IRIS Kharg (431), yang merupakan kapal tanker pengisian bahan bakar armada kelas Ol yang dimodifikasi dari Angkatan Laut Republik Islam Iran. (commons.wikimedia.org/Hossein Zohrevand)
Penutupan Selat Hormuz akan memicu gelombang kejutan ekonomi global yang sangat dahsyat, terutama karena perannya sebagai jalur utama distribusi energi. Jika jalur ini terhenti, harga minyak dunia diprediksi akan meroket tajam melampaui $100 hingga $140 per barel, memicu inflasi ekstrem dan risiko resesi di berbagai negara pengimpor energi seperti China, Jepang, hingga negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat. Tidak hanya sektor energi, industri pelayaran dan perdagangan barang juga akan lumpuh karena biaya operasional dan asuransi kapal yang melambung tinggi, yang pada akhirnya membebani biaya hidup masyarakat di seluruh dunia.
Dari sisi geopolitik dan keamanan, tindakan penutupan selat ini dianggap sebagai "garis merah" yang dapat memicu respons militer besar-besaran dari Amerika Serikat dan sekutu internasionalnya. Meskipun Iran memiliki kemampuan militer asimetris seperti ranjau laut dan rudal untuk mengganggu pelayaran, penutupan total secara hukum internasional dianggap sebagai tindakan ilegal dan bisa menjadi "bunuh diri ekonomi" bagi Iran sendiri yang juga bergantung pada ekspor laut.
Selat Hormuz saat ini bukan sekadar jalur air biasa, melainkan urat nadi ekonomi dunia yang kondisinya kian memanas akibat meningkatnya tensi konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Mengingat peran vitalnya dalam mendistribusikan hampir sepertiga pasokan minyak dunia, gangguan sekecil apa pun di selat ini terbukti mampu memicu lonjakan harga energi dan mengguncang stabilitas pasar global secara instan. Menjaga agar jalur sempit ini tetap terbuka bukan hanya soal urusan politik negara-negara di Teluk, melainkan kunci utama untuk mencegah krisis ekonomi yang bisa berdampak langsung pada biaya hidup kita semua di seluruh dunia.