Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Fakta Semut Perak Sahara, Pelari Super Cepat dari Gurun Sahara

5 Fakta Semut Perak Sahara, Pelari Super Cepat dari Gurun Sahara
Semut perak Sahara (Cataglyphis bombycina) (inaturalist.org/Philipp Hoenle)
Intinya Sih
  • Semut perak Sahara hidup di gurun ekstrem dan justru aktif saat suhu paling panas untuk mencari makan dari bangkai serangga, memanfaatkan minimnya predator di siang hari.
  • Guinness World Records menobatkannya sebagai semut tercepat di dunia dengan kecepatan 85,5 cm per detik, membantu tubuhnya terhindar dari panas pasir gurun yang membakar.
  • Rambut berkilau di tubuhnya memantulkan radiasi matahari dan panas pasir, sementara kaki super cepatnya juga digunakan untuk menggali serta membangun sarang secara efisien.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Di tengah panasnya gurun Sahara, terdapat satu makhluk kecil yang justru menjadikan kondisi ini sebagai keuntungan. Dia adalah semut perak sahara (Cataglyphis bombycina). Semut ini dikenal sebagai salah satu serangga paling tangguh di dunia.

Semut perak Sahara dikenal dengan kemampuan berlari super cepat dan ketahanannya menghadapi suhu ekstrem di wilayah gurun. Bahkan, ia dinobatkan sebagai semut tercepat oleh Guinness World Records, lho. Penasaran dengan kehebatan semut ini lebih lanjut? Yuk, langsung saja simak lima fakta semut perak Sahara berikut ini!

1. Serangga termofilik (penyuka panas) dari gurun Sahara

Semut perak Sahara (Cataglyphis bombycina)
Semut perak Sahara (Cataglyphis bombycina) (inaturalist.org/Philipp Hoenle)

Sesuai namanya, semut perak Sahara berasal dari gurun Sahara di Afrika Utara. Menariknya, penyebarannya juga mencakup wilayah Sinai hingga gurun di Semenanjung Arab. Tapi yang bikin semut ini benar-benar berbeda dari kebanyakan hewan gurun adalah mereka justru aktif saat kondisi paling ekstrem.

Semut perak Sahara termasuk serangga termofilik, alias penyuka panas. Jadi, ketika matahari gurun sedang terik-teriknya, saat hewan lain memilih bersembunyi untuk menghindari suhu mematikan, semut ini justru keluar dari sarangnya untuk mencari makan.

Kenapa mereka berani melakukan itu? Ternyata ini adalah bentuk strateginya yang cerdas. Di tengah panas ekstrem, banyak serangga lain tidak mampu bertahan dan akhirnya mati karena suhu tinggi. Nah, semut perak Sahara memanfaatkan momen ini untuk mengumpulkan bangkai artropoda sebagai sumber makanan. Selain itu, karena predator dan pesaing sedang bersembunyi, mereka bisa mencari makan dengan lebih aman dan minim gangguan.

 

2. Dinobatkan sebagai semut tercepat di dunia oleh Guinness World Records

Semut perak Sahara (Cataglyphis bombycina)
Semut perak Sahara (Cataglyphis bombycina) (inaturalist.org/Philipp Hoenle)

Kalau kamu pikir hewan tercepat itu cuma cheetah, semut kecil ini siap bikin kamu kaget. Semut perak Sahara bahkan dinobatkan sebagai semut tercepat di dunia oleh Guiness World Records, lho! Semut ini bisa mencapai kecepatan 85,5 cm per detiknya atau setara dengan 108 kali panjang tubuh dalam satu detik. Ini setara seperti manusia yang berlari ribuan kilometer per jam. Keren banget, kan?

Kecepatan ekstrem ini bukan sekadar keunggulan, tapi juga jadi kunci utama semut perak Sahara untuk bertahan hidup di gurun yang panasnya bisa membakar. Semakin cepat mereka bergerak, semakin kecil risiko tubuh mereka kepanasan saat berada di permukaan pasir.

3. Kaki super cepat dan gaya lari unik jadi rahasia di balik kecepatannya

Semut perak Sahara (Cataglyphis bombycina)
Semut perak Sahara (Cataglyphis bombycina) (inaturalist.org/Jean-Paul Boerekamps)

Kita pasti bertanya-tanya, apa sih yang membuat semut ini bisa berlari sebegitu cepatnya? Gimana caranya? Nah, ternyata rahasia ini ada di kaki mereka. Seperti semut gurun lainnya, semut perak Sahara juga memiliki kaki yang panjang. Namun, uniknya dibanding semut gurun lainnya, kaki semut ini tidak terlalu panjang tapi mampu bergerak dengan kecepatan yang tidak biasa. Dilansir JW.ORG,  ayunan kakinya bisa mencapai sekitar 120 cm per detik membuat langkahnya jadi super cepat dan efisien.

Bukan cuma itu, gaya berlari semut ini juga terbilang unik. Semut perak Sahara menggunakan pola seperti galloping (mirip berlari cepat), di mana ada momen sangat singkat ketika semua kakinya terangkat dari tanah. Sekilas seperti melayang di atas pasir.

Kenapa ini penting? Karena dengan cara ini, semut perak Sahara bisa mengurangi kontak langsung dengan pasir gurun yang super panas. Jadi bukan cuma cepat, tapi juga pintar menghindari panas ekstrem. Kombinasi antara ayunan kaki super cepat dan gaya lari unik inilah yang membuat semut kecil ini bisa jadi pelari ekstrem di salah satu lingkungan paling ganas di bumi.

4. Rambut di tubuhnya berperan sebagai perisai alami untuk menghadapi teriknya gurun

Semut perak Sahara (Cataglyphis bombycina)
Semut perak Sahara (Cataglyphis bombycina) (inaturalist.org/Philipp Hoenle)

Hidup di gurun bukanlah perkara mudah. Suhu pasir bisa melonjak hingga puluhan derajat Celsius, cukup untuk memanggang makhluk kecil dalam hitungan detik. Namun, justru di kondisi seperti ini, semut perak Sahara tetap aktif berkeliaran.

Saat predator memilih bersembunyi dari panas, semut ini malah keluar sarang untuk mencari makan, biasanya berupa serangga yang mati karena suhu ekstrem. Lalu, apa rahasia di balik ketahanan luar biasa ini? Jawabannya ada pada perisai panas alami di tubuhnya. Bagian atas dan samping tubuh semut ini dilapisi rambut-rambut khusus yang membuatnya tampak berkilau keperakan. Struktur rambut ini berbentuk tabung kecil dengan penampang segitiga. Tapi ini bukan sekadar gaya, melainkan punya peranan penting dibaliknya.

Keberadaan rambut ini memiliki dua fungsi utama. Pertama, rambut ini mampu memantulkan radiasi matahari, baik pada spektrum cahaya tampak maupun inframerah dekat, sehingga panas tidak mudah diserap tubuh. Kedua, membantu semut melepas panas tubuh yang sudah terlanjur masuk dari lingkungan.

Menariknya, bagian bawah tubuh semut ini justru tidak berbulu. Bagian ini berfungsi memantulkan radiasi inframerah menengah yang berasal dari permukaan gurun. Jadi, dari atas memantulkan panas matahari, dari bawah menolak panas dari pasir. Sebuah sistem perlindungan yang lengkap ya!

5. Kemampuan berlari cepat ini juga berperan dalam pembangunan sarang

Semut perak Sahara (Cataglyphis bombycina)
Semut perak Sahara (Cataglyphis bombycina) (inaturalist.org/Philipp Hoenle)

Ternyata, kemampuan berlari cepat yang dimiliki semut perak Sahara tidak hanya berperan sebagai toleransi panas saja, melainkan berperan juga dalam pembangunan sarang mereka. Berdasarkan penelitian dalam jurnal Ecosphere, semut ini membangun sarang dengan cara menyendok dan melempar pasir dari pintu masuk sarang. Uniknya, kecepatan saat menyendok pasir hampir sama dengan saat mereka berlari kencang. Dengan kata lain, mesin kecepatan ini dipakai untuk dua hal sekaligus, yaitu lari dan menggali.

Kemampuan menggerakkan kaki dengan sangat cepat ini membuat mereka bisa memindahkan butiran pasir halus secara efisien, meskipun kondisi pasir di gurun cenderung kering dan mudah runtuh. Bahkan, mereka bisa mengayunkan kaki depan puluhan kali per detik saat menyendok pasir. Berkat trik ini, semut perak mampu membangun dan merawat sarang di lingkungan yang sulit ditempati oleh banyak serangga lain.

Nah, itulah lima fakta menarik semut perak Sahara. Dari penjelasan di atas, terlihat bahwa semut kecil ini bukan sekadar serangga biasa. Mulai dari kebiasaannya aktif di bawah terik matahari, kemampuan berlari super cepat, hingga strategi unik dalam membangun sarang, semuanya menunjukkan bagaimana adaptasi mengagumkan bisa terbentuk di lingkungan ekstrem.

Semut perak Sahara membuktikan bahwa ukuran bukanlah halangan untuk bertahan hidup di kondisi paling keras sekalipun. Justru dengan tubuh kecil dan kemampuan uniknya, mereka mampu memanfaatkan lingkungan gurun yang mematikan menjadi peluang untuk bertahan dan berkembang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ane Hukrisna
EditorAne Hukrisna
Follow Us

Related Articles

See More