Asmir Gračanin et al., “Why Crying Does and Sometimes Does Not Seem to Alleviate Mood: A Quasi-Experimental Study,” Motivation and Emotion 39 (2015): 953–60, https://doi.org/10.1007/s11031-015-9507-9.
National Cancer Institute, “Stress and Cancer,” diakses September 2026.
Asmir Gračanin, Lauren M. Bylsma, and Ad J. J. M. Vingerhoets, “Is Crying a Self-Soothing Behavior?,” Frontiers in Psychology 5 (2014): 502, https://doi.org/10.3389/fpsyg.2014.00502.
World Health Organization, “Cancer,” diakses September 2026.
Apakah Menangis Bisa Membantu Mencegah Kanker?

Menangis dapat diikuti perasaan lega, tetapi belum terbukti mencegah kanker.
Hubungan stres dengan munculnya kanker masih belum jelas; manfaat emosional tidak otomatis berarti risiko kanker berkurang.
Pencegahan kanker perlu berfokus pada langkah yang didukung bukti, seperti menghindari rokok dan alkohol serta rutin bergerak.
Setelah hari yang berat dan emosional, air mata akhirnya tumpah saat seseorang bercerita kepada orang terdekat atau saat sendirian. Sesudahnya, perasaan mungkin menjadi lebih ringan. Namun, apakah rasa lega setelah menangis juga berarti tubuh lebih terlindungi dari kanker?
Menangis belum terbukti dapat mencegah kanker. Penelitian tentang menangis membahas kemungkinan manfaatnya bagi suasana hati dan pemulihan emosi.
Table of Content
1. Rasa lega setelah menangis tidak selalu langsung muncul
Penelitian dalam jurnal Motivation and Emotion membandingkan perubahan suasana hati pada 28 peserta yang menangis dan 32 peserta yang tidak menangis saat menonton film emosional.
Kelompok yang menangis justru mengalami suasana hati lebih buruk segera setelah film selesai. Namun, pada pengukuran 90 menit kemudian, mereka melaporkan suasana hati yang lebih baik dibandingkan sebelum menonton.
Temuan ini membantu menjelaskan mengapa seseorang bisa merasa lega setelah menangis, meskipun membutuhkan waktu. Namun, penelitian tersebut berskala kecil, tidak mengacak peserta untuk menangis atau tidak menangis, dan tidak meneliti kejadian kanker.
2. Mengurangi stres tidak otomatis berarti mencegah kanker

ilustrasi perempuan menyeka air mata dengan tisu (pexels.com/Liza Summer) Menurut National Cancer Institute, hasil penelitian tentang stres dan risiko kanker masih beragam. Sebagian menemukan hubungan, sementara penelitian lain tidak. Hubungan yang terlihat pun dapat bersifat tidak langsung, misalnya melalui kebiasaan merokok atau minum alkohol saat menghadapi tekanan.
Penelitian pada hewan dan sel di laboratorium juga menunjukkan bahwa stres kronis dapat memengaruhi pertumbuhan atau penyebaran kanker. Namun, temuan tentang perkembangan kanker tersebut tidak membuktikan bahwa menangis mencegah kanker pada manusia.
Karena itu, rasa lega setelah menangis tidak bisa dijadikan ukuran perlindungan terhadap kanker. Bukti yang ada juga tidak mendukung anggapan bahwa seseorang terkena kanker karena kurang menangis atau tidak mampu mengelola emosinya.
3. Menangis bukan detoks pencegah kanker
Ada anggapan bahwa menangis membantu mengeluarkan hormon stres dan zat berbahaya melalui air mata. Namun, tinjauan ilmiah dalam jurnal Frontiers in Psychology menjelaskan bahwa dugaan ini belum memiliki dukungan bukti yang kuat.
Penurunan hormon stres setelah menangis, jika terjadi, tidak otomatis berarti hormon tersebut dibuang melalui air mata. Peneliti membahas kemungkinan mekanisme lain, termasuk perubahan respons tubuh dan dukungan sosial yang diterima seseorang ketika menangis.
4. Fokus pada langkah pencegahan yang terbukti
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut risiko kanker dapat dikurangi dengan tidak menggunakan tembakau, menjaga berat badan sehat, rutin beraktivitas fisik, mengonsumsi makanan sehat, serta menghindari atau mengurangi alkohol.
Vaksinasi HPV dan hepatitis B sesuai anjuran serta perlindungan dari paparan ultraviolet juga termasuk langkah pencegahan.
Menangis dapat menjadi bagian dari cara seseorang mengekspresikan perasaan dan memperoleh dukungan. Namun, ini bukan pencegah kanker. Manfaat emosionalnya tetap berharga tanpa harus dianggap sebagai perlindungan terhadap penyakit.
Referensi
















![[QUIZ] Dari Kebiasaan Olahragamu, Kami Tebak Kamu Sudah Siap Ikut HYROX atau Belum](https://image.idntimes.com/post/20260711/3b12b7e9-1964-4f46-987d-335389a347c0_813eb20e-af68-4319-a7b7-f6b7b9c50718.jpeg)




