Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Fakta Unik Vardzia, Kompleks Gua Bersejarah di Georgia

4 min read
5 Fakta Unik Vardzia, Kompleks Gua Bersejarah di Georgia
Vardzia (pixabay.com/Kakha Mchedlidze)
  • Vardzia di Georgia adalah kompleks gua di tebing dekat Sungai Mtkvari, dikembangkan pada masa Ratu Tamar sebagai pusat keagamaan sekaligus persiapan militer.
  • Pada masa kejayaannya, kompleks sepanjang sekitar 500 meter ini memiliki hingga 13 tingkat, fasilitas hunian, bengkel, perpustakaan, 15 gereja gua, dan penyimpanan anggur.
  • Gempa 1283 meruntuhkan dua pertiga tebing dan membuka ruang-ruang gua; kini Vardzia menjadi museum, masuk daftar tentatif UNESCO, serta masih dihuni biarawan dan imam.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Di Georgia, ada sebuah tempat unik yang berada di sisi tebing dan dipenuhi oleh ruang-ruang gua. Tempat ini bernama Vardzia. Ruangan di dalamnya dibuat dengan memahat batu pada bagian tebing, sehingga dari kejauhan kawasan ini terlihat seperti bangunan besar yang menempel di lereng. Letaknya berada di dekat Sungai Mtkvari dan dikelilingi oleh pegunungan.

Di balik bentuknya yang unik, Vardzia memiliki sejarah panjang sejak masa Georgia abad pertengahan. Kompleks ini pernah berkembang menjadi kawasan yang sangat besar dengan berbagai fasilitas untuk kehidupan penghuninya. Perubahan akibat gempa dan kehidupan monastik yang masih berlangsung hingga kini juga menjadi bagian dari sejarahnya. Yuk, simak lima fakta unik tentang Vardzia berikut ini!

  1. 1. Dikembangkan pada masa Ratu Tamar

    Vardzia
    Vardzia (commons.wikimedia.org/Alexkom000)

    Vardzia berasal dari masa Georgia abad pertengahan, tetapi perkembangannya sangat erat dengan pemerintahan Ratu Tamar. Ia memimpin Georgia pada tahun 1184 hingga 1213 dan melanjutkan pengembangan Vardzia yang sebelumnya telah dimulai oleh ayahnya, Raja Giorgi III. Pada masa pemerintahannya, kompleks ini mendapat sejumlah tambahan penting, termasuk Church of the Dormition (Gereja Dormisi) yang menjadi bagian utama dari kompleks tersebut.

    Vardzia juga memiliki peran penting dalam menghadapi berbagai konflik pada masa itu. Ketika Georgia berperang melawan Kesultanan Rum, kompleks ini digunakan sebagai tempat persiapan pasukan sebelum mereka menuju medan perang. Peran tersebut membuat Vardzia tidak hanya penting secara keagamaan, tetapi juga memiliki nilai strategis militer bagi kerajaan di bawah kepemimpinan Ratu Tamar.

  2. 2. Dahulu merupakan kompleks yang sangat besar

    Vardzia
    Vardzia (commons.wikimedia.org/Kakhi Kuloshvili)

    Di masa kejayaannya, Vardzia bukan sekadar deretan gua biasa, melainkan kompleks raksasa yang dipahat pada tebing batu sepanjang sekitar 500 meter dengan ketinggian mencapai 100 meter. Kompleks ini memiliki struktur bertingkat, dengan bagian gua yang terdiri dari beberapa lantai hingga bangunan yang mencapai 13 tingkat.

    Besarnya kompleks ini terlihat dari berbagai fasilitas publik di dalamnya. Selain ruang tempat tinggal, terdapat tempat pembuatan roti, bengkel kerja, perpustakaan, hingga 15 gereja gua. Vardzia juga memiliki tempat penyimpanan anggur yang dilengkapi wadah tanah liat tradisional khas Georgia, yaitu qvevri.

  3. 3. Gempa mengubah bentuk Vardzia

    Vardzia
    Vardzia (unsplash.com/Jacek Urbanski)

    Pada tahun 1283, gempa bumi dahsyat mengguncang kawasan Gunung Erusheli dan mengubah bentuk Vardzia secara besar-besaran. Gempa tersebut menyebabkan sekitar dua pertiga bagian tebing yang menopang ruang-ruang gua runtuh. Banyak ruang, lorong, dan bagian bangunan di dalam tebing hancur akibat runtuhan tersebut.

    Runtuhnya dinding luar tebing membuat ruang-ruang yang sebelumnya tersembunyi menjadi terbuka dan terlihat dari luar. Akibatnya, Vardzia yang awalnya terlindung di balik dinding batu berubah menjadi kompleks gua terbuka seperti yang terlihat sekarang. Sebagian area yang rusak sempat diperbaiki kembali, tetapi bentuknya tidak pernah sama lagi seperti sebelum gempa.

  4. 4. Memiliki sistem pasokan air di dalam kompleks

    Vardzia
    Vardzia (pixabay.com/Kate Stadnjuk)

    Vardzia memiliki sistem pasokan air yang cukup lengkap untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang tinggal di dalam kompleks. Salah satu bagian utamanya adalah pipa keramik sepanjang sekitar 3,5 kilometer yang mengalirkan air dari Desa Upper Vardzia menuju kompleks. Pipa ini dapat memasok sekitar 160.000 liter air dalam waktu 24 jam yang kemudian ditampung di beberapa penampungan  berkapasitas total sekitar 600.000 liter.

    Selain melalui pipa, air di Vardzia juga berasal dari mata air alami yang keluar dari celah batu dan ditampung dalam sebuah bak. Terdapat pula terowongan yang mengarah ke sungai dan dapat digunakan untuk mendapatkan air sungai ketika kompleks berada dalam kondisi pengepungan. Air hujan yang terkumpul di bagian luar kompleks juga dialirkan ke beberapa tempat penampungan.

  5. 5. Masih ditinggali sejumlah biarawan

    Vardzia
    Vardzia (unsplash.com/Artem)

    Memasuki era modern, Vardzia menjadi situs bersejarah yang dibuka untuk umum. Kompleks ini berstatus sebagai museum dan telah masuk dalam Daftar Tentatif Warisan Dunia UNESCO. Pengunjung dapat melihat langsung berbagai bagian kompleks gua dan peninggalan bersejarah yang masih berdiri di sepanjang tebing.

    Meski menjadi situs wisata dan museum, kehidupan keagamaan di Vardzia masih berlangsung hingga sekarang. Setelah sempat ditutup pada masa pemerintahan Soviet, biara Vardzia kembali beroperasi pada akhir abad ke-20. Beberapa biarawan dan imam kemudian tinggal di kompleks tersebut secara tetap, sehingga fungsi Vardzia sebagai tempat keagamaan masih terus berjalan.

    Itulah lima fakta unik tentang Vardzia, kompleks gua bersejarah yang berada di wilayah Georgia. Keberadaannya menjadi bukti bahwa peninggalan dari masa lalu dapat tetap bertahan dan memiliki fungsi hingga sekarang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More