5 Fakta Black Browed Babbler, Burung Langka yang Hilang 172 Tahun

- Black-browed Babbler hanya dikenal dari satu spesimen sejak 1840-an dan tak tercatat selama 172 tahun, hingga penemuan kembali menegaskan asalnya di tenggara Kalimantan.
- Dua warga lokal menemukan burung ini secara tak sengaja di Kalimantan Selatan pada 2020; foto mereka kemudian dikonfirmasi ahli, membuka peluang penelitian langsung di alam.
- Burung ini hidup di habitat karst dan sulit diamati karena bergerak diam-diam di vegetasi bawah; dokumentasi individu hidup juga mengungkap perbedaan fisik dari spesimen museum.
Take a Deeper Reads

Black-browed Babbler (Malacocincla perspicillata) merupakan salah satu burung paling misterius yang pernah ditemukan di Indonesia. Burung pengicau ini sempat tidak terlihat selama 172 tahun, sehingga keberadaannya menjadi teka-teki bagi para ahli. Menariknya, Black-browed Babbler akhirnya ditemukan kembali di hutan Kalimantan dan mengungkap berbagai informasi baru mengenai spesies tersebut.
Kisah penemuan kembali burung ini cukup luar biasa karena sebelumnya hanya ada satu spesimen yang diketahui oleh dunia ilmiah. Penemuan pada 2020 kemudian memastikan bahwa burung tersebut masih bertahan hidup di alam liar. Yuk, kita simak lima fakta menarik Black-browed Babbler, burung langka yang hilang 172 tahun ini!
1. Hilang selama 172 tahun

burung malacocincla perspicillata (inaturalist.org/robhutchinson) Black-browed Babbler pertama kali diketahui dari sebuah spesimen yang dikumpulkan oleh naturalis dan geolog Jerman, Carl A.L.M. Schwaner, sekitar 1840-an. Mengutip Journal of Asian Ornithology, spesies ini kemudian dideskripsikan secara ilmiah oleh Charles Lucien Bonaparte pada 1850. Setelah itu, tidak ada lagi spesimen atau penampakan yang dilaporkan hingga akhirnya burung ini ditemukan kembali setelah 172 tahun.
Lamanya periode tanpa catatan membuat Black-browed Babbler menjadi salah satu burung paling misterius dalam dunia ornitologi Indonesia. Bahkan asal spesimen pertamanya sempat membingungkan karena pernah diduga berasal dari Jawa. Penemuan kembali di Kalimantan Selatan akhirnya membantu memastikan bahwa spesies ini berasal dari bagian tenggara Pulau Borneo.
2. Ditemukan kembali di Kalimantan Selatan

burung malacocincla perspicillata (inaturalist.org/robhutchinson) Black-browed Babbler ditemukan kembali pada 2020 secara tidak sengaja oleh dua warga lokal, Muhammad Suranto dan Muhammad Rizky Fauzan. Dilansir Oriental Bird Club, saat sedang mengumpulkan hasil hutan di Kalimantan Selatan, mereka menemukan burung yang tidak dikenali, kemudian mengambil beberapa foto sebelum melepaskannya. Foto tersebut selanjutnya diperlihatkan kepada kelompok pengamat burung dan para ahli hingga identitasnya dikonfirmasi sebagai Black-browed Babbler.
Penemuan ini mengakhiri penantian selama 172 tahun sejak spesies tersebut terakhir diketahui dari catatan ilmiah. Kejadian tersebut juga menunjukkan pentingnya peran masyarakat lokal, pengamat burung, dan peneliti dalam mengungkap keberadaan satwa yang sangat sulit ditemukan. Penemuan kembali ini sekaligus memberikan kesempatan bagi para ilmuwan untuk mempelajari habitat dan perilaku Black-browed Babbler secara langsung di alam.
3. Hidup di habitat karst

burung malacocincla perspicillata (inaturalist.org/khalebyordan) Setelah ditemukan kembali, Black-browed Babbler berhasil didokumentasikan di habitat alaminya. Penelitian lanjutan menemukan burung ini di kawasan dengan habitat batu kapur atau karst di Kalimantan Selatan. Habitat tersebut memberikan petunjuk penting mengenai lingkungan yang kemungkinan dibutuhkan spesies ini untuk bertahan hidup.
Mengutip Journal of Asian Ornithology, burung ini diketahui cukup sulit diamati karena cenderung bergerak secara diam-diam di antara vegetasi bawah dan kawasan berbatu. Sifatnya yang tersembunyi kemungkinan menjadi salah satu alasan mengapa keberadaannya begitu lama luput dari pengamatan manusia. Penemuan setelah 172 tahun juga menunjukkan bahwa hutan Kalimantan masih menyimpan banyak informasi yang belum terungkap.
4. Penampilannya berbeda dari spesimen musiman

burung malacocincla perspicillata (inaturalist.org/robhutchinson) Penemuan burung hidup memberikan kesempatan kepada para ahli untuk melihat penampilan Black-browed Babbler secara lebih akurat. Dilansir Smithsonian Magazine, foto burung yang ditemukan menunjukkan adanya perbedaan pada warna iris mata, paruh, dan kakinya dibandingkan dengan satu-satunya spesimen lama yang diketahui. Perbedaan ini memberikan informasi baru mengenai ciri fisik alami Black-browed Babbler yang sebelumnya hanya dipelajari melalui spesimen museum.
Perbedaan tersebut kemungkinan berkaitan dengan perubahan warna yang terjadi pada bagian tubuh burung setelah diawetkan. Proses taksidermi dapat membuat warna alami beberapa bagian tubuh memudar atau berubah sehingga pengamatan terhadap individu hidup menjadi sangat berharga bagi penelitian spesies ini. Dengan adanya dokumentasi burung yang masih hidup, para peneliti dapat membandingkan ciri fisiknya dengan spesimen lama secara lebih akurat.
5. Masih menyimpan banyak misteri

burung malacocincla perspicillata (inaturalist.org/robhutchinson) Meskipun sudah ditemukan kembali setelah 172 tahun, kehidupan Black-browed Babbler masih menyimpan banyak misteri. Para peneliti baru mulai memperoleh informasi mengenai habitat, perilaku, dan persebarannya setelah burung ini berhasil diamati kembali di alam. Pengetahuan mengenai spesies ini pun masih terus berkembang melalui penelitian lanjutan.
Penemuan kembali Black-browed Babbler memberikan kesempatan bagi para peneliti untuk mempelajari spesies yang sebelumnya hanya dikenal dari satu spesimen. Pada saat yang sama, keberadaannya menunjukkan pentingnya menjaga habitat alami di Kalimantan agar spesies langka ini tetap dapat bertahan. Kisahnya menjadi pengingat bahwa hilangnya suatu spesies dari catatan selama ratusan tahun tidak selalu berarti spesies tersebut benar-benar telah punah.
Black-browed Babbler merupakan contoh luar biasa dari spesies yang kembali ditemukan setelah 172 tahun tanpa catatan. Penemuan di Kalimantan Selatan tidak hanya mengakhiri salah satu misteri dalam dunia ornitologi Indonesia, tetapi juga membuka peluang untuk mempelajari kehidupan burung ini lebih jauh. Kisah tersebut sekaligus memperlihatkan betapa banyaknya kekayaan alam Indonesia yang masih menunggu untuk ditemukan dan dipahami.






















