Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Fakta Citadel of Aleppo, Benteng Megah dan Mengambang di Suriah

5 Fakta Citadel of Aleppo, Benteng Megah dan Mengambang di Suriah
Citadel of Aleppo, Suriah (commons.wikimedia.org/Varun Shiv Kapur)
Intinya Sih
  • Citadel of Aleppo berdiri di pusat kota tua Aleppo, menjadi simbol sejarah dan pusat perdagangan penting yang menghubungkan Mediterania, Anatolia, serta Mesopotamia sejak ribuan tahun lalu.
  • Benteng ini memiliki bentuk elips di atas bukit buatan dengan tampilan seolah ‘mengambang’, dilengkapi parit dan tembok tebal yang menciptakan sistem pertahanan berlapis nan kokoh.
  • Dibangun sejak milenium ke-3 SM dan berkembang pada masa Dinasti Ayyubiyah, Citadel berfungsi sebagai pusat ibadah, pemerintahan, hingga militer; meski rusak akibat gempa dan perang, restorasi terus dilakukan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jejak sejarah dunia bagian Timur Tengah memang selalu menarik untuk diulik. Terutama karena lapisan peradaban yang tak terhitung jumlahnya. Suriah, sebagai salah satu negara dengan kisah sejarah masyhur, menyimpan banyak cerita masa lalu yang bukti-buktinya masih dapat disambangi.

Di tengah kota tua Aleppo berdiri sebuah struktur yang megah, monumental, dan sarat makna, dialah Citadel of Aleppo. Benteng ini bukan sekadar tembok pertahanan, melainkan simbol sejarah yang berkaitan dengan perdagangan, politik, dan kekuasaan selama ribuan tahun. Dinyatakan sebagai salah satu Situs Warisan Dunia oleh UNESCO, berikut lima fakta penting yang perlu kamu tahu tentang salah satu benteng paling penting di dunia.

1. Benteng sekaligus jangkar Kota Aleppo

Citadel of Aleppo berdiri di atas bukit buatan
Citadel of Aleppo berdiri di atas bukit buatan (commons.wikimedia.org/Memorino)

Citadel of Aleppo terletak di pusat kota tua Aleppo, berdiri di atas bukit buatan yang menjulang sekitar lima puluh meter dari permukaan lanskap sekitarnya. Posisi ini membuat benteng menjadi pusat gravitasi Aleppo, di mana struktur kota berkembang mengelilinginya seolah seperti jaring laba-laba. Letaknya yang strategis juga memberikan keuntungan akan kendali penuh atas jalur perdagangan kuno yang menghubungkan Mediterania, Anatolia, dan wilayah Mesopotamia.

2. Memiliki visual unik 'mengambang' di atas kota

Blok batu kapur melapisi fondasi miring Citadel of Aleppo
Blok batu kapur melapisi fondasi miring Citadel of Aleppo (commons.wikimedia.org/Alper Çuğun from Berlin)

Satu dari banyak keunikan Citadel of Aleppo ada pada siluetnya yang seakan 'mengambang' di atas kota. Ia berdiri di atas fondasi miring berupa gundukan. Gundukan ini merupakan struktur buatan yang diperkuat dan seluruh permukaannya dilapisi blok batu kapur besar yang tampak berkilau. Pelapisan tersebut menyatukan bangunan secara visual sekaligus memperbesar kesan monumental.

Secara morfologi, Citadel of Aleppo memiliki dasar berbentuk elips dengan panjang sekitar 450 meter dan lebar 325 meter. Di bagian puncak, dimensinya menyempit menjadi sekitar setengahnya. Sebagai sistem pertahanan, kompleks ini juga dikelilingi parit yang dahulu diisi air untuk menghalangi penyerang. Kombinasi elevasi ekstrem, lereng batu yang licin, tembok tebal, dan parit berair menciptakan pertahanan berlapis yang sulit ditembus.

3. Berdiri sejak milenium ke-3 SM

Kompleks Citadel of Aleppo
Kompleks Citadel of Aleppo (ommons.wikimedia.org/Dosseman)

Dilansir Archnet, lokasi Citadel of Aleppo sendiri sudah memiliki sejarah pemanfaatan yang sangat tua, jauh sebelum strukturnya seperti sekarang. Bukti arkeologis menunjukkan keberadaan aktivitas manusia sejak milenium ke-3 SM, dan digunakan oleh berbagai peradaban seperti Bangsa Amorite dan Het.

Meski demikian, Benteng Aleppo yang sekarang tentu berbeda dengan zaman Bangsa Amorite dan Het. Kemegahan benteng yang kita kenal sekarang, dibangun dan diperluas pada abad ke-12 hingga ke-13 M di bawah penguasa Dinasti Ayyubiyah, terutama pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin al-Ayyubi dan putranya al-Zahir Ghazi. Setelah masa Ayyubiyah, pemerintahan selanjutnya, seperti Mamluk dan Ottoman, juga menambahkan unsur struktural tersendiri.

4. Multifungsi sebagai tempat ibadah, barak, dan lainnya

Interior Masjid Agung Citadel of Aleppo
Interior Masjid Agung Citadel of Aleppo (commons.wikimedia.org/Dosseman)

Di dalam struktur benteng ini terdapat fungsi yang berbeda-beda. Beberapa di antaranya adalah:

  • Masjid Agung, tempat ibadah utama bagi penghuni benteng;
  • Istana dan aula pemerintahan, yang menjadi pusat administrasi dan kediaman penguasa;
  • Barak dan ruang militer, untuk menampung pasukan serta senjata;
  • Reservoir air dan sumur dalam, yang memastikan pasokan air selama masa pengepungan.

Keberadaan fasilitas ini menunjukkan bahwa benteng bukan hanya tempat pertahanan semata, tetapi juga pusat kegiatan religius, administratif, dan sosial bagi penghuninya sepanjang masa.

5. Sebagian struktur hancur dihantam gempa dan perang

POV Kota Aleppo dari atas benteng
POV Kota Aleppo dari atas benteng (commons.wikimedia.org/Dosseman)

Menurut Madain Project, sepanjang sejarahnya, Citadel of Aleppo telah mengalami berbagai kerusakan akibat gempa bumi besar di berbagai periode sejarah. Termasuk pada abad ke-12 dan abad ke-19. Selain itu, konflik bersenjata seperti pengepungan oleh pasukan Mongol maupun perang modern di Suriah juga menimbulkan kerusakan signifikan pada struktur tembok dan gerbang benteng.

Namun demikian, benteng ini terus direkonstruksi dan dipulihkan oleh otoritas lokal dan internasional. Meski sebagian hancur, benteng itu tetap eksis. Penghormatan terhadap nilai historisnya mendorong upaya pelestarian yang terus berjalan hingga kini.

Kemegahan Citadel of Aleppo mencerminkan lapisan sejarah berabad-abad yang tak hanya disimpan dalam catatan tulis, melainkan juga dalam setiap batu bata yang tersusun. Benteng ini membuktikan bahwa peradaban manusia mampu bertahan menghadapi perubahan zaman, bahkan saat konflik dan bencana alam mengguncang. Menghargai sejarah seperti Citadel of Aleppo bukan hanya tentang kekaguman terhadap masa lalu, tetapi juga upaya memahami akar budaya dan menggunakannya sebagai pelajaran untuk masa depan yang lebih baik.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Latest in Science

See More