Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Apa yang Terjadi pada Tubuh Saat Menangis? Ini 5 Fakta Menariknya!

4 min read
Apa yang Terjadi pada Tubuh Saat Menangis? Ini 5 Fakta Menariknya!
Wanita muda depresi menangis dan terisak-isak, merasa sedih (magnific.com/cookie_studio)
  • Saat emosi memuncak, kelenjar lakrimal meningkatkan produksi air mata emosional; berbeda dari air mata basal yang melembapkan mata dan air mata refleks yang membersihkan iritan.
  • Tangisan mengaktifkan respons tubuh, termasuk perubahan napas, detak jantung, suara, mimik, dan gestur. Emosi pemicunya bisa sedih, bahagia, lega, marah, frustrasi, atau tekanan berat.
  • Menangis dapat terasa melegakan bagi sebagian orang, tetapi efeknya berbeda-beda. Mata bisa merah dan sembap sementara; bila tangisan sering mengganggu aktivitas, konsultasi profesional kesehatan mental dianjurkan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah gak, sih, kamu tiba-tiba meneteskan air mata pas lagi nonton film sedih, kerasa terharu banget, atau pas emosi lagi memuncak? Menangis itu wajar banget dan pasti pernah dialami semua orang. Mau itu di momen paling bahagia sampai situasi yang bikin kecewa atau marah, luapan emosi memang sering berakhir jadi air mata.

Tapi, menangis sebenarnya bukan cuma perkara air yang menetes dari mata. Begitu kamu mulai meneteskan air mata, tubuhmu langsung sibuk bekerja di balik layar. Mulai dari sistem saraf yang aktif, napas yang mendadak berubah, ekspresi wajah yang ikut tertarik, sampai emosi yang meluap. Ada banyak hal unik dan seru yang terjadi di dalam tubuhmu tanpa pernah kamu sadari.

  1. 1. Air mata mulai keluar lebih banyak

    Pria yang sedang bersedih
    Pria yang sedang bersedih (magnific.com/magnific)

    Saat emosimu memuncak, produksi air mata di dalam matamu bakal meningkat secara drastis. Air mata ini dihasilkan oleh kelenjar lakrimal, yaitu kelenjar khusus yang berada di area sekitar atas mata. Ketika kelenjar ini terstimulasi, cairan akan mengalir basahi permukaan mata hingga akhirnya menetes ke pipimu.

    Menariknya, air mata yang kita miliki itu tidak cuma keluar pas kita lagi sedih atau emosional. Tubuh kita sebenarnya punya air mata basal untuk menjaga mata tetap lembap dan air mata refleks buat membersihkan iritan seperti debu atau asap. Nah, air mata yang keluar saat kamu merasakan emosi yang kuat inilah yang sering disebut sebagai air mata emosional.

  2. 2. Napas dan detak tubuh bisa berubah

    Menyesal dengan mata tertutup pria muda tampan mengenakan kemeja hijau
    Menyesal dengan mata tertutup pria muda tampan mengenakan kemeja hijau (magnific.com/stockking)

    Saat emosi meluap, dampaknya bakal kerasa ke seluruh tubuhmu. Saat kamu lagi menangis sesenggukan, napasmu mendadak jadi patah-patah, makin cepat, atau berantakan. Ini semua ulah sistem saraf otonom—bagian tubuh yang ngatur fungsi otomatis kayak napas dan detak jantung—yang lagi kerja keras merespons emosi yang meluap itu.

    Menurut Cleveland Clinic, menangis memang gak cuma bikin mata basah, tapi juga mengubah suara, pola napas, mimik wajah, sampai gestur tubuhmu. Reaksi tiap orang juga beda-beda; ada yang detak jantungnya makin kencang karena panik, tapi ada juga yang perlahan merasa lebih tenang begitu emosinya mereda.

  3. 3. Tubuh sedang merespons emosi yang kuat

    Wanita kecewa dan sedih
    Wanita kecewa dan sedih (magnific.com/wayhomestudio)

    Pas kamu menangis, itu pertanda otak dan tubuhmu lagi sibuk memproses emosi yang kuat banget. Perasaan ini gak selalu soal kesedihan, lho. Kamu juga bisa meneteskan air mata pas lagi bahagia luar biasa, lega, terharu, frustrasi, marah, atau pas lagi berada di bawah tekanan berat.

    Otakmu bakal menangkap sinyal emosi itu lalu memicu berbagai reaksi fisik. Kalau situasinya bikin stres berat, tubuh bahkan bisa mengaktifkan mode fight-or-flight—reaksi alami tubuh saat merasa terancam atau tertekan. Jadi, menangis itu sebenarnya cuma cara alami tubuhmu buat meluapkan apa yang lagi dirasakan sama pikiranmu.

  4. 4. Tubuh bisa terasa lebih lega, tapi tidak selalu

    Gadis menyembunyikan air mata terisak menyentuh hidung menutup mata mengerutkan kening merasa tersinggung berdiri dengan murung
    Gadis menyembunyikan air mata terisak menyentuh hidung menutup mata (magnific.com/cookie_studio)

    Banyak dari kita yang merasa dadanya agak plong setelah meluapkan emosi lewat tangisan. Menurut Harvard Health, menangis memang bisa jadi cara alami buat melepas ketegangan emosional sekaligus membuka jalan buat dapet dukungan dari orang sekitar—misalnya lewat pelukan hangat atau kata-kata penenang dari sahabat.

    Tapi, menangis bukan berarti stresmu bakal langsung hilang seketika atau mood-mu mendadak jadi bagus lagi. Harvard Health juga menyebutkan kalau efek menangis ke perasaan tiap orang itu beda-beda. Semua tergantung situasi, lingkungan, penyebab kamu menangis, dan apakah ada orang yang merangkulmu setelahnya atau gak.

  5. 5. Mata dan tubuh bisa menunjukkan reaksi lain

    Gadis berambut merah yang cemberut merengek dan cemberut enggan
    Gadis berambut merah yang cemberut merengek dan cemberut enggan (magnific.com/cookie_studio)

    Pernah gak, pas ngaca habis menangis, kamu nemuin mata yang mendadak merah atau kelihatan sembab? Hal ini wajar banget, kok. Pas kamu menangis, aliran darah ke area sekitar mata memang meningkat dan ada penumpukan cairan di jaringannya. Untungnya, efek merah dan bengkak ini cuma sementara dan bakal hilang sendiri seiring berjalannya waktu.

    Kalau kamu baru aja selesai menangis, coba deh lakukan hal-hal simpel buat bikin dirimu lebih nyaman, kayak minum air putih, cuci muka pakai air dingin, atau tarik napas dalam-dalam. Tapi, kalau kamu ngerasa belakangan ini sering banget menangis tanpa alasan yang jelas sampai bikin aktivitasmu berantakan, gak ada salahnya buat cerita dan konsul ke profesional kesehatan mental.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More