyata secara tidak sadar membuat mentalku terguncang. Aku jadi mudah cemas dan takut, hingga hal tersebut mempengaruhi konsentrasiku dalam bekerja.

Tapi dari pengalaman ini, aku jadi sadar bahwa aku selama ini sering mengabaikan kesehatan jiwa. Semenjak itu, aku menjadi lebih memperhatikan pikiran dan perasaanku. Aku menjadi lebih mencoba untuk memahami diri sendiri, yang mana ternyata sangat penting untuk dilakukan.

Salah satu cara yang biasa kulakukan untuk menenangkan diri di saat cemas atau takut mulai muncul, adalah dengan bersyukur. Misalnya, ketika aku menulis tentang kasus infeksi global yang semakin tinggi dan angka kematian meningkat, pada saat itu aku menyempatkan diri untuk merenung, mensyukuri tubuh sehat yang aku punya. Aku juga bersyukur masih memiliki pekerjaan ketika aku menulis hal-hal terkait PHK yang banyak terjadi tahun lalu. Intinya, virus ini telah membuatku menjadi lebih banyak berkaca dan melihat hal-hal kecil yang banyak terabaikan selama ini.

Di sisi lain, kehadiran virus yang juga membuat jarak menjadi hal wajar, telah memaksaku untuk mempelajari teknologi dan mencoba berbagai aplikasi baru yang mungkin tidak akan pernah aku coba jika tidak karena terpaksa. Secara tidak sadar, hal ini telah membuatku memperoleh ilmu baru, yang mana sangat aku syukuri.

Virus juga telah memaksa pemerintah memberlakukan pembatasan, membuat orang-orang harus bekerja dari rumah. Tapi, karena tidak perlu ke kantor dan menghabiskan waktu dalam perjalanan, aku jadi punya waktu lebih untuk melakukan hal-hal yang kusuka seperti mendengarkan musik dan membaca atau juga melukis. Kadang, aku juga memakai waktu senggang itu untuk mempelajari hal-hal baru.

Karena virus ini juga, aku jadi lebih sering menggunakan media sosial untuk berinteraksi dengan dunia luar, yang ternyata malah membawaku pada pengalaman yang tidak pernah aku bayangkan selama ini. Dari sering membuka media sosial Instagram, aku bisa berinteraksi dengan idolaku, yang juga mengalami lockdown di Amerika Serikat.

Dari interaksi itu aku bisa semakin dekat dengannya dan bahkan bisa mengirimkan salah satu lukisan karyaku kepadanya. Aku juga bertemu secara virtual dengan sesama penggemarnya dari berbagai belahan dunia. Hal ini tidak hanya membantuku melewati masa-masa sulit di tahun 2020, tapi juga membuatku berkembang dalam banyak hal, salah satunya dalam hal kemampuan berbahasa Inggris karena terus berkomunikasi dengan teman-teman baruku.

Aku benar-benar bersyukur karena ternyata di balik hal-hal buruk yang terjadi akibat pandemik ini, ada sangat, sangat banyak sekali hal baik yang terjadi. Mungkin tanpa virus dan #dirumahaja pengalaman seberharga ini tidak akan pernah aku alami.

Jadi, untuk teman-teman yang membaca sepenggal cerita ini, aku ingin mengatakan ini, “Apapun yang terjadi, sekali pun itu hal buruk, cobalah untuk melihat dari sisi lain. Karena bagaimana pun juga, selalu ada hal baik yang terjadi bersama hal buruk itu, meskipun kadang kecil. Juga, jangan lupa untuk memahami diri sendiri.”

Seperti kata Haemin Sunim dalam bukunya yang berjudul The Things You Can See Only When You Slow Down, “Knowing our minds is just as important as trying to change the world,” dan “When your mind is joyful and compassionate, the world is, too. When your mind is filled with negative thoughts, the world appears negative, too. When you feel overwhelmed and busy, remember that you are not powerless. When your mind rests, the world also rests.”

Terima kasih.

#SatuTahunPandemik adalah refleksi dari personel IDN Times soal satu tahun virus corona menghantam kehidupan di Indonesia. Baca semua opini mereka di sini.

Baca Juga: Setahun Pandemik, dari Pasar Minggu hingga Kuningan

Topic:

  • Umi Kalsum

Berita Terkini Lainnya