Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Apakah Kepribadian Kucing Dipengaruhi oleh Warna Bulunya?

Apakah Kepribadian Kucing Dipengaruhi oleh Warna Bulunya?
Kucing (pexels.com/Emre)
Intinya Sih
  • Warna bulu kucing ditentukan oleh faktor genetik, dengan tiga warna dasar utama yaitu hitam, oranye, dan putih yang dapat membentuk berbagai pola dan kombinasi unik.
  • Kepribadian kucing lebih dipengaruhi oleh sosialisasi awal, ras, genetik induk, serta pengalaman hidupnya dibandingkan warna bulu semata.
  • Dua penelitian dari Universitas California menunjukkan hasil berbeda tentang hubungan warna bulu dan kepribadian kucing, menegaskan bahwa tidak ada bukti pasti keduanya saling berkaitan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bagi pencinta kucing, pasti sudah tidak asing jika mendengar julukan 'si bar-bar' bagi kucing oranye dan kucing berbulu putih yang sering dikira kurang pintar dan pembawaannya yang santai. Tanpa disadari, kita seringkali menempelkan label kepribadian pada kucing hanya dengan berdasarkan warna bulunya saja tanpa melihat bagaimana karakter itu terbentuk sehingga ada kucing yang bar-bar, anggun, dan menyendiri.

Lalu bagaimana jika ada kucing berbulu oranye yang justru pembawaannya santai dan kucing putih lebih bar-bar. Adanya kepribadian yang berbalik ini, apakah kamu masih mengaitkan kepribadian kucing dipengaruhi oleh warna bulunya? Nah, kamu pasti tambah bingung, kan, benar gak, sih, warna kucing itu bisa menentukan kepribadiannya? Atau jangan-jangan itu hanya label yang diberikan oleh pemiliknya saja? Biar gak penasaran, yuk, simak penjelasannya di bawah ini!

1. Memahami warna bulu kucing yang sepenuhnya bergantung pada gen

Kucing scottish fold
Kucing Scottish Fold (pexels.com/Tranmautritam)

Tahukah kamu bahwa warna bulu kucing sepenuhnya bergantung pada gen. Sederhananya, gen membawa informasi genetik untuk seekor kucing. Gen-gen tersebut kemudian dikemas ke dalam kromosom. Setiap sel kucing memiliki 38 kromosom, sedangkan manusia memiliki 46 kromosom. Anak kucing jantan mendapatkan satu kromosom X dari induk betina dan satu kromosom Y dari induk jantan (XY), sedangkan anak kucing betina mendapatkan satu kromosom X dari induk betina dan satu kromosom X dari induk jantan (XX).

Gen biasanya tidak diturunkan dengan cara yang sama dari satu generasi ke generasi berikutnya. Misalnya, gen pigmen pengencer membuat kucing berwarna lebih terang ketika anak kucing memiliki dua salinan gen resesif dari kedua induknya. Namun, jika anak kucing hanya memiliki satu salinan gen dominan, maka anak kucing tersebut akan berwarna penuh, karena gen dominan selalu mengalahkan gen resesif.

2. Warna-warna primer yang ditemukan pada kucing

Kucing
Kucing (pexels.com/Kostiyantyn)

Sebagaimana kita ketahui, kucing memiliki banyak variasi warna. Mulai dari warna dasar hingga perpaduan warna yang unik. Warna-warna dasar yang terdapat pada semua bulu kucing adalah hitam, oranye, dan putih. Kucing memiliki banyak warna dan pola, tetapi semuanya didasarkan pada ketiga warna tersebut. Berikut penjelasan lebih lengkapnya:

  • Kucing hitam

Kucing dengan gen bulu hitam biasanya lebih dominan, artinya kucing dengan gen ini kemungkinan besar akan berwarna hitam, tetapi selalu ada pengecualian. Misal, jika ada gen cokelat resesif yang tercipta dari perubahan spontan pada rambut hitam yang membiaskan cahaya secara berbeda.

  • Kucing oranye

Warna oranye pada bulu kucing paling sering dijumpai. Gen oranye mengontrol warna oranye dan selalu mengesampingkan gen hitam. Artinya, warna hitam dan oranye tidak akan muncul bersamaan pada kromosom yang sama dan menciptakan kemungkinan bulu kucing berpola.

Uniknya lagi, kebanyakan kucing berwarna oranye polos adalah jantan. Hal ini disebabkan oleh adanya kombinasi induk untuk menghasilkan kucing betina berwarna oranye secara genetik yang sangat sulit. Diperlukan adanya induk betina dan pejantan berwarna oranye, atau pejantan berwarna oranye dan induk berwarna belang tiga.

  • Kucing putih

Ada gen putih dominan yang mengalahkan gen oranye dan hitam. Kucing dengan gen ini berwarna putih dengan mata biru dan oranye. Kucing bermata biru seringkali tuli dan sensitif terhadap cahaya. Jika seekor kucing memiliki satu mata biru dan satu mata oranye, kucing tersebut mungkin tuli di sisi yang bermata biru.

Terlepas dari ketiga warna dasar di atas, kucing juga mengembangkan bintik atau bercak putih karena gen bercak putih piebald. Beberapa kucing dengan gen ini memiliki kurang dari 50% warna putih, seperti kucing Tuxedo, kucing Piebald, yang sebagian besar warnanya putih, atau kucing yang bahkan 100% putih. Jika seekor kucing seluruhnya berwarna putih karena gen ini, ia memiliki mata berwarna hijau atau kuning.

3. Faktor yang memengaruhi kepribadian kucing

Kucing
Kucing (pexels.com/Orange Ocean)

Ada banyak sekali jenis-jenis kucing yang kita kenal. Mereka memiliki kepribadian yang unik dan menjadi ciri khas. Ada kucing yang ingin nempel terus dengan pemiliknya, ada yang senang menyendiri, bahkan ada yang sangat aktif seolah energinya tak habis-habis. Di bawah ini adalah faktor yang membentuk kepribadian kucing:

  • Sosialisasi

Delapan hingga 16 minggu pertama kehidupan anak kucing dapat memengaruhi kepribadian dan perilakunya. Selama periode ini, anak kucing tidak takut menjelajahi dunia sekitarnya. Itulah mengapa penting untuk menyediakan lingkungan yang kaya agar mereka dapat merasa nyaman dengan berbagai pemandangan, suara, dan lain-lain. Semakin sering mereka terpapar sesuatu saat masih anak kucing, semakin kecil pula kemungkinan mereka akan mengembangkan rasa takut atau penolakan terhadap hal tersebut di kemudian hari.

Jumlah dan jenis interaksi manusia dan hewan yang dialami anak kucing juga dapat berdampak langsung pada cara mereka berinteraksi dengan orang lain hingga dewasa. Sebaiknya, anak kucing tetap bersama induknya dan saudara-saudaranya hingga usia sekitar 12 minggu, karena pemisahan dini dapat menyebabkan seringnya 'menyusui' pada selimut dan bahan lainnya.

  • Genetik dari induk

Anak kucing kemungkinan besar mewarisi sifat-sifat penting terutama dari ayahnya, seperti keberanian dan tingkat stres. Anak kucing yang lahir dari ayah yang 'ramah' dapat menunjukkan perilaku yang lebih ramah terhadap manusia daripada yang lahir dari ayah yang 'kurang ramah', terlepas dari tingkat sosialisasi awal kehidupan mereka.

  • Ras

Ras sangat memengaruhi bagaimana kepribadian kucing. Meskipun generalisasi kepribadian ini tidak berlaku untuk semua kucing dari ras tertentu, namun dengan mengetahui campuran ras kucing dapat membantu pemiliknya untuk memprediksi apakah mereka akan lebih aktif atau lebih suka menghabiskan waktu untuk tidur, bersosial, menyendiri, cemas, atau gemar bersantai.

  • Pengalaman hidup

Sama seperti manusia, pengalaman hidup dapat memengaruhi bagaimana mereka akan bersikap di lingkungannya. Meskipun sosialisasi di awal kehidupan cenderung berdampak pada kepribadian kucing, pengalaman mereka di kemudian hari akan terus membentuk perilaku dan sikap mereka. Misal, kucing luar ruangan yang dibiarkan hidup sendiri kemungkinan lebih teritorial dan agresif daripada kucing yang dipelihara dalam rumah yang nyaman.

Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa kucing luar ruangan hidup dalam kewaspadaan yang tinggi jika terjadi ancaman. Lebih mudah bagi kucing yang dibesarkan di lingkungan rumah yang penuh kasih sayang untuk merasa aman dan nyaman. Tentu, kepribadiannya pun cenderung lebih penyayang dan sosial.

4. Apakah warna berperan dalam menentukan kepribadian kucing?

Kucing
Kucing (pexels.com/Mahmoud)

Dilansir trainmalhospital.com, ada penelitian dari Universitas California, Berkeley, yang menyurvei 189 pemilik kucing dalam sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Anthrozoos. Diketahui, kucing berwarna oranye dianggap paling ramah oleh responden, sementara kucing putih dianggap penyendiri, dan kucing belang tiga dianggap selalu bertingkah.

Kemudian, beberapa tahun kemudian, topik tersebut kembali diteliti dalam studi di Universitas California Davis. Telah dikumpulkan dari 1.274 survei yang telah diisi. Survei tersebut meminta pemilik kucing untuk menilai tingkat agresi hewan peliharaan mereka di rumah, saat dipegang, dan selama kunjungan dokter hewan.

Hasilnya, kucing yang paling agresif di ketiga lingkungan tersebut adalah kucing betina dengan warna bulu abu-abu putih, hitam putih, atau oranye, serta kucing belang tiga warna (calico). Kucing abu-abu putih menunjukkan tingkat agresi tertinggi selama kunjungan ke dokter hewan. Survei tersebut mengungkap bahwa kucing hitam putih paling bereaksi negatif saat ditangani, sementara itu, kucing belang tiga warna lebih merasa jengkel. Kucing hitam, putih, abu-abu, dan belang warna dinilai paling rendah pada skala agresi.

Penelitian tersebut tidak menemukan jawaban yang pasti apakah kepribadian kucing ditentukan oleh warna bulunya. Hal ini bisa dilihat pada penelitian Universitas California, Berkeley yang menganggap kucing oranye lebih ramah, sementara responden dalam penelitian Universitas California, Davis, justru memasukkan kucing oranye dalam golongan agresif.

Sejatinya, kepribadian kucing dipengaruhi oleh warna bulunya itu tidak sepenuhnya valid. Beberapa faktor justru memengaruhi kepribadian kucing, seperti sosialisasi, ras, warisan orangtua, dan pengalaman hidup. Jadi, bisa dibilang anak kucing yang dibesarkan dalam lingkungan penuh kasih sayang akan lebih ramah dan supel dibandingkan dengan kucing yang hidup di alam liar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Science

See More