Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Fakta White Crowned Hornbill, Burung Langka dengan Mahkota Putih Khas

5 min read
5 Fakta White Crowned Hornbill, Burung Langka dengan Mahkota Putih Khas
gundlach's hawk (ebird.org/James Eaton / Birdtour Asia)
  • White-crowned hornbill adalah enggang besar berjambul dan berekor putih, dengan perbedaan warna mencolok antara jantan yang dominan putih dan betina yang dominan hitam.
  • Spesies ini hidup di hutan Asia Tenggara, termasuk Sumatra dan Kalimantan, sering berkelompok, mencari buah serta hewan kecil, dan berkembang biak secara kooperatif di lubang pohon.
  • IUCN mengategorikannya terancam punah akibat kehilangan dan degradasi hutan dataran rendah, perburuan, serta perdagangan satwa; estimasi globalnya sekitar 5.000–10.000 individu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Hutan hujan Asia Tenggara menyimpan banyak burung unik, salah satunya white-crowned hornbill atau enggang jambul yang memiliki nama ilmiah Berenicornis comatus. Burung dari famili Bucerotidae ini mudah mencuri perhatian berkat jambul putih tegak, ekor putih panjang, serta tubuh besar dengan perpaduan warna hitam dan putih yang kontras. Keunikannya semakin menarik karena spesies ini mempunyai perbedaan penampilan cukup jelas antara jantan dan betina.

Sayangnya, keunikan white-crowned hornbill berjalan beriringan dengan ancaman serius terhadap kelangsungan hidupnya di alam liar. Hilangnya hutan dataran rendah, perburuan, dan perdagangan satwa menjadi tekanan yang membuat populasinya terus menghadapi penurunan. Nah, sebelum burung eksotis ini semakin sulit ditemukan, yuk kenali lima fakta menarik white-crowned hornbill berikut ini. Pola penyajiannya mengikuti struktur artikel contoh yang menempatkan ajakan pada akhir paragraf pembuka kedua.

  1. 1. Punya tubuh besar dengan jambul putih yang mencolok

    white-crowned hornbill
    white-crowned hornbill (ebird.org/Ayuwat Jearwattanakanok)

    White-crowned hornbill merupakan burung berukuran besar dengan panjang tubuh sekitar 80–100 cm. Individu jantan muda pernah tercatat memiliki bobot sekitar 1.250–1.360 gram, sedangkan betina sekitar 1.470 gram. Ciri yang paling mudah dikenali tentu saja jambul putih panjang dan runcing yang berdiri di atas kepala, ditambah ekor putih panjang serta tepian putih pada sayap.

    Perbedaan jantan dan betina juga memberi tampilan yang cukup kontras meski keduanya sama-sama mempunyai jambul putih. Jantan memiliki kepala, leher, dan bagian bawah tubuh berwarna putih, sedangkan betina didominasi warna hitam pada tubuh selain jambul putihnya. Kulit tanpa bulu berwarna biru di sekitar mata dan tenggorokan serta paruh gelap dengan balung berukuran relatif kecil semakin memperkuat penampilan khas burung ini.

  2. 2. Menghuni hutan Asia Tenggara hingga Pulau Kalimantan

    white-crowned hornbill
    white-crowned hornbill (ebird.org/Jonathan Eckerson)

    Persebaran white-crowned hornbill mencakup kawasan Sunda dan sejumlah wilayah daratan Asia Tenggara. Spesies ini tercatat tersebar dari Myanmar bagian selatan dan Thailand bagian selatan menuju Semenanjung Malaysia, Sumatra, serta Kalimantan, sedangkan catatan lama juga pernah berasal dari Vietnam. Di Indonesia sendiri, Sumatra dan Kalimantan menjadi dua wilayah penting dalam jangkauan alaminya.

    Habitat favoritnya berupa hutan primer dataran rendah yang memiliki vegetasi lebat, meski burung ini juga dapat memasuki hutan sekunder dan perkebunan yang berdekatan dengan hutan primer. Sebagian besar keberadaannya dijumpai pada ketinggian di bawah 600 meter, walaupun catatan menunjukkan spesies ini dapat ditemukan hingga sekitar 1.675 meter. Ketergantungan terhadap kawasan berhutan membuat perubahan penggunaan lahan menjadi persoalan besar bagi keberlangsungan habitatnya.

  3. 3. Hidup berkelompok dan punya cara berkembang biak yang unik

    white-crowned hornbill
    white-crowned hornbill (ebird.org/Robert Gowan)

    Berbeda dari gambaran burung enggang besar yang kerap terlihat berpasangan, white-crowned hornbill dapat hidup dalam kelompok sosial dengan jumlah cukup beragam. Rangkong Indonesia menyebut kelompoknya dapat terdiri atas 3–8 individu, bahkan bisa mencapai sekitar 20 burung dalam kelompok besar. Burung ini juga mencari makanan berupa buah, artropoda, larva, hingga vertebrata kecil seperti kadal dan ular, sehingga pola makannya tergolong cukup beragam.

    Cara berkembang biaknya gak kalah menarik karena betina memanfaatkan lubang pada pohon sebagai tempat bertelur dan mengerami telur. Betina menutup pintu sarang menggunakan material seperti lumpur, sisa tumbuhan, dan kotoran dengan menyisakan celah sempit, sementara jantan serta anggota kelompok lain dapat menyuplai makanan dari luar. Pola tersebut menunjukkan adanya perilaku perkembangbiakan kooperatif, sehingga pengasuhan keturunan gak selalu hanya melibatkan sepasang induk.

  4. 4. Lebih sering mencari mangsa dekat lantai hutan

    white-crowned hornbill
    white-crowned hornbill (ebird.org/Michael Rosen)

    Salah satu fakta menarik white-crowned hornbill terletak pada kebiasaannya mencari makanan di bagian hutan yang relatif rendah. Dibanding banyak enggang lain di wilayah persebarannya, spesies ini cukup sering turun ke lapisan bawah vegetasi bahkan mencapai permukaan tanah untuk mencari makanan. Kebiasaan tersebut membuat gaya mencari makannya terasa berbeda dari gambaran enggang yang identik dengan aktivitas tinggi di tajuk pepohonan.

    Menu makanannya juga gak terbatas pada buah karena komponen hewani memiliki peran penting dalam pola makan spesies ini. Ular kecil, kadal, serangga, artropoda, dan berbagai larva dapat menjadi santapan, sedangkan buah seperti ara tetap menjadi sumber makanan penting. Penelitian di Stasiun Penelitian Ketambe, Sumatra, bahkan menghasilkan estimasi kepadatan hanya sekitar 0,51 individu per kilometer persegi, meski peneliti menekankan tingkat ketidakpastian yang tinggi akibat sedikitnya jumlah deteksi.

  5. 5. Berstatus terancam punah dan populasinya terus menurun

    white-crowned hornbil
    white-crowned hornbill (ebird.org/Rob Jansen - RobJansenphotography.com)

    Kelangsungan hidup white-crowned hornbill kini menghadapi tekanan serius sehingga IUCN menetapkannya dalam kategori Endangered (EN) atau terancam punah. IUCN mencatat penilaian tersebut berdasarkan kriteria A3cd+4cd pada asesmen 2018, sedangkan spesies ini sebelumnya berada pada kategori Near Threatened. Ancaman utamanya berkaitan dengan hilangnya hutan dataran rendah, degradasi habitat, perburuan, serta perdagangan satwa.

    Berapa jumlah white-crowned hornbill yang masih tersisa ternyata belum dapat disebut secara pasti berdasarkan sensus global menyeluruh. Dr. Yong Ding Li dari BirdLife International pernah memberikan estimasi kasar sekitar 5.000–10.000 individu secara global, sehingga angka tersebut lebih tepat dipahami sebagai perkiraan daripada jumlah populasi pasti. Situasi ini semakin mengkhawatirkan karena spesies tersebut bergantung pada hutan yang menyediakan pohon besar untuk mencari makanan sekaligus lubang yang sesuai sebagai tempat bersarang.

    White-crowned hornbill membuktikan bahwa hutan Asia Tenggara menyimpan satwa dengan karakter fisik sekaligus perilaku yang luar biasa. Jambul putih khas, kebiasaan mencari mangsa hingga dekat lantai hutan, dan sistem perkembangbiakan kooperatif membuat spesies ini berbeda dari banyak burung lain. Namun, status Endangered dan perkiraan populasi yang terbatas menjadi pengingat bahwa perlindungan hutan serta pengendalian perburuan sangat penting agar enggang unik ini tetap bertahan di alam liar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More