Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Kota Gastronomi di Dunia dengan Tradisi Kuliner yang Diakui UNESCO

5 Kota Gastronomi di Dunia dengan Tradisi Kuliner yang Diakui UNESCO
Jeonju bibimbap (unsplash.com/rawkkim)
  • UNESCO Creative Cities Network mengakui Chengdu, Jeonju, Östersund, Parma, dan Tsuruoka karena ekosistem gastronominya menjaga tradisi, bahan lokal, keterampilan memasak, serta kreativitas pangan.
  • Chengdu menonjol dengan kuliner Sichuan dan budaya teh; Jeonju bertumpu pada bahan dari sawah, laut, dan pegunungan serta mempromosikan bibimbap dan pangan fermentasi.
  • Östersund mengembangkan pangan artisan lokal, Parma menghubungkan gastronomi dengan industri pangan dan keberlanjutan, sementara Tsuruoka melestarikan makanan tradisional lewat edukasi, penelitian, dan kerajinan lokal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kuliner menjadi bagian dari identitas sejumlah kota di dunia melalui hidangan khas, tradisi, bahan pangan, keterampilan memasak, dan kehidupan masyarakatnya. UNESCO Creative Cities Network mengakui kota dengan ekosistem gastronomi yang berkembang serta berupaya mempertahankan tradisi kuliner. Pengakuan tersebut juga mendorong kreativitas di bidang pangan.

Gastronomi menjadi salah satu cara untuk mengenal karakter kota dan budaya masyarakatnya. Chengdu hingga Tsuruoka memiliki tradisi kuliner berbeda, mulai dari cita rasa pedas, makanan tradisional Korea, hingga pangan lokal dan kerajinan kuliner. Berikut lima kota yang menarik untuk dijelajahi melalui tradisi gastronominya.

  1. 1. Chengdu, China

    Sichuan savory tofu pudding
    Sichuan savory tofu pudding (unsplash.com/Andrea Sun)

    Chengdu dikenal sebagai pusat kuliner Sichuan dan salah satu rujukan masakan China. Menurut UNESCO, gastronomi kota ini menyatu dengan kehidupan sehari-hari dan berakar pada gagasan keharmonisan dalam filsafat China kuno. Cita rasanya mencakup perpaduan manis, asam, pahit, pedas, dan asin.

    Budaya makan Chengdu juga terlihat dari berbagai kegiatan gastronomi sepanjang tahun. UNESCO mencatat kegiatan seperti Chengdu International Food and Tourism Festival yang digelar pemerintah dan organisasi nonpemerintah. Kota ini juga memiliki museum makanan dan pusat budaya teh yang mendukung perkembangan budaya kulinernya.

  2. 2. Jeonju, Korea Selatan

    Jeonju bibimbap
    Jeonju bibimbap (pexels.com/J MAD)

    Jeonju dikenal sebagai Taste City karena memiliki tradisi panjang dalam produksi dan pengolahan makanan. Menurut UNESCO, tradisi kulinernya didukung beras dari Honam Plain, ikan dan hasil pengasinan dari Laut Kuning, serta sayuran segar dan tanaman liar dari pegunungan. Kekayaan bahan tersebut membuat Jeonju dikenal sebagai salah satu rujukan makanan tradisional Korea.

    Tradisi gastronomi Jeonju juga berkembang melalui pendidikan dan berbagai kegiatan kuliner. Kota ini memiliki Creative Culinary Institute of Korea dan Bibimbap Globalization Foundation, serta menggelar Jeonju Bibimbap Festival dan International Fermented Food Expo. Jeonju bibimbap dan kongnamul gukbap juga menjadi bagian dari warisan kuliner kota.

  3. 3. Östersund, Swedia

    Älgköttbullar
    Älgköttbullar (unsplash.com/Clark Douglas)

    Östersund dan kawasan Jämtland Härjedalen mendapat pengakuan sebagai UNESCO Creative City of Gastronomy pada 2010. Pengakuan ini berkaitan dengan upaya mengembangkan produksi pangan artisan berskala kecil. Tradisi kulinernya melibatkan petani, koki, pemilik restoran, serta pelaku usaha yang mengolah bahan pangan lokal.

    Gastronomi Östersund juga berkaitan dengan alam dan lanskap budaya Jämtland. Kerajinan pangan di kawasan ini memiliki hubungan dengan sejarah budaya dan lingkungan alam, serta didukung petani dan produsen pangan organik. Kuliner lokal dan seni memasak pun menjadi bagian dari identitas kawasan.

  4. 4. Parma, Italia

    Parma ham
    Parma ham (pexels.com/Anthony Rahayel)

    Parma merupakan pusat gastronomi Italian Food Valley dan ditetapkan sebagai UNESCO Creative City of Gastronomy pada 2015. Menurut UNESCO, sektor pangan dan gastronomi berkaitan erat dengan sejarah serta perekonomian kota. Tradisi kulinernya juga terhubung dengan produksi lokal dan hubungan antara kota dengan kawasan pedesaan.

    Kegiatan kuliner Parma mencakup agenda yang mempertemukan pangan, industri, kewirausahaan, dan penelitian. Salah satunya International Food Fair Cibus yang disebut UNESCO sebagai ajang penting bagi sektor pangan Italia dan internasional. Kota ini juga menekankan produk musiman, keterlacakan bahan, keberlanjutan lingkungan, dan perlindungan budaya makanan lokal.

  5. 5. Tsuruoka, Jepang

    Kaiseki ryori
    Kaiseki ryori (unsplash.com/Yosuke Ota)

    Tsuruoka menjadi kota pertama di Jepang yang mendapat pengakuan UNESCO Creative City of Gastronomy. Menurut laporan UNESCO, gastronominya berkembang melalui pertanian, kehutanan, perikanan, pengolahan pangan, pariwisata, dan restoran yang diwariskan antargenerasi. Kota ini juga memiliki program untuk membantu pelaku kuliner meningkatkan pengetahuan dan keterampilan.

    Tradisi makanan lokal diwariskan melalui kelas memasak dan berbagai kegiatan kuliner. Upaya pelestarian mencakup makanan seperti hinagashi, sasamaki, dan tochimochi melalui penelitian, lokakarya, serta edukasi. Gastronomi juga dipadukan dengan kerajinan lokal melalui penggunaan keramik dan tekstil Tsuruoka dalam penyajian hidangan.

    Tradisi kuliner dapat menjadi bagian dari karakter sebuah kota sekaligus memperkenalkan budaya melalui pengalaman gastronomi. Pengakuan UNESCO menunjukkan adanya upaya untuk menjaga pengetahuan, tradisi, bahan pangan, dan praktik kuliner yang berkembang di berbagai wilayah. Hal tersebut membuat destinasi dengan kekayaan gastronomi menarik untuk dijelajahi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More